Jadi, Siapa Sebenarnya yang Menjual NU?

2,540 views

Jikapun saya bicara soal Nahdlatul Ulama (NU) bukan berarti saya paham. Mengaku menjadi orang NU saja saya tidak berani. Saya hanya orang yang lahir dan hidup di keluarga dan lingkungan yang sangat NU.

Nama NU belakangan sering disebutkan dalam gonjang ganjing politik, terutama ketika Pilkada DKI Jakarta.

Di facebook, beberapa minggu yang lalu saya menemukan seseorang yang sepertinya marah karena ada klaim yang menyatakan NU mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada. Ia mengaku jika dirinya dan keluarganya yang NU sangat membenci orang yang ditersangkut kasus penistaan agama tersebut.

Ia mengungkapkan itu seolah-oleh NU ‘dijual’ atau dimanfaatkan untuk kepentingan politik tententu.

Saat itu saya udah menaruh curiga jika sikapnya tersebut sebenarnya sedikit bias, sebab terlihat jelas ketidaksukaan dirinya terhadap Ahok dan juga kedekatan dirinya dengan salah satu calon gubernur yang lainya.

Dalam benak saya ada pertanyaan, nih orang marah ada klaim NU dukung Ahok karena tidak suka karena Ahok sebagai tokoh yang dibencinya dapat sokongan atau karena tak senang NU dipakai untuk urusan politik praktis?

Bagi saya, antara Nahdliyin dengan NU itu memiliki jarak. PBNU dengan warga NU punya rentang jarak yang cukup jauh dan bahkan mungkin tidak punya keterikatan kuat. Ada perbedaan NU Kultural dan NU Struktural.

Di wilayah akar rumput, orang-orang NU kultural sama sekali tidak tertarik dengan NU sebagai organisasi. Jiwa mereka NU, ritual kesehariaannya sangat Nahdliyin, akan tetapi mereka tak mengerti dan tak mau tahu apa itu PBNU apalagi organisas-organisasi sayapnya.

Mereka memang kenal Fatayat atau Muslimat namun hanya sebagai nama yang sering disebut saat mereka hadiri pengajian atau Banser sebagai elemen pengaman ketika pengajian. Mereka terkadang tidak paham apa itu PBNU.

Silahkan tanya ke Nahdliyin di pelosok-pelosok yang kehidupannya sangat dekat dengan ritual-ritual ala NU seperti Yasinan dan Tahlilan, namun belum tentu mereka tahu siapa ketua PBNU. Paling jauh yang mereka kenal adalah Kyai di daerah sekitar mereka hidup.

Bahkan ketika saya masih sekolah saya mendapati ada orang yang lahir dan besar di lingkungan NU, ia beribadah seperti orangtuanya yang Nahdliyin, namun karena dirinya tidak pernah mengenal Nahdliyin dalam bentuk organisasi, maka dirinya sempat bertanya: Aku ini NU apa Muhamaddiyah?

Kenyataan ini yang mungkin dilupakan oleh orang diluar NU bahkan juga oleh orang NU sendiri. Mereka mengira jika NU secara organisasi mempunyai kecenderungan dengan kepentingan politik tertentu maka otomatis Nahdliyinnya ikut selaras dengan kecenderungan tersebut.

Ini sebabnya teman di facebook saya itu begitu khawatir hingga akhirnya marah ketika ia mendengar ada yang mengklaim NU mendukung Ahok. Ia menunjukan bahwa itu tidak benar, salah satu buktinya adalah dirinya dan keluarganya yang warga NU tidak suka dengan orang yang tersangkut kasus penistaan agama.

Hingga akhirnya saya jadi menaruh curiga bahwa sebenarnya kemarahannya itu bukan sepenuhnya karena statusnya sebagai orang NU. Saya menangkap dia geram lantaran Ahok yang mendapat sokongan. Ahok sebagai lawan politik dari tokoh yang sedang didukungnya.

Ia sepertinya lebih khawatir calon yang didukungnya dikalahkan oleh Ahok dibandingkan masalahan NU-nya. Ketakutan utamanya bukan soal NU dibawa ke ranah politik, ia hanya tak ingin Ahok menang.

Kecurigaan saya itu berdasar pada sikapnya yang adem ayem aja melihat orang atau kelompok tertentu memperolok ritual-ritual orang Nahdliyin. Ia bisa begitu beringas ketika ada klaim NU dukung rival politik tokoh pujaanya, namun santai saja melihat kenyataan bahwa ada orang-orang tertentu yang memperolok Yasinan, Tahlilan yang sangat identik dengan orang Nahdliyin.

Padahal dirinya punya kedekatan secara emosional dengan pihak yang nyinyir terhadap ritual orang NU tersebut. Kedekatan yang sama maksud adalah sama-sama alumni Aksi 212 dan sejenisnya.

Jadi siapa sebenarnya yang sedang ‘menjual’ NU, kawan?

1 COMMENT

  1. baca ini saya tertegun. saya ini peduli NU-nya atau peduli sama orang2 yg di panggung politik merepresentasikan suara NU. toh di lingkungan rumah, golongan pengikis ritual keNUan makin banyak. heuheu.

    gara2 tulisan ini. menu sarapan saya jadi lebih menyentuh gini.. wkwkw

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here