Sebotol Bir Menjelang Puasa

223 views

“Silahkan duduk, Mas” Ali, anak Pak Slamet itu mempersilahkanku, dan aku pun duduk di kursi tamu sederhana, ruangan yang tidak terlalu lebar, hanya diisi sofa kecil serta meja kaca yang kelihatan mulai tua. Meski kecil, tetapi semua barang disana tertata rapi dan bersih, bahkan asbak pun kosong meski saya tahu Kang Slamet adalah perokok berat.

“Tadi bapak sudah telpon kalau, Mas akan datang. Tetapi karena bapak masih terjebak macet, Mas Bani disuruh menunggu” kata Ali yang aku jawab dengan senyum kecil dan anggukan.

“Mas, saya mohon maaf sebelumnya. Saya tidak bisa menemani Mas Bani karena saya ada keperluan mendesak. Mas Bani silahkan duduk di sini sendiri menunggu bapak, saya segera pergi” sambungnya. Aku sedikit canggung sebenarnya, di rumah orang sendirian tanpa tahu seberapa lama si pemilik rumah akan datang.

“Saya tunggu di luar saja, gimana?” aku coba bernegosisasi.

“Jangan, Mas. Pesan bapak, Mas Bani di minta di dalam rumah saja. Tidak apa-apa, paling juga sepuluh atau 20 menit lagi sampai”

“Oke” kataku tanda setuju. Aku tak bisa berbasa-basi lebih lama, malah akan menunda keberangkatan Ali yang terlihat butuh segera meninggalkan rumah.

Ali lantas masuk ke dalam. Tak sampai semenit dia keluar, sambil membawa sebotol minuman. Dan diletakannya botol yang sudah terbuka itu di meja yang ada di hadapanku.

“Silahkan, Mas. Saya tinggal dulu. Assalamualaikum” lantas bergegas Ali keluar rumah.

Aku tak segera menjawab salam itu. otakku berkecamuk atas apa yang terjadi di depanku beberapa detik lalu.

Bir. Anak Kang Slamet memberikan bir padaku!. Apa maksud Ali, ini? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam hatiku. Kang Slamet, seorang Ketua Rukun Warga yang di hormati orang kampung ini ternyata menyimpan bir di rumahnya dan menyuguhkan ke tamunya? Kang Slamet, yang terkenal alim mengajrkan anaknya untuk memberikan minuman haram ke tamunya?

“Assalamualaikum” Salam itu memecah rentetan lamunanku tetang bir.

“Waalaikum salam” jawabku lirih sambil menjabat tangan Kang Slamet. Dalam gelisah tentang bir, aku tak bisa membalas senyuman Kang Slamet dengan baik. Rasanya sulit menyembunyikan rasa penasaranku yang mungkin juga sudah pada level kemarahan dan rasa tersinggung atas sajian yang disodorkan kepadaku.

“Kok tidak diminum?” ujar Kang Slamet sambil melempar senyum. Tarikan bibir yang aku terjemahkan sebagai senyum menghina.

Aku tak menjawab pertanyaan tolol itu. Sorot mataku semakin dalam, kemarahanku seperti diuji. Jika bukan karena dia seorang yang di hormati, mungkin aku akan marah dan mengamuk sejadi-jadinya.

Sekali lagi Kang Slamet senyum. “Jangan marah dulu” sepertinya dia sudah membaca gerak tubuhku, bahwa aku sedang geram. “Sebelum kau teruskan kemarahanmu itu, coba jawab pertanyan-pertanyaku” sambungnya.

“Apa alasanya kau tidak minum?”

Aku sulit untuk menjawab itu, bagiku itu pertanyaan tolol. Tapi aku melihat, Kang Slamet punya maksud lain dengan pertanyaanya. “Maksud Kang Slamet bertanya itu apa? Itu bukan pertanyaan menurutku”

“Jawab saja, lah” kejarnya sambil terus mengumbar senyumnya.

Aku masih bingung arah pikiran Kang Slamet ini. Aku masih berusaha mencari jawab akan kemungkinan-kemungkinan akan tujuan dia. Tetapi dari senyuman, dan sorot mata Kang Slamet serta bahasa tubuhnya, aku merasa harus sedikit mengalah dan mengikuti permainan Kang Slamet ini, untuk bisa tahu jalan pikir dia.

“Karena haram” jawabku dengan nada agak ketus.

“Tegodakah kau tadi untuk mencicipinya, sedikit saja misalnya? Karena sepanjang hidupmu kau belum pernah merasakan minuman ini barang seteguk?”

“Aku tidak tergoda, sedikitpun aku punya pikiran untuk mencicipinya”

“Apa yang kau fikirkan tentang bir yang tersaji di depanmu?”

“Banyak”

“Kau berfikir sesuatu yang baik atau punya tebakan-tebakan buruk tetang kenapa ada bir di rumahku dan disajikan kepadamu?”

Aku diam tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih mencoba meraba-raba tentang arah pembicaraan ini.

“Kau sudah mantap tentang bir itu haram dan tidak boleh. Keimananmu soal alkohol haram dan tidak layak diminum sudah pada tingkatan super sehingga tidak sedikitpun kau tergoda atau bahkan terbesit dalam pikiranmu untuk mencicipinya. Walaupun jika kau cicipi seteguk saja tidak ada orang yang mengetahuinya”

“Lantas?” tanyaku

“Aku tahu tujuanmu kemari untuk mewakili beberapa temanmu yang tidak setuju tentang keputusanku mengijinkan warung-warung itu buka pada siang hari saat bulan puasa nanti, bukan?” Nada suara Kang Slamet sedikit memberat kali ini.

