Laundry Khusus Seiman

256 views

Semakin hari semakin kesulitan untuk menterjemahkan apa itu toleransi dan intoleransi. Masyarakat ini rasanya semakin sulit membedakan wilayah-wilayah mana yang harus dipandang dengan kacamata toleransi dan mana yang semestinya ditakar sebagai sebuah peristiwa biasa saja.

Baru-baru ini di Instagram ada seseorang memposting percakapan dirinya dengan pemilik laundry langganannya. Singkat cerita, pemilik laundry tak mau lagi menerima pekerjaan darinya karena masalah keyakinan.

Pelanggan terkejut, pasalnya dirinya telah menjadi pelanggan setia selama enam tahun dan selama ini tidak ada masalah.

Hal lain yang diungkapkan oleh pemilik laundry adalah pelangganya tersebut memelihara anjing di rumahnya. Itu menjadi salah satu sebab penolakan.

Saya mencoba untuk tidak ambil peduli apakah kasus ini nyata atau tidak. Karena tetap ada kemungkinan jika postingan ini hanya sebuah rekayasa dengan tujuan-tujuan tertentu. Walaupun juga tetap punya peluang benar adanya.

Akan tetapi yang menjadi sorotan saya adalah kolom komentar yang kemudian cenderung tendensius. Bahkan orang yang memposting pun menyematkan sebuah caption yang kalo boleh saya terjemahkan sebagai usaha untuk memancing komentar untuk menyudutkan pemilik jasa pencucian baju tersebut.

Banjir komentar yang mengarah soal toleransi beragama. Tak jarang banyak yang kemudian secara terbuka melemparkan kalimat dan kata-kata yang kurang pantas terhadap pemilik laundry.

Kenapa sih kasus seperti ini jadi heboh? Pakai saja gaya berfikir biasa, bahwa setiap pemilik usaha punya hak untuk menentukan siapa saja yang ia akan layani. Suka-suka dia menentukan orang yang akan diajak transaksi. Lantas kenapa orang lain seolah-olah punya wewenang untuk mengatur siapa-siapa yang harus dilayani?

Saya paham, jika sebagai makhluk sosial kita tak boleh diskriminatif. Akan tetapi kalo perkara laundry ini soalannya bukan pada menyudutkan orang dengan keyakinan, ras atau keyakinan tertentu. Ini sepertinya lebih ke soal tekhnis.

Rangkaian kata yang dipakai pemilik laundry mungkin ada yang bisa diterjemahkan diskriminatif, namun kalo kita menarik pandang dengan sudut yang lebih luas dan punya prasangka baik maka tidak akan ada kecurigaan-kecurigaan yang tak perlu.

Pemilik jasa pencucian baju itu merasa punya tanggung jawab kepada pelanggan-pelanggan muslimnya mengenai kesucian baju yang diserahkan kepadanya. Nah, secara tekhnis dia merasa kesulitan jika harus memberi perlakukan khusus terhadap baju-baju orang yang dirumahnya punya anjing.

Bisa jadi, bedasar keyakinannya, baju-baju orang yang terkena anjing, maka najisnya bakal bercampur ke baju-baju lain yang membutuhkan kesucian.

Kalo mau baik sangka, ia merasa ketakutan jika pelanggannya yang lain bajunya jadi najis dan dia tidak memiliki sumberdaya yang cukup guna mencarikan solusi secara tekhnis untuk memperlakukan baju-baju dari keluarga non-muslim yang punya peluang terkontaminasi najis anjing.

Baik sangka saja, bahwa pemilik laundry merasa bakal kesulitan jika harus melakukan riset terhadap pelangganya memiliki anjing atau tidak, baju pelangganya tersebut terkena najis yang perlu diperlakukan khusus atau nggak, maka dia mengambil jalan pintas dengan hanya mengambil pekerjaan dari pelanggan yang seiman.

Kenapa baru sekarang setelah enam tahun berlangganan? Ya mungkin saja karena baru saja mengetahui tentang perkara-perkara najis itu.

Bisa jadi pemilik laundry ini dalam kacamata muslim lainya salah ilmunya dalam perkara-perkara najis. Akan tetapi itu keyakinan dia, sebatas yang dia ketahui. Jangan hakimi dia atas keyaninannya, kalo dianggap keliru ya silahkan bujuk dan ajari dia.

Jika mau menghakimi pemilik laundry menggunakan kacamata toleransi, maka kalian-kalian yang berkomentar negatif serta pelanggan yang mengupload ke media sosila tersebut seharusnya yang perlu diceramahi soal toleransi.

Harusnya kalian toleran terhadap orang yang berkeyakinan jika baju terkena najis tertentu itu tidak bisa dicampur dengan baju lain yang membutuhkan kesucian. Paham?

1 COMMENT

  1. […] saya perihal “Laundry Khusus Seiman”┬ákemarin ternyata menimbulkan diskusi panjang. Sebenarnya saya cukup dilematis untuk membahasnya, […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here