Titian Toleransi

119 views

Tulisan saya perihal “Laundry Khusus Seiman”¬†kemarin ternyata menimbulkan diskusi panjang. Sebenarnya saya cukup dilematis untuk membahasnya, karena ini sudah berada di ranah yang cukup sensitif. Tak mampu menjaga nuansa, bisa berujung pada ketersinggungan pihak lain dan sejenisnya.

Sebenarnya yang saya angkat pada tulisan soal laundry itu adalah fenomena makronya. Bahwa ada sebuah kecenderungan masyarakat yang menghakimi keyakinan orang lain namun ironisnya berlindung di payung toleransi.

Sama sekali saya tak ingin menguliti kasus tersebut ke titik-titik kecilnya. Kalopun saya mengangkat dari satu buah kasus, itu sekedar media yang saya pakai untuk membawa ke wilayah yang lebih luas.

Bahwa pemilik laundry itu punya peluang untuk salah, memang benar. Silahkan dikaji, dari sisi penggunaan bahasa bahkan juga fiqh pun ada kemungkinan dia keliru. Akan tetapi bukan di situ sasaran saya.

Sebagai sesama muslim memang sebaiknya saya bersikap intropeksi terhadap kasus itu. Bahwa pemilik jasa cuci baju yang tidak tepat memilih kata, kurang cermat dalam berkomunikasi atau bahwa sedang keblinger oleh gairah beribadahnya dan lain sebagainya. Pada tulisan awal saya sebenarnya juga saya ungkapkan jika pemilik laundry itu juga punya peluang salah.

Akan tetapi, bukan berarti saya membenarkan pihak lain menghakimi dia. Itu kontraproduktif.

Faktanya memang ada sebagian orang Islam yang kini baperan, ada juga yang bersikap intoleran. Mari kita sama-sama berusaha menguranginya. Nah, cara mengurangi itu bukan sekedar menceramahi mereka soal toleransi dan keikhlasan menerima perlakuan kurang nyaman dari pihak lain. Hal itu memang harus tetap diberikan, tetapi bukan berarti kita abaikan faktor-faktor luar yang menggangu.

Anak saya dipukul temannya di sekolah. Saya akan tetap memberikan arahan kepada dia mengenai kesabaran, intropeksi diri dan sejenisnya. Namun saya tidak akan pernah berucap kepadanya bahwa memukul dirinya itu tindakan yang benar.

Sebagai anggota sebuah komunitas, pekerjaan saya belum usai dengan sekedar menjejali anak saya soal intropeksi diri. Saya tetap melaporkan urusan ini ke sensei (guru) di sekolahnya. Nanti sensei yang bakal berkomunikasi dengan pelaku dan orangtuanya yang kemudian berakhir pada keharusan pelaku meminta maaf kepada anak saya.

Jadi jika ingin membentuk komunitas yang sehat, upaya-upaya ini perlu digalakan. Anaku selain kenyang oleh ceramah saya soal intropeksi dan toleran terhadap orang lain, ia juga tetap dijaga pengetahuannya mengenai hak mendapatkan permintaan maaf dari orang yang dzalim padanya. Ini juga mengajari dia bahwa bertindak memukul orang lain itu tak boleh dan dia juga akan berkewajiban minta maaf jika nantinya terpaksa jadi pelaku.

Taruhlah ada kelompok muslim yang kini sedang baperan dan sukan tersinggung oleh pihak lain. Maka sebagai saudara seiman tetap kita ceramahi mereka soal kesabaran dan intropeksi, akan tetapi jangan sesekali bilang kepada mereka jika tidakan menyinggung orang lain itu bisa dimaklumi.

Kalo ada teman yang ditempeleng, maka tetap kita mencoba menenangkan hatinya dan memintanya sabar. Akan tetapi jangan diikuti dengan memberi pemakluman apalagi membenarkan pelaku. Itu bukan upaya mendamaikan, tapi bisa merusak perasaan orang.

Kalo urusan toleransi, semenjak di Facebook belum banyak yang berani bicara perihal toleransi, saya sudah bersuara soal itu. Komitmen saya mengenai toleransi masih ada hingga kini. Cuma, membentuk masyarakat tidak sekedar mengenyangi teman sekelompok tentang mengalah, bersabar dan membuka diri. Akan tetapi perlu ketegasan juga mengenai fenomena apa di masyarakat yang kontradiktif dengan upaya kita membertuk masyarakat yang toleran.

Jikapun tidak bisa melakukan perlawanan, minimal kita berani menyatakan bahwa tindakan orang lain kepada kita (yang diskriminatif) itu tidak bisa dibenarkan.

Kalo meminta umat seiman menyeberangi sungai menggunakan titian kecil bernama toleransi. Selain mengajari mereka soal keseimbangan badan, ketenangan dan faktor-faktor lain yang mendukungnya selamat sampai seberang, maka sudah jadi kewajiban kita menjaga agar pihak lain tidak mengganggu teman kita menyeberang. Jangan biarkan pihak lain menggoyang-goyang titian itu.

Lebih konyol lagi, kalau kita malah memarahi saudara seiman kita yang masuk ke sungai intoleransi setelah diganggu saat meniti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here