Berzikir di Depan Lampu Petromax

119 views

Sebuah video mampir di timeline saya beberapa hari lalu, dishare oleh seorang teman. Video yang bagian pojok atasnya tertulis Yudif.TV itu mempertontonkan sebuah adegan dimana ada seorang jamaah sholat yang berjabat tangan dengan jamaah lain seusai salam.

Orang yang sibuk bersalaman ini dipandang oleh jamaah lain dengan dengan sorot mata cenderung sinis dan ingin menampakan bahwa terganggu karena diajak berjabat tangan.

Selanjutnya muncul seorang lelaki berbaju putih berbicara mengenai adegan tersebut. “Apa yang dilakukan, mengganggu, bukan?” katanya.

Ia lantas menjelaskan bahwa Rosulullah mengajarkan bahwa selesai sholat harusnya langsung istighfar dan kemudian dilanjutkan dengan berzikir.

“Bukan salaman dengan kanan kiri jamaah,” lanjutnya.

Sama sekali saya tak pernah persolakan mengenai keyakinan mereka perihal setelah sholat tak seharusnya bersalaman. Itu adalah hak mereka dan saya tak pernah merasa punya keharusan untuk mendebatnya.

Jangankan selesai sholat mereka tidak salaman. Mereka misalnya saja setelah salam lantas tak mau kentut dua hari dua malam pun bagi saya itu hak yang tak perlu saya campuri.

Persoalannya bukan pada apa yang mereka yakini, namun cara menyampaikan apa yang mereka percayai.

Ketidakmampuan mereka menakar kebudayaan sekitar serta nafsu untuk menyatakan kebenaran dirinya terlalu tinggi. Mereka seakan perlu mempersalahkan orang lain secara terbuka untuk meneguhkan bahwa mereka yang benar.

Hanya ingin mendakwahkan bahwa sehabis sholat itu sebaiknya langsung zikir saja mereka perlu memperolok orang lain? Perlu memandang sinis terhadap pihak yang mereka anggap keliru?

Kalau misalnya saya yang memiliki keyakinan bahwa habis sholat itu harusnya zikir, bukan kegiatan yang lain, maka narasi yang saya bangun adalah langsung dengan dalilnya saja. Tak perlu mempertontonkan apa yang yang dianggapnya salah. Terlebih yang sedang dihakimi itu adalah tradisi masyarakat kebanyakan.

Tidak perlu secara demonstratif memeperlihatkan sesuatu yang dianggapnya keliru. Bilang saja secara berulang-ulang bahwa Rosulullah mengajarkan setelah sholat itu zikir saja.

Serahkan pada audiens mengenai kesimpulan narasi tersebut. Kesimpulan bahwa salaman itu tidak benar harusnya berada di wilayah umat. Bukannya secara vulgar disampaikan di ruang publik. Itu sedang berdakwah atau nantang khalayak?

Ketika saya tinggal di Jepang, jamaah sholat di Masjid rata-rata tak berjabat tangan usai salam, itu sudah jadi kebiasaan mayoritas muslim di situ. Meskipun secara kebudayaan dan keyakinan saya termasuk yang memperbolehkannya, bukan berarti secara demonstratif memaksa orang di samping kiri kanan untuk salaman. Biasanya saya hanya menjabat tangan samping kiri atau kanan jika jamaahnya itu saya kenal betul, di orang Indonesia dan NU.

Janganlah menjadi pendakwah yang sempit hatinya dan dangkal wawasan.

Saya katakan sempit hati karena tak memiliki kepekaan sehingga merasa kebenaran yang diyakininya itu boleh disampaikan dengan menanggalkan perasaaan umat.

Dangkal wawasan, lantaran seolah-olah tak pernah mempelajari bahwa yang sedang mereka salah-salahkan itu juga punya ulama dan apa yang dilakukan itu berdasarkan tuntunan ulamanya. Walau berbeda pandang, namun jangan pernah sakalipun beranggapan bahwa yang dianggap salah itu tidak ada ilmunya.

Selama itu diwilayah muamalah, kurangi salah menyalahkan. Hal yang baku itu sholatnya. Sholat itu sendiri sudah berakhir setelah salam. Jangankan salaman, setelah salam langsung balas whatsapp atau telepon penting pun boleh.

Jika memang menyatakan setelah sholat harus berzikir, maka apa tidak bisa bersalaman sambil hati berzikir? Jangan sampai yang disalah-salahkan itu sebenarnya hatinya berzikir secara ikhlas saat mengajak salaman?

Jangankan sambil jabat tangan, orang kampung sejak dulu diajari ulamanya untuk mencangkul sambil hati beristighfar, menggendong anak sembari bersholawat