Dari Gempa Kumamoto Menuju Musholah di Negeri Sendiri

141 views

Tengah malam saya berlari ke sebuah lapangan, di sana sudah ada ribuan orang berkumpul dengan penuh kepanikan. Sesekali berteriak ketika gampa susulan mengguncang.

Itu terjadi dua tahun lalu ketika saya menjadi bagian dari peritiwa gempa hebat di Kumamoto, Jepang.

Tepat menjelang subuh kita dipersilahkan untuk masuk ke gedung olahraga untuk beristirahat. Gempa susulan memang sudah tak begitu sering intensitasnya, getarannya pun sudah mengecil.

Karena sudah masuk waktu sholat subuh, saya dan beberapa teman muslim latas mendirikan sholat di hall itu. Sebuah hall seluas kurang lebih delapan lapangan badminton itu kami sholat berjamaah. Kami sholat ditengah-tengah ratusan atau mungkin sudah seribu lebih orang Jepang di ruang tersebut.

Selepas itu saya didatangi oleh salah satu sukarelawan yang mengelola tempat pengungsian tersebut. Ia bertanya soal kami yang medirikan sholat. Sejujurnya saat itu saya sudah curiga, bahwa sholat kami tadi dianggap mengganggu kenyamanan orang Jepang lain yang mungkin ingin istirahat karena semalam suntuk diterkam kepanikan.

Akan tetapi kecurigaan itu keliru. Ia ternyata khawatir dan merasa bersalah karena tak bisa menyediakan tempat sholat yang nyaman. Kami rencananya bakal dicarikan space khusus.

Kontan saya menolak, karena kami anggap sudah sholat di tempat yang sangat layak dan memenuhi syarat. Lantai dari kayu yang mengkilap (itupun kami punya terpal untuk alas sholat), air untuk wudhu pun tersedia dan orang-orang Jepang yang memang punya kebiasaan tak berisik di tempat umum, sehingga tak mengusik kehusyukan sholat. Hal itu sudah jauh lebih dari cukup untuk kami bisa menjalankan kewajiban. Terlebih situasi saat itu memang dalam kategori darurat, menghadapi gempa 7,3 SR.

Kisah gempa di atas kembali teringat setelah hari ini saya datang ke sebuah kantor pelayanan pelanggan sebuah perusahaan telekomunikasi.

Karena antrian cukup lama, hingga akhrinya saya baru menyelesaikan urusan ganti kartu hampir pukul 17:00. Saat akan pamit ke customer servicenya, saya bertanya lokasi musholah. Menurutnya musholah ada di bagian samping gedung, di dekat parkiran sepeda motor.

Ketika sampai di parkiran motor, saya harus clingak clinguk untuk mencari musholah. Tukang parkir lantas menegurku dan kemudian menujuk sebuah sudut setelah saya bertanya di mana musholah. Petunjuk arah berupa tulisan kenapa tak ada, ya?

Tiba-tiba saya merasa miris. Tempat wudhu dan sholat ternyata masih kalah bersih dengan tempat sholat dan wudhu kami saat di pengungsian di Kumamoto.

Bukan soal layak atau tidak, namun terasa ada yang janggal jika tempat sholat di negeri mayoritas beragama Islam kalah dibandingkan tempat sholat di ruang darurat di negeri yang muslimnya minoritas.

Rasanya ada yang kurang sreg ketika sebuah perusahaan bisa membangun ruang-ruang pelayanan pelanggan begitu megah, bersih, dingin dan nyaman, tetapi untuk urusan ruang bertemu Tuhan mereka seperti enggan berbuat maksimal. Ditaruh di pojokan gedung dan begitu kontras dengan apa yang mereka bisa berikan untuk hanya untuk ruang tunggu pelanggan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here