Jangan Pernah ada Lomba Toleransi dengan Muslim Indonesia

Dok: FB Nfn Risnandar

Warga muslim di Kumamoto, Jepang berasal dari berbagai negara. Pakistan dan Indonesia merupakan negara penyumbang jumlah warga muslim paling tinggi di Kumamoto. Selain dua negara itu, ada muslim yang datang dari beberapa negara lain, misalnya Malaysia, Bangladesh, Afganistan, India, Mesir, Arab Saudi dan lain-lain.

Muslim yang berasal dari Indonesia hampir semuanya adalah pelajar. Ada beberapa orang yang tinggal dan menetap di Kumamoto lantaran memilki istri orang Jepang, akan tetapi jumlahnya tidak banyak.

Sementara itu, muslim yang berasal dari Pakistan kebanyakan adalah pengusaha. Mereka tinggal dan memiliki bisnis di Jepang.

Mungkin hal tersebut yang kemudian menjadi dasar kenapa ketika bulan puasa seperti sekarang ini, komunitas Pakistan lebih punya banyak jatah untuk memberikan buka puasa bersama di satu-satunya Masjid di Kumamoto. Mereka lebih punya keleluasaan rejeki dibandingkan yang dari Indonesia yang hampir semuanya mengandalkan beasiswa.

Hampir sepanjang bulan komunitas Pakistan yang menyediakan buka puasa. Teman-teman dari Indonesia hanya punya dua kali kesempatan untuk bisa memberikan buka puasa bersama di Masjid Kumamoto.

Menu buka puasa di Masjid Kumamoto setiap harinya tidak akan jauh dari makanan khas Pakistan dan negara-negara tetangga mereka. Santapan utama yang disajikan tidaklah jauh dari Biryani dan Kare, baik kare yang dihidangkan dengan Nasi Basmati maupun dengan Roti Nan.

Lapangnya hati muslim Indonesia

Beberapa hari lalu teman-teman dari Indonesia membahas mengenai pembagian tugas memasak serta menu yang disajikan untuk buka puasa bersama.

Saya sempat nyeletuk, bersaran agar menyajikan soto atau makanan khas lain dari Indonesia. Namun ternyata usulan saya itu segera dipatahkan karena mereka mempertimbangkan soal selera makan orang-orang yang bukan dari Indonesia. Meraka berkaca dari pengalaman sebelumnya bahwa jika mereka dimasakan makanan Indonesia maka makanan tersebut tak dijamah dan akhirnya jadi mubazir.

Akhirnya diputuskan tetap memasak makanan yang mirip-mirip dengan makanan Pakistan, hanya agar nantinya teman-teman dari negara lain berkenan untuk memakannya.

“Kamu tahu apa makna dari kamu masak makanan Pakistan ini?” saya bertanya kepada salah satu teman yang memasak.

“Ini adalah bukti keluasan hati muslim Indonesia. Dalam sebulan kita hanya punya kesempatan dua kali saja memasak, itu tidak kita paksakan pihak lain memakan makanan yang mereka tidak suka,” saya meneruskan.

“Sementara kita, orang Indonesia cukup punya kekuatan dan kelapangan hati, sehingga bisa selama sebulan penuh memakan makanan yang secara kultur sangat jauh dari selera orang nusantara,” terangku.

“Jangankan Biryani, orang Indonesia bisa makan nasi aking, nasi jagung dan lain-lain,” candaku yang kemudian disusul tawa mereka.

Bagi saya, peristiwa ini memberikan gambaran bahwa sebenarnya muslim Indonesia itu jangan pernah diadu soal toleransi. Kita lulus dengan sangat memuaskan. Berbesar hati untuk tidak memaksakan kehendak meski secara jumlah bukan minoritas, akan tetapi lebih memilih untuk ‘mengalah’ daripada mendapatkan mudhorot yang lebih tinggi.

Jangan pernah ada lomba toleransi dengan muslim Indonesia, lebih-lebih dengan negara-negara muslim lainnya. Kita pasti juara.

Orang dari negara lain belum tentu bisa menerima dengan baik sesuatu yang tidak dari kultur dan kebudayaanya. Akan tetapi, daya adaptasi muslim Indonesia cukup bagus. Mau makan nasi padang, oke. Ada Biryani juga dilahap.

Sekali lagi saya tekankan, soal toleransi jangan sekali-sekali meragukan muslim Indonesia.

…Buka Puasa Bersama, Masjid Kumamoto (5/6/2017)…

Posted by Lazuardi 'yoan' Ansori on Tuesday, 6 June 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here