Ariel, Anis Matta dan Habib Rizieq

Ketika publik Indonesia dihebohkan oleh kasus Ariel, saya sempat dianggap orang yang pro terhadap kemesuman. Pasalnya, saya berpendapat jika polemik tentang Ariel itu sebaiknya tidak terburu-buru diseret ke ranah hukum.

Sikap saya itu juga merespon tingkah beberapa ormas yang begitu getol berdemo, bersuara lantang meminta musisi tersebut dihukum berat. Bagi saya, demonstrasi dan suara-suara memekik itu sudah berlebihan.

Sikap itu juga tidak berubah di pertengan tahun 2011 ketika muncul di media sosial sebuah video tak senonoh yang menamampak seseorang yang mirip dengan Anis Matta, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Saya memang kritis terhadap PKS, namun ketika ada beberapa orang membanding-bandingkan dengan kasus Ariel yang harus masuk ke ranah hukum, saya juga mengeluarkan pendapat bahwa hal tersebut tidak perlu.

Memang saya memahami ada beberapa teman sebenarnya rada gatel dengan perubahan sikap beberapa orang dari kelompok tertentu yang sangat antusias ketika meminta Ariel diseret ke penjara, sementara untuk kasus Anis Matta mereka malah terkesan membela. Padahal kasus itu bermula pada sebuah kata yang sama: “mirip”.

“Saya mencoba konsisten dengan sikap saya, tidak peduli itu Ariel, Anis Matta atau mungkin saja suatu saat Rizieq” penggalan tulisan yang pernah saya publish di Kompasiana pada tahun 2011.

Ternyata hal itu menjadi nyata setelah enam tahun. Bahwa Habib Rizieq Shihab terjerat sebuah kasus kemesraan.

Dan saya membuktikan jika sikap saya sama. Bahwa kasus ini tak perlu harus berlarut-larut, lebih-lebih sampai menyeretnya ke ranah hukum.

Bahkan khusus untuk kasus Habib Rizieq, saya sudah membuang jauh-jauh rasa penasaran tentang kebenaran perkara yang dituduhkan kepadanya. Karena pentolan Front Pembela Islam (FPI) tersebut kabarnya sudah ber-mubahalah.

Mubahalah itu membuat saya merasa wajib menyerahkan perkara ini ke Allah. Hilangkan semua curiga, prasangka dan sejenisnya.

Sudah tidak penting lagi apakah tuduhan itu benar atau salah, karena bagi saya itu sudah domainnya Tuhan ketika Habib Rizieq ber-mubahalah. Saya terus mengubur dalam-dalam rasa penasaran dan keinginan untuk menganilisis, mencari bukti dan lain sebagainya. Sebab, jika masih terbesit kemauan itu, itu sama artinya tak percaya dengan Tuhan.

Tentu saja apa yang saya yakini tersebut adalah untuk saya pribadi. Salah satu bentuk percintaan saya dengan Tuhan. Jika orang lain punya pandangan lain, saya tak pernah punya keinginan pula untuk menentangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here