Afi Nihaya Faradisa Dipaksa Pecahkan Karang

Afi Nihaya Faradisa, Kamis (1/6/2017) mendapat mimpi buruk. Ia dihantam tuduhan telah memplagiat tulisan seseorang bernama Mita Handayani. Sedari pagi timeline Facebook saya banjir komen, prasangka-prasangka, pembelaan hingga cercaan.

Jauh sebelum kasus ini meledak saya sempat menulis status bahwa alangkah bijaknya jika tidak merespon secara berlebihan gadis yang masih berusia 18 tahun tersebut.

Merespon berlebihan yang saya maksud adalah respon negatif dan juga positif. Seperti tidak perlu mengkritiknya secara tak sopan atau pun memuji-muji secara tak proporsional.

Sebab, secara tidak langsung, apa yang diunggah membuat Afi masuk dalam sebuah pusaran masalah yang memang sedang sangat pelik.

Perselisihan dua kutup yang semakin meruncing hari demi hari dan lantas anak remaja asal Bayuwangi ini tiba-tiba didorong-dorong sedemikian rupa untuk turun ke medan pertempuran yang teramat keji.

Bukan sok bijak, akan tetapi seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya jika jauh sebelum kasus penjiplakan ini terjadi saya memang tidak setuju bocah ini diperlakukan sedemikian itu. Dipuja satu pihak dan dicerca pihak lain.

Tapi ternyata angin semakin kencang, arus begitu deras menyeret-nyeter Afi hingga akhirnya benar-benar terjun ke medan pertempuran. Masuk koran, televisi hingga akhirnya bersua Presiden dan menteri.

Gadis dengan paras terlihat lugu ini kemudian mendapat banyak sokongan dari intelektual dan aktivis perkotaan.

Pujian dan gegap gempita masyarakat akan dirinya secara tidak langsung telah membebani dirinya dengan sebuah beban yang diluar kendalinya. Hingga akhirnya ia terjermbab oleh kasus penjiplakan dan membuat akun Facebooknya lenyap.

Mita sendiri buka sosok yang baru saya kenal. Sejak bertahun-tahun lalu saya sudah sering membaca tulisan serta argumen-argumennya.

Berdasarkan penilaian saya dari sikap Mita selama ini, saya sempat menduga Mita akan mengorbankan dirinya. Ia akan mengaku sebagai pihak yang menjiplak dan menyelamatkan muka Afi.

Saya melihat gelagat keraguan Mita dari sikapnya yang tidak langsung merespon, ia bahkan diduga berusaha menyembunyikan postingan yang diperkarakan tersebut. Awalnya di set sebagai tulisan yang bisa dilihat publik secara terbuka diganti dengan hanya temannya saja yang bisa mengaksesnya.

Sedari pagi kasus bergulir, Mita memilih diam. Tebakan saya dia sedang menimbang-nimbang banyak hal dan mungkin juga berkomunikasi dengan beberapa pihak.

Hingga akhirnya Mita menyatakan jika itu tulisannya dan memberikan pemakluman terhadap Afi.

Sebenarnya saya tidak terlampau ingin tahu apakah benar itu jiplakan atau bukan. Sama sekali bukan konsen saya. Prediksi saya mengenai Mita juga berasal dari harapan saya Mita berfikir lebih jauh mengenai psikis dari Afi.

Mau bagaimanapun, saya merasakan jika Afi masuk ke ranah yang sangat sensitif ini tidak murni dari jalan pikirnya sendiri. Media dan juga gegap gempita masyarakat (dan sangat mungkin ada pihak-pihak tertentu yang punya andil dalam situasi ini) membuat Afi terjerumus dalam sebuah polemik nasional yang saya teramat yakin dia tidak paham-paham amat.

Sudah sedemikian tega kita? Remaja itu harus menerima kekecewaan yang teramat dalam. Ia dilenakan oleh puja puji yang berlebihan dan kemudian dalam sekejap ia harus menerima cercaan yang cukup menyakitkan.

Afi akan tetap akan dibela dalam beberapa waktu yang akan datang. Ia akan masih menerima pujian dari beberapa pihak. Namun yakinlah jika itu tidak akan berlangsung lama. Tidak akan memakan banyak waktu, Afi bakal kehilangan mereka yang sebelumnya memujinya.

Dari pihak lain, Afi harus menelan resiko yang tak tanggung-tanggung. Sebab, kubu yang berseberangan dengannya dan juga sebagain besar masyarakat kita sangat suka merayakan kehinaan orang lain. Kejadian ini seakan wajib untuk dipestaporakan.

Selamat datang, Afi Nihaya Faradisa. Selamat bergabung dibengisnya kehidupan nyata.

Seorang teman di Facebook mengunggah penggalan lirik lagu dari Iwan Fals untuk menanggapi kasus ini.

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu kerkepal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here