Kisah Simbah Tentang Hoka yang Bengal

329 views

Simbah bercerita mengenai seorang pria yang bengal. Suka mabuk, bikin onar, kerap mencuri dan mengganggu para gadis kampung.

Tak ada yang berani melarang, tak juga pula ada yang punya nyali untuk melawan pria nakal bernama Hoka ini. Lebih-lebih beredar kabar bahwa Hoka ini punya kedekatan dengan aparat keamanan. Hal yang membuat penduduk kampung tersebut yakin Hoka dilindungi adalah karena selalu tak diapa-apakan oleh aparat meskipun suka bikin ulah yang meresahkan.

Hingga suatu hari, Hoka yang sedang naik sepeda motor menyerempet seorang tukang sayur. Gerobak tukang sayur tergores sedikit, namun barang dagangannya tidak ada yang rusak satupun. Hanya saja si tukang sayur sempat terjatuh dan kaki kirinya terkilir.

Warga yang melihat insiden tersebut marah, terlebih melihat tukang sayur meringis kesakitan.

Seketika warga mengamuk dan menghajar Hoka. Ramai-ramai memukulinya hingga babak belur.

Pukulan dan tendangan kepada Hoka sebenarnya tidak sebanding dengan sedikit goresan di gerobak serta kaki yang cuma terkilir. Akan tetapi itu semua bisa terjadi karena luapan kejengkelan warga terhadap kelakuan Hoka selama ini. Melihat beringasnya warga, ini seperti sedang memanfaatkan situasi.

Tabungan kemarahan yang tersimpan sangat lama tiba-tiba ditumpahkan seketika dengan memanfaatkan insiden tersebut.

Warga luar kampung tersebut juga akhirnya ikut-ikutan menghajar Hoka. Warga luar sebenarnya tidak kenal Hoka, tidak pula mengetahui sejarah kelam pria tersebut di kampungnya.

Warga luar marah lantaran ada sebagian warga kampung yang mendramatisir insiden menyerempet gerobak tukang sayur.

Hoka kembali jadi bulan-bulanan, bahkan kali ini oleh orang yang tidak mengerti tentang kenakalannya.

Hoka jadi dibuat remuk, bahkan oleh pihak-pihak yang hanya bermodal rasa kasihan terhadap tukang sayur. Kecelakaan tersebut seakan-akan jadi peristiwa penganiaayaan terhadap kaum miskin.

“Menurut Simbah, menghajar Hoka itu benar atau salah?” tanyaku

Simbah tak langsung menjawab, ia menghela nafas sembari membenarkan posisi duduknya.

“Kamu kok tega nanya begitu ke aku, cung?” Simbah nanya balik dengan suara lembut.

Aku tak membalas, sekedar terus memperhatikan beliau. Aku kenal betul Simbah, sebentar lagi bakal diteruskan kata-katanya.

“Kalo lihat peristiwa-peristiwa begini jangan pakai kaca mata benar salah dulu. Apa kamu tidak bisa membaca pesan Tuhan dari peristiwa itu?”

“Maaf, Simbah. Mohon cucumu ini diberi petunjuk,” pintaku

“Cari sendiri, cung!” tiba-tiba Simbah mengunci pencakapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here