Memetik Pelajaran dari Topeng Monyet di Jepang

Ketika jalan-jalan ke sebuah tempat wisata di Jepang, saya tertarik pada suatu atraksi yang sengaja ditawarkan oleh pengelola tempat wisata tersebut. Pengunjung ditawari sebuah pertunjukan topeng monyet.

Secara umum topeng monyet di Jepang punya sedikit perbedaan dengan yang ada di Indonesia. Setidaknya sudah dua kali saya melihat topeng monyet selama tinggal di Negeri Sakura ini. Topeng monyet di tempat ini berpenampilan cukup rapi, bersih. Bukan hanya monyetnya, namun juga pawangnya. Berpakaian bersih, bahkan kali ini pawangnya punya wajah yang cukup enak dilihat.

Akan tetapi kali ini saya tidak membahas mengenai perbedaan topeng monyet di Jepang dengan apa yang ada di tanah air. Saya sekedar ingin mengulik tanya mengenai respon orang-orang saat melihat topeng monyet tersebut.

Pertama, monyet di hadapan puluhan penonton mempraktekan berjalan dengan egrang. Ia berjalan ke kiri dan kenana secara lincah mempergunakan alat yang biasa dipakai anak-anak bermain jangkungan tersebut. Penonton bersorak.

Sorak penonton semakin riuh ketika monyet tersebut melompati sebuah pengghalang setinggi 10 cm dengan menggunakan egrang.

Sang pawang kemudian melanjutkan aksinya. Ia kemudian memasang gawang seperti yang ada cabang olah raga lompat tinggi. Monyetnya kemudian di minta melompati gawang yang tingginya sama dengan tinggi badannya. Penonton kembali bertepuk tangan.

Riuh penonton semakin terlihat ketika sang monyet berhasil melompati gawang yang tingginya sekitar dua kali tinggi badannya.

Tepuk tangan dan ekspresi takjub nampak dari para penonton yang sebagian besar bukan bocah, namun orang dewasa dan kakek nenek.

Ketika penonton heran monyet pakai egrang saya masih maklum, di alam liar hanya monyet iseng yang pakai egrang. Melatih monyet untuk memakai peralatan yang secara alami bukan kebiasaanya adalah poin sendiri. Ini mungkin yang bikin penonton bertepuk tangan dan heran.

Namun saya kemudian jadi tak bisa memahami respon para penonton atas atraksi monyet melompati gawang yang tinggi. Apa yang menarik dari monyet melompat? meskipun ia melompat sangat tinggi, dua kali dari tinggi badannya, namun itu normal secara alamiah. Monyet memang bisa melompat seperti itu. Loncat dari satu pohon ke pohon lain saja sanggup.

Kenapa kemudian orang-orang heran dengan perilaku yang sbenarnya sangat normal tersebut?

Di dunia luar selain masalah topeng monyet juga terjadi fenomena ini. Masyarakat heran pada sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar saja. Beberapa bulan lalu ada yang menghebohkan sebuah foto petani yang sholat di pinggir jalan dekat sawahnya. Indonesia negeri mayoritas Islam, lantas kenapa foto orang sholat jadi sangat istimewa?

Dalam beberapa percakapan ada yang memuji seseorang, “Hebat, dia hakim yang jujur.” Saya bertanya-tanya, bukannya hakim itu harusnya jujur? Lantas apa yang membuatnya jadi hebat?

Penyataan serupa juga menggelitik hati saya, “Keren, Mas Adi itu polisi yang gak mau nerima suap.” Apanya yang keren? Bukannya polisi memang secara normal tidak boleh korupsi?

Standarisasi masyarakat kita memang jatuh pada titik yang sangat rendah. Hakim jujur jadi sosok langka, polisi yang amanah kemudian jadi sebuah kemewahan moral. Monyet melompat jadi tontonan yang menghebohkan.

Kita jadi gampang gumun pada sesuatu yang seharusnya tak ada yang istimewa.

Memang, secara sosial kita perlu memberikan apresiasi terhadap kejujuran hakim di tengah-tengah kualitas hakim lain yang dianggap tidak lagi dipercaya. Secara sosial kita memang harus memberikan pujian kepada polisi yang amanah, karena tentu sulit untuk bisa jujur di posisi dan kondisi yang punya potensi cukup besar untuk jadi maling.

Akan tetapi perlu kita sadari juga bahwa sebenarnya kita berada di standar yang paling rendah. Di titik batas yang paling bawah.

Saya kemudian jadi bertanya-tanya, bagaimana kita bisa punya cita-cita memiliki kehidupan sosial yang mulia, jika cita-citanya hanya pada level paling rendah?

….topeng monyet Jepang…

Posted by Lazuardi 'yoan' Ansori on Sunday, 9 April 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here