Agama Itu Identitas atau Personalitas?

“Identitas merupakan sesuatu yang kita adopsi dari lingkungan yang sifatnya nurture, sedangkan personalitas merupakan sesuatu yang kita dapat tanpa bisa memilih yang sifatnya nature.” Sabrang (Kenduri Cinta, TIM, Jakarta, 9 Oktober 2015).

Kata-kata Sabrang ini kembali ke ingatan saya setelah heboh masyarakat mengenai artikel seorang remaja asal Banyuwangi berjudul “Warisan”.

Saya tidak ikut berkomentar mengenai Pancasila, kebenaran Tuhan dan lain sebagainya. Saya hanya tergelitik untuk memikirkan apakah agama yang kita peluk saat ini adalah personalitas atau identitas?

Personalitas sifatnya given, kita tidak bisa memilih. Warna kulit, suku, tanggal lahir dan sejenisnya yang sifatnya tak ada tawar menawar langsung ke diri kita adalah sebuah personalitas.

Sementara identitas adalah bentuk kreatif dari personalitas. Identitas terbentuk dari pergulatan dengan lingkungan dan juga dihasilkan dari pilihan-pilihan seseorang dalam menjalani kehidupan. Kita memilih masuk PKS atau PKB, menentukan kuliah jurusan kedokteran atau tekhnik sipil, bekerja jadi karyawan atau petani adalah bagian dari pembentukan identitas.

Bahkan ada yang menilai jika selama ini ada kesalahan dalam mempergunakan terminologi identitas dan personalitas. KTP, paspor dan sejenisnya semestinya bukan kartu identitas, melainkan tanda personalitas. Pasalnya yang dimuat di sana adalah ciri-ciri seseorang yang sifatnya given, golongan darah, tanggal lahir dan sejenisnya.

Bagaimana dengan agama?

Jika mempergunakan dasar terminologi tersebut tentu saja agama adalah sebuah identitas dan bukan personlitas. Bahwa benar seseorang banyak yang jadi muslim karena orangtunya beragama Islam, tetapi apakah selama perjalanan hidupnya tidak ada pergulatan-pergulatan batin dan akal pikir sehingga kemudian memantapkan seseorang untuk jadi muslim?

Belum lagi jika memakai kaca pandang agama adalah laku lampah kehidupan. Tidak sekedar sematan atau pengakuan diri yang tertempel di KTP, maka agama tidak bisa begitu saja jadi warisan.

Ketika Islam mejadi kata benda, maka dia jadi kaku. Sekedar jadi penanda agama yang dipeluk seseorang.

Akan tetapi, ketika Islam menjadi sebuah kata sifat atau bahkan kata kerja, maka yang dimaksud dengan Islam adalah tidak mencuri, tidak dzolim terhadap sesama, tidak menfitnah, bersikap sopan, membuang sampah pada tempatnya dan lain sebagainya.

Orang untuk tidak mencuri itu tidak seratus persen karena sifat warisan dari orangtua. Ketika menghadapi kesempatan untuk bisa nyolong, batin seseorang bergulat begitu keras untuk memutuskan apakah menjaga Islamnya atau kemudian menanggalkannya dan lantas berbuat dzolim.

Menjadi orang jujur itu identitas dan jadi diri yang terbentuk dari gerak batin dan juga akal pikir. Bukan sebuah personalitas yang diberikan begitu saja kepada kita, apalagi warisan.

Meski demikian, jika menggunakan sudut pandang tertentu yang sifatnya untuk diri saya pribadi serta sebagai bentuk romantisme saya dengan Tuhan, saya meyakini jika agama yang saya peluk ini adalah given dari Tuhan. Saya jadi seperti ini karena hanya menajalani lakon yang sudah ditetapkan.

Itu sebabnya, do’a kesukaan saya adalah: “Ya Allah, selamatkan aku dalam beragama”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here