“Apa salahnya warung buka disiang hari?”

“Itu tidak menghormati kami yang puasa, Kang. Jelas itu” suaraku sedikit meninggi

“Kalimat ‘menghormati orang puasa’ itu dalil bagi yang tidak puasa. Bagi yang puasa menggunakan kalimat ‘menghormati orang yang tidak puasa’. Jangan dibalik-balik. Menghormati adalah sebuah tekanan ke dalam diri, bukan tuntutan ke pihak luar”

“Kita kan punya kesepakan untuk saling menghormati?” serangku.

“Nah, itu lebih kepada tuntutanmu ke dalam dirimu seberapa mampu mengendalikan diri untuk memilih tidak menuntut ke luar. Akan tetapi lebih pada memantapkan dirimu untuk istiqomah pada jalur selalu menghormati orang lain” dia menghela nafas, Kang Slamet semakin cepat bicaranya. Kemudian dia menyambungnya, “Contoh, ketika engkau sedang datang ke seseorang untuk meminta maaf, yang engkau tanamkan pada dirimu adalah bagaimana tetap dijalur ketulusan dan keiklasan dalam meminta maaf serta membangun kekuatan untuk menerima segala macam resiko atas hasil permintaan maafmu. Aatau, engkau lebih memilih berangkat ke orang akan dimintai maaf dengan dalil: ‘Tuhan saja Maha Pemaaf, masak engkau tidak bersedia memaafkanku’. Itu bukan meminta maaf namanya, itu nodong!”

Terpukul telak aku kali ini. Selama ini memang aku dan teman-temanku gencar untuk menutup warung-warung yang beroperasi disiang hari saat bulan puasa. Bahkan jauh-jauh hari sebelum bulan puasa seperti ini, aku dan beberapa pemuda lainnya sudah memberingan peringatan kepada pemilik-pemilik warung.

“Puasamu tidak akan pernah tergoyahkan hanya karena ada makanan di hadapanmu. Kau tidak punya keinginan meneguk alcohol ini karena kau sudah yakin bahwa ini haram. Warung buka atau tidak, selama kau jaga puasa dan keimananmu maka tidak ada yang terganggu” sambung Kang Slamet dengan nafas yang agak tersengal.

“Tapi, Kang”

“Tapi apa lagi?” dia memotong kalimatku. “dua puluh menit engkau di ruang tamuku, tidak ada orang disekitar sini. Kenapa kau tidak masuk ke kamarku, mungkin bukan mencuri tapi minimal kau akan tahu bagaimana kamarku dan apa yang aku sembunyikan dari masyarakat diruang pribadiku? Kenapa kamu tidak ingin tahu?”

“Karena itu wilayah privasi Kang Slamet”

“Nah! Kamu sudah paham soal sampai di mana kau punya batasan masuk ke wilayah orang lain. Saat anaku mempersilahkan engkau berada diruang ini, tidak sedikitpun kau berusaha memasuki wilayah lain yang tidak diijinkan, karena kau takut melanggar wilayah pribadi orang lain yang tak perlu engkau ketahui”

“Sekarang aku tanya kau lagi. Apa yang ada pikiranmu ketika anakku menyajikan bir ini kepadamu? Apakah praduga-praduga buruk yang menguasai alam pikirmu, ataukah kau berusaha sekuat tenagamu untuk bersangka baik?”

Aku hanya merunduk, tak menjawab tanya itu.

“Kau mengumbar hati dan pikiranmu untuk berperasangka buruk hanya karena disajikan bir. Alam pikirmu sudah menjelajah ke puluhan, ribuan praduga-praduga negatif. Padahal engkau bisa membuka hatimu dan mendorong akalmu untuk menjagamu tetap berada pada lingkaran-lingkaran batin yang bersih, dengan tetap berfikir positif”

Sekali lagi aku terasa tertampar oleh ceramah Kang Slamet ini. Aku merunduk jauh lebih dalam.

“Puasamu hanya pada sampai level makanan warung, soal perutmu. Sementara engkau masih rakus dengan kedengkian, fitnah dan praduga-praduga hitam. Engkau sedang syiar tentang puasa, atau sedang memperhinakan puasa itu sendiri? Kau kira puasa soal rasa lapar di perutmu itu, hah?” suara Kang Slamet semakin parau dan bernada meninggi.

“Kau bilang puasa melawan hawa nafsu. Seorang ksatria akan melawannya dengan fair, saat ini engkau berlaku selayak pengecut yang memilih melucuti senjata lawan sebelum ke medan perang. Pertempuran model apaan itu?” Lanjut Kang Slamet dengan nada sinis.

“Puasa juga tentang menjaga diri agar tetap berada pada batas-batas sangka baik. Berpuasalah hati dan pikiranmu sehingga praduga-praduga buruk itu menjauh dari hatimu. Mereka buka warung sama sekali tak perlu ditanggapi sebagai menghina puasa atau tak hormat pada Romadhon. Engkau tak perlu memperhinakan orang lain hanya agar bulan puasa terlihat kesuciannya. Ini bulan terhormat tanpa perlu engkau repot-repot cari penghormatan” Kang Slamet menurunkan tempo bicaranya dan membenarkan posisi duduknya.

Aku sama sekali tak bisa berucap apa-apa. Mulut terkunci, keringat menetes di senja yang tak panas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here