Jancuk dan Pasha

163 views

Pada sebuah perjalanan, istri minta mampir ke rumah kerabatnya. Sebenarnya, istri sudah pernah mengutarakan rencanya tersebut, namun saya lupa. Pikirku hanya mengantarkannya beli makanan.

Saya langsung berbelok saja menuju rumah yang dimaksud. Kediaman kerabat yang secara “hirarki kekeluargaan” termasuk yang dituakan oleh keluarga istriku tersebut.

Setelah masuk dan disambut kemudian ngobrol beberapa saat. Salah satu pemilik rumah tiba-tiba mengejutkan saya ketika berkomentar mengenai kaos yang saya kenakan.

Wuik, kaose ono Jancuk’e, rek. (Wow, kaosnya ada tulisan Jancuknya),” tegurnya sembari tersenyum.

Saya memang kaget karena baru menyadari jika menggunakan kaos yang tidak seharusnya saya pakai bertamu ke rumah seseorang. Terutama ke keluarga yang semestinya kita hormati.

Sama sekali saya tidak mengerti perasaanya. Apakah kata-kata itu dilontarkan dengan nuansa canda atau memang sebuah teguran untuk saya. Sejujurnya dalam hati saya tetap merasa bersalah, tanpa harus mengidentifikasi pendapat dia mengenai kaos saya tersebut.

Tak perlu saya jelaskan atau diskusikan pendapat saya mengenai Jancuk. Saya memiki kaos tersebut dan berani membawanya keluar sudah bisa menggambarkan seperti apa sebenarnya posisi saya terhadap kata itu. Namun pada kasus ini takaran saya bukan sekedar apa pendapat saya mengenai Jancuk. Ada variabel lain yang mesti jadi timbangan saya untuk mengutarakan pendapat saya tersebut.

Saya berani bawa kaos tersebut ke pasar, mall atau tempat umum lain. Akan tetapi ketika membawa itu ke sebuah ruang dan waktu yang khusus, maka tak bisa seegois ketika saya memakainya di pasar.

Saya belum mempelajari nuansa batin keluarga dalam hal menerima kata-kata yang dianggap tabu. Saya belum mampu memberikan pengantar kepada mereka mengenai pandangan saya terhadap hal-hal itu dan lain sebagainya. Tetiba saya membawanya secara demonstratif tanpa pernah membangun dulu pondasi pengertian, maka mau tidak mau ada keterkejutan. Jika sudah seperti itu saya tak akan mencari pembenaran, tetap saya yang merasa kurang presisi dalam menyampaikan gagasan atau pikiran saya.

Sama seperti belasan tahun lalu, saat pulang dari merantau selama beberapa tahun. Saya berkunjung ke rumah nenek yang usianya sudah sepuh, saya menyembunyikan rambut gondrong saya di balik peci. Ini bukan soal takut, namun saya tidak ingin ada perdebatan tak perlu antara beliau dengan saya soal rambut.

Saya juga teringat kisah Simbah yang punya prinsip mengenai sepatu. Beliau lebih memilih sandal ketimbang sepatu dan itu bukan sekedar pilihan atas dasar selera, namun juga soal prinsip dan punya perhitungan filosofis. Saya tak akan terangkan masalah tersebut, ini hanya sebuah gambaran bagaimana Simbah sebenarnya tak mau pakai sepatu.

Tetapi, meski punya pandangan yang sangat filosofis mengenai sepatu, Simbah pada suatu momen kemudian menurunkan daya tawarnya terhadap prinsipnya. Hal itu terjadi ketika ada sesuatu yang genting hingga membuat Presiden Soeharto memanggil dirinya ke Istana. Simbah melangkah ke istana mengenakan sepatu, meski itu pinjaman dari seorang guru ngaji.

Hal ini sekedar memberi gambaran bahwa pada hal-hal tertentu kita perlu menekan ego pribadi. Kebenaran atau apapun yang kita yakini dan percayai tidak serta merta bisa diuar ke ruang publik tanpa terlebih dahulu melakukan tawar menawar dengan norma-norma yang ada ruang sosial.

Apapun latarbelakangmu, entah itu anak Punk, bekas personil band atau apapun saja, ketika menjadi pejabat publik, menjadi bupati, wali kota atau apapun maka ada norma-norma sosial yang mesti jadi pertimbangan.

Jangan mentang-mentang mantan anak band dan ingin kekinian lantas berhak menunjukkan penampilan yang tak lazim berdasarkan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Jika memaksakan tampil sesuai kehendakmu sendiri, maka yang bisa kita baca bukannya engkau yang bergaya modern atau berprinsip, akan tetapi cerminan bahwa engkau sedang mengalami defisit kepekaan terhadap norma sosial.

Paham, Pasha?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here