Penceramah yang Dangkal Wawasan atau Sempit Hatinya?

323 views

Sebagian pendapat ulama membolehkan, sebagian pendapat ulama lagi tidak menyarankan. Kesimpulan: silahkan bisa diambil keduanya, sama benarnya,” tulis seorang teman diakhir penjelasannya di sebuah diskusi beberapa hari yang lalu.

Kalimat itu membuat saya teringat ketika masih kecil, saat membaca majalah atau koran yang ada rubrik tanya jawab agama. Biasanya di akhir jawaban akan ada pernyataan seperti itu.

Ketika seorang bertanya, maka jawaban yang dipaparkan dalam rubrik tanya-jawab di majalah tersebut biasanya cukup lengkap. Ia akan menerangkan dari berbagai sudut pandang. Menurut ulama A seperti ini, menurut ulama B seperti itu. Mahzab C begini, Mahzab D begitu, dan seterusnya.

Penjawab menyadari jika media yang dipakai adalah majalah atau koran, di mana pembacanya sangat heterogen, bisa berasal dari berbagai kalangan dan berbeda-beda kecenderungan beragamanya.

Kecuali jika itu adalah majalah internal kelompok atau organisasi tertentu yang sejak awal jelas mahzab atau kecenderungan keberagamaan yang dianutnya.

Kesadaran akan media yang dipakai untuk menjawab serta keluasan hati untuk bersedia memaparkan berbagai sudut pandang dari bermacam-macam ulama kini sudah sulit ditemukan.

Sekarang rubrik tanya-jawab di media (terutama online) sangat jarang yang bersedia menjawab dengan metode seperti yang saya sebutkan di atas. Kini, kebanyakan penceramah yang bertebaran di Youtube lebih sering menjawab menurut kebenaran versi mahzab yang dianutnya. Parahnya, tidak sedikit yang secara terbuka menyalahkan ulama atau kelompok lain yang tak selaras dengan keyakinannya.

Saya kurang tahu kenapa penceramah-penceramah sekarang, di ruang publik hanya menjawab dari keyakinan dirinya, tanpa punya kesediaan menjelaskan dari sudut pandang ulama lain yang tak sama denganya.

Ego, takut jamaahnya mengikuti ulama lain? Atau sebenarnya ini tentang ketidaktahuan dan kurang wawasan dengan pendapat-pendapat dari mahzab yang berbeda?

Saya sering ‘menegur’ teman-teman yang share video atau tulisan di media sosial yang isinya soal menyalahkan kepercayaan orang lain. Mereka berdalih bahwa yang dilakukan adalah dakwah, akan tetapi bagi saya itu tidak lebih dari pamer kedangkalan wawasan atau sempitnya hati.

Mereka biasanya saya sarankan untuk ‘piknik’ ke kitab ulama yang berbeda padangan atau mengikuti kajian-kajian kyai lain yang tidak selaras dengan keyakinannya. Hal itu penting agar terbukanya pikiran dan kemudian bisa memahani kenapa orang lain berbeda. Pelajari keyakinan orang lain bukan untuk pindah kepercayaan, akan tetapi untuk bisa menemukan alasan kenapa pihak lain tak sama.

Kini muncul fenomena di mana kalo sudah menyampaikan kebenaran versinya, maka orang lain yang tidak sama dengannya itu dianggap goblok semua. Saya terkadang berfikir, apakah mereka menganggap ulama-ulama lain yang tak sama dengannya itu tidak pernah belajar agama? Ini nuansa sombongnya teramat kuat.

Bahkan beberapa waktu lalu saya melihat video penceramah yang menyarankan agar jamaahnya tidak segan menyalahkan kebiasan orangtua mereka yang dianggap bid’ah. Maaf, bagi saya ini sudah keterlaluan. Ia seperti menganggap orangtua jamahaanya itu tolol semua sehingga melakukan sebuah amalan tanpa ada acuan dari ulama lain. Penceramah model begini yang kemudian membuat terjadi beberapa kasus di mana anak-anak pulang ke kampungnya lantas menghardik bapak ibunya yang menjalankan ritual yang dianggapnya bidah.

Silahkan meyakini sesuatu, mengamalkan sesuai dengan yang dipercayai. Akan tetapi ketika menguar sesuatu di ruang publik, minimal bekali diri dengan pengetahuan mengenai bagaimana pihak lain mejalankan amalan-amalan sesuai dengan kepercayaanya.

Kita boleh merasa benar, akan tetapi kebenaran yang dipeluk tak perlu dibangun dengan jalan menginjak-injak keyakinan orang lain, meruntuhkan kepercayaan pihak lain atau bahkan sampai memperhinakan amalan-amalan golongan yang berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here