Hambatan Bahasa jadi Penyebab Tingginya Tingkat Kematian Warga Asing di Jepang?

257 views
© japantimes.co.jp

LazNews! – Jepang selama ini dikenal sebagai negara yang canggih dengan sederet inovasi untuk berbagai hal, termasuk yang diciptakan untuk dunia medis. Akan tetapi, hasil data terkait kematian yang telah dipublikasikan baru-baru ini justru sangat mengejutkan, di mana angka kematian pada orang non-Jepang (orang asing) cukup tinggi dibandingkan dengan orang Jepang sendiri.

Menurut kementerian kesehatan di Negeri Sakura tersebut, angka kematian berdasarkan usia untuk pria dan wanita Jepang masing-masing mencapai 544,3 dan 274,9 per 100.000 orang pada tahun 2010. Sebaliknya, angka kematian pria dan wanita asing adalah 674,4 dan 349,6, per 100.000  orang. Sehigga berdasarkan angka ini kematian orang asing lebih tinggi dibanding pada angka kematian penduduk lokalnya.

Namun belum ada data statistik yang memperinci tentang penyebab tingginya angka kematian pada orang asing di Jepang. Takashi Sawada, seorang dokter dan direktur Pusat Medis Minatomachi di Yokohama mengatakan, bahwa tingkat kematian yang lebih tinggi pada orang asing mungkin karena adanya hambatan pada penguasaan bahasa asing dari setiap juru medis di negara tersebut.

Penyebab utama kematian secara umum di Jepang adalah akibat penyakit kanker, lalu diikuti penyakit jantung, stroke dan pneumonia. Sedangkan tingkat bunuh diri di antara pria Jepang  adalah 29,8 persen per 100.000 yang mana angka tersebut lebih tinggi dari pada pria asing dengan jumlah 27,5 persen.

“Kami baru saja melakukan pemeriksaan kepada salah satu penduduk asal Nepal. Seorang wanita berusia 30-an mengatakan bahwa dia tidak memiliki masa untuk hidup lebih dari 10 tahun. Parahnya, dia tidak pernah berkonsultasi dengan dokter di Jepang karena dia tidak akan mengerti apa yang akan dikatakan dokter tersebut. Sebenarnya kejadian yang sama sering terjadipada beberapa orang asing di Jepang,” ungkap Sawada, seperti yang dilansir oleh JapanTimes.co.jp (19/4/2017).

Survei yang dilakukan Japan Times terhadap penduduk asing pada bulan Februari menunjukkan banyaknya responden yang menyebutkan kurangnya pemahanan dan kemampuan untuk berbahasa asing menjadi sebagai salah satu kekurangan sistem perawatan kesehatan di Jepang.

Memang, Isu permasalahan bahasa mulai menjadi masalah utama di awal 1990an, ketika jumlah penduduk non-Jepang mulai meningkat  karena Jepang memperbolehkan orang asing berimigrasi,  seperti orang Brazil dan Peru yang memiliki keturunan Jepang.

Pada saat bersamaan, sampai akhir tahun 2000, sekitar 232.000 dari 710.000 pekerja asing di Jepang menjadi overstayer, karena mereka memilih untuk menetap di Jepang meskipun visanya telah kadaluarsa. Orang-orang ini jarang mendatangi dokter, kecuali jika mereka sakit parah karena mereka tidak memiliki asuransi kesehatan dan tidak mampu membayar biaya perawatan secara penuh.

Pada tahun 2000-an, pemerintah mulai mendeportasi overstayer secara massal, sehingga pada tahun 2016, jumlah overstayers telah turun menjadi 63.000 sementara populasi pekerja asing yang legal telah tumbuh, mencapai 1 juta untuk pertama kalinya. Sehingga penggunaan asuransi kesehatan bagi orang asing telah mengalami peningkatan.

Pada bulan Desember tahun lalu, telah didirikan sebuah Asosiasi Nasional untuk Penerjemah Medis yang hingga saat ini memiliki 66 anggota yang mampu berkomunikasi dengan menggunakan 12 bahasa asing. Kelompok ini berharap dapat membantu pemerintah mengatasi masalah tersebut, salah satunya adalah menjembatani komunikasi antara pasien dan praktis medis, sehingga dapat meningkatakan kualitas pelayanan medis di Jepang khususnya bagi orang asing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here