Minta Maaf Saat Idul Fitri pun Kini Dipersoalkan

1,169 views

Beberapa waktu belakangan muncul sebuah tulisan di Facebook maupun forum-forum diskusi seperti group Whatsapp yang berisi tentang kebiasaan maaf memaafkan di waktu Idul Fitri adalah kekeliruan.

Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan: “MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”. Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf. Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri…” kata-kata yang tersemat dalam postingan tersebut.

Pada postingan tersebut juga disebutkan jika dalam Alquran dan Hadist tidak ada yang menunjukan jika pada saat Idul Fitri harus minta maaf.

Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita. Tidak ada satu ayat Qur’an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, ucapan khas lebaran yakni Minal Aidin Wal Faidzin juga tak luput dari sorotan.

Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan : “MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN”. Arti dari ucapan tersebut adalah : “Kita kembali dan meraih kemenangan”. KITA MAU KEMBALI KEMANA? Apa pada ketaatan atau kemaksiatan? Meraih kemenangan? Kemenangan apa? Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?” tulisan selanjutnya.

Di Facebook malah postingan ini disertai sebuah meme yang berisi tulisan “Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Batin” dicotet tanda silang merah.

Geleng-geleng kepala saya melihat postingan itu. Saya masih belum bisa bayangkan, orang minta maaf pun direweli. Duh, Gusti.

Dia bilang minta maaf bisa kapan saja, tidak harus pada Idul Fitri. Kalo pake logika ini, kapan saja itu termasuk ketika Lebaran, bukan? Jadi apa masalahnya kalo ketika momentum Idul Fitri seseorang punya amalan yang mulia, meminta maaf dan bersilaturahmi?

Pendekatan dalil pun kenapa juga pakai sudut pandang yang begitu nyinyir? Menyebutkan jika dalam Alquran dan Hadist tidak ada ajaran yang mengharuskan minta maaf pada saat Lebaran.

Kenapa bukan pakai pendekatan yang lebih jernih? Yakni dengan memakai pedoman: dalam Alquran dan Hadist tidak ada larangan saling meminta maaf saat Idul Fitri, maka biarkan saja yang punya kebiasaan seperti itu.

Mengkritisi kalimat Minal Aidin dan seterusnya dengan memberi pemaknaan yang menurut saya cenderung menggunakan prasangka buruk.

Kembali ke mana? Kemenangan apa?” katanya.

Pertanyaan itu bisa punya jutaan peluang jawaban. Tinggal pilih mau pakai yang cenderung negatif atau positif. Bisa dijawab kemali ke jalan Tuhan, atau kembali ke kemaksiatan dan lain sebagainya. Tergantung kebersihan hati saja untuk menilainya. Kalau saya, masih pakai prasangka baik dan pikiran jernih bahwa yang dimaksud kembali menjadi suci, setelah dosa diampuni Allah, kini giliran mensucikan diri dari dosa sesama manusia.

Banyak jawaban positif yang bisa diberikan jika memang bukan sinis yang dikedepankan.

Bahwa selama ini banyak yang salah sangka dalam menterjemahkan Minal aidin wal faidzin berarti mohon maaf lahir batin, bagi saya bukan sesuatu yang prinsip. Berapa banyak diantara kita istilah-istilah atau bahkan doa berbahasa arab yang sebenarnya tidak dimengerti dengan benar oleh masyarakat.

Saya sendiri pernah menyuarakan soal mispersepsi mengenai arti kalimat itu. Saya sudah menulis soal itu semejak tahun 2010 lalu. Namun nuansa yang saya sodorkan bukan menyalah-nyalahkan, hanya memberikan sentilan ringan yang mungkin bisa membuat orang lain mempelajari sendiri.

Karena bagi saya, secara tak langsung orang Islam di Indonesia sudah sering mendengar ceramah dari kyai mereka mengenai sejarah dan maksud dari bersilaturahmi dan saling bermaaf-maafan selama lebaran.

Selanjutnya, salam postingan tersebut juga disebutkan jika ucapan yang benar selama Idul Fitri adalah: “Selamat Idul Fitri. Taqobbalallahu minna wa minkum

Pada bagian akhir juga disebutkan jika postingan itu sejatinya sekedar syiar. “Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki.

Postingan ini mengingatkan saya pada petuah dari Simbah Guru saya. Beliau menyebutkan jika masyarakat kita terlalu sering disodori pertanyaan-pertanyaan multiple choice.

Kita terbiasa menghapi pertanyaan: Ibu Kota Jawa Timur adalah? A. Surabaya; B. Semarang; C. Makassar.

Pertanyaan tersebut hasilnya, A mutlak benar sedangkan B dan C mutlak salah.

Padahal dalam berkehidupan tidak seperti itu yang dihadapi. Kita akan sering berhadapan pertanyaan-pertanyaan: Makanan Apa yang Paling Anda Suka?

Pertanyaan ini akan memunculkan banyak jawaban yang beragam. Setiap individu punya pilihan masing-masih beserta alasannya. Bahkan ada yang sama-sama suka rawon pun belum tentu memiliki alasan yang serupa.

Kalian mau pakai Minal Aidin atau Taqobbalallahu minna wa minkum ya biarkan saja, semua ada alasannya. Bagi yang suka sambel pecel, tak perlu memaki yang makan sambel tomat. Kita bisa sama-sama makan dengan sambal yang berbeda dalam satu meja, bukan?

Makan jangan pongah dengan menyebut-nyebut tentang hidayah kepada orang lain yang kita dakwahi. Pelajari dulu sejarah dan alasan-alasan orang lain dalam menjalankan amalan-amalan itu. Karena jangan sampai yang butuh hidayah itu bukan mereka, tetapi kita.

Kebenaran versi kita belum tentu sejalan dengan kebenaran versi pihak lain. Kita boleh tak sama, namun tak pernah ada pembenaran buat merendahkan keyakinan orang lain. Terlebih sampai menguarnya di ruang publik.

Jika memang malas untuk mempelajari dasar-dasar amalan pihak lain, maka sebaiknya tahan diri, hindari pamer kesombongan dengan cara mengusik pihak yang tidak selaras dengan kita.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here