Canda dalam Duka

Beberapa tahun lalu saya mengirim SMS ke teman. Intinya meminta maaf karena saat saya datang bersama rekan-rekan lain ke rumah dia untuk takziah, kami sempat melakukan tindakan yang mungkin dianggap kurang copan, yakni kebanyakan becanda.

Teman saya ini baru saya ditinggal bapaknya, saya dan kawan lainnya ke rumah duka sekaligus mengantar jenasah ke kubur. Namun selama di rumah duka dan di kuburan, beberapa diantara kami mengeluarkan lelucon-lelucon ringan hingga terkadang sampai tertawa, meski tak terbahak.

Sebab, sudah terbiasa bagi kami, termasuk yang bapaknya meninggal itu, jika bertemu selalu becanda. Gurauan-gurauan hampir pasti hadir di setiap kami berkumpul.

Saya waktu itu menyadari jika tingkah kami kurang layak. Di tengah situasi duka, kami masih sempat-sempatnya berkelakar.

Beruntung, teman saya tersebut membalas SMS saya dengan sebuah kalimat yang menentramkan hati. Ia memaklumi kelakuan kami, bahkan berterimakasih telah mau datang dan mengantar hingga kubur.

Beberapa tahun kemudian, setelah kejadian tersebut bapak saya yang meninggal dunia. Lebih dari sehari sebelumnya saya beserta keluarga harus menjalani sebuah momen sulit, menemani bapak di ICU.

Ketegangan serta berkecamuknya perasaan mengaduk-aduk pikiran dan hati ketika itu. Sesak dada saya menahan tangis.

Setelah bapak meninggal, dibawa pulang dan dimakamkan, saya beserta kerabat dan tetangga duduk di depan rumah. Beberapa diantara mereka becanda ringan. Ternyata canda-canda sederhana itu melumerkan suasana. Saya yang sudah beberapa waktu harus tegang tiba-tiba bisa tersenyum dan melepaskan semua kesesakan dada.

Alih-alih tersinggung dengan kelakar kerabat dan tetangga itu, saya malah bisa terhibur sekaligus membantu diri saya melepaskan diri dari kesedihan.

Apa yang saya alami ketika ke rumah teman yang kedukaan atau yang saya rasakan dari candaan tetangga saya saat bapak saya meninggal tersebut bukan sebuah pembenar bahwa ketika ada orang meninggal kita boleh bikin lelucon-lelucon.

Semua harus terukur serta mampu menakar kondisi sekitar. Karena batasnya sangat tipis antara memberikan hiburan kepada yang berduka dengan ketidakpekaan terhadap nuansa sedih yang sedang melanda seseorang.

Saya sendiri mengingat kisah-kisah tersebut karena hari ini saya mendapati seorang teman yang cukup luar biasa.

Kesehariannya yang memang periang serta sering becanda ternyata tidak hilang meskipun dalam kondisi baru saja ditinggal oleh istrinya. Ia harus jadi duda karena ibu dari anak-anaknya tersebut meninggal dunia karena sakit.

Di group Whatsapp banjir ucapan belasungkawa serta doa untuk dia. Hampir semua terkejut, pasalnya dia membalas ucapan dan doa itu dengan gaya bicara dia sehari-hari, dengan lelucon.

Saya dan juga banyak teman lain tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia bisa tetap berkelakar dengan kondisi masih berduka. Di tengah-tengah fenomena orang yang sering berkeluh kesah secara lebay hingga terkesan caper di medsos, sahabat saya ini masih bisa menahan diri untuk melakukan hal itu. Jangankan caper, ia malah menunjukann bahwa dirinya baik-baik saja.

Saya tidak tahu nuansa batinnya sebenarnya seperti apa, akan tetapi sikapnya yang mencoba tegar di ruang publik sungguh tak tertandingi.

Sebagian orang mungkin menganggapnya tak lazim dan bahkan berpotensi dinilai negatif, akan tetapi saya tidak pernah berani menjatuhkan kesimpulan seperti itu. Seperti dua kisah yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa dalam nuansa duka terkadang yang diperlukan adalah media melepaskan beban dan sesaknya dada oleh himpitan kesedihan.

Buat sahabatku yang luar biasa, saya hanya mampu berdoa. Termasuk berdoa untuk diriku sendiri untuk bisa tegar dan tidak pamer kepedihan diri di ruang publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here