Rindu yang Memuncak Saat Takbir Idul Fitri Menggema di Jepang

315 views

Bagi saya pribadi, sudah sangat sering berlebaran di tanah rantau, Setidaknya dalam 17 tahun terakhir saya lebih banyak merayakan Idul Fitri di kampung orang dibanding kampung sendiri. Jauh dari sanak keluarga, hanya bersama teman dan kenalan di daerah yang sangat jauh dari kampung halaman. Meski demikian, tetap saja tak bisa membuat saya bisa membendung rasa rindu ketika malam takbir tiba, saat sholat Idul Fitri diselenggarakan.

Ini menurut pendapat saya sebuah rasa yang normal, kangen dengan keluarga. Jangankan seperti saya yang berada di negeri seberang, terkadang satu provinsi saja ada yang merasa ‘wajib’ untuk mudik. Mengobati rasa rindu, mengenang masa kecil atau sekedar tak mau kehilangan momentum untuk bertemu sanak keluarga.

Saya sudah dua tahun di Jepang, ini adalah lebaran kedua saya di negeri Sakura ini. Di sini saya bersama anak dan istri berlebaran bersama teman-teman muslim dari Indonesia yang jumlahnya cukup banyak. Melaksanakan sholat di Masjid Kumamoto bersama komunitas-komunitas muslim dari berbagai negara lainnya.

Meski semua nampak bergembira, bersuka cita, tetapi saya bisa merasakan betapa mereka kangen dengan Tanah Air. Jika bisa memilih, saya percaya sebagian besar dari mereka ingin berlebaran di Indonesia.

Saya memperhatikan para pekerja magang yang usianya rata-rata sangat muda, ada raut wajah gelisah. Wajar, saya juga demikian dulu ketika masih seusia mereka dan pertama kali harus merayakan Idul Fitri tak dengan keluarga dekat.

Akan tetapi saya rasa mereka cukup beruntung tahun ini. Sebab 1 Syawal bertepatan pada hari Minggu, (25/6/2017). Para pekerja itu bisa melaksanakan sholat Id karena libur, sebab belum tentu mereka bisa dapat ijin jika lebaran bertepatan dengan hari aktif.

Suasana Masjid Kumamoto kali ini sedikit berbeda dengan tahun lalu. Pada tahun 2016, baik pada saat Idul Fitri maupun Idul Adha, jumlah orang Indonesia yang melaksanakan sholat Id tidak sebayak tahun ini. Kali ini, perkiraan saya lebih dari 60 persen jamaah sholat berasal dari Indonesia.

Kesempatan ini membuat suasana takbiran menjelang Sholat Id sedikit berbeda dengan takbiran tahun lalu. Biasanya, takbiran akan menggunakan langgam Pakistan atau Afganistan, namun tahun ini berbeda. Karena banyaknya orang Indonesia, maka takbiran kali ini seperti di Tanah Air iramanya.

(Foto: FB Marlo Jonosisworo)

Entah banyak yang sadar atau tidak, tetapi bagi saya ini cukup menggembirakan. Sedikit mengobati kerinduan kepada kampung halaman yang biasanya ketika takbiran seperti itu berada dititik tertertinggi. Rasa kangen membuncah saat takbir bergema, dilantunkan bersama-sama dengan nada yang sangat akrab.

Ini bukan soal tidak suka dengan langgam takbir dari negara lain. Hal itu juga bisa menambah khasanah pengetahuan bagi saya. Akan tetapi dalam nuansa kebatinan seperti lebaran terkadang butuh kesamaan ‘frekuensi’ sehingga lebih mudah merasuk, lebih gampang menyentuh hati.

Bukan bermasud tak bersyukur, akan tetapi jika boleh berandai-andai, saya menghayalkan seusai Sholat Id kemarin yang disuguhkan ke jamaah bukan makanan ala Pakistan, tetapi makanan khas nusantara yang bisa disajikan saat lebaran di Indonesia, tentu sempurna kegembiraan mereka. Takbiran sudah nagom Indonesia, makananya juga bernuansa nusantara, wow.

Berlebaran di tanah seberang memang penuh suka duka. Bergembira namun juga menyelipkan kerinduan yang begitu dalam. Ini yang terkadang membuat beberapa perantau mencoba memanjakan diri, bermelankolis dengan keadaan. Mencoba untuk mencari-cari sesuatu yang bisa membuat perasaan tak terlalu jauh dari kebiasaan-kebiasaan di kampung halaman.

Semoga tahun-tahun berikutnya, teman-teman muslim Indonesia bisa menangkap hal ini dan kemudian membuat sesuatu yang bisa membikin para perantau ini bisa sedikit mengobati kerinduan dengan kampung halaman.

Selamat Idul Fitri, Taqoballahu minna waminkum. Mohon maaf atas segala kesalahan dalam perkatan dan perbuatan saya.

…Alhamdulillah, Takbir bergema di Jepang…#Kumamoto#MuslimJapan#IedMubarak

Posted by Lazuardi 'yoan' Ansori on Saturday, 24 June 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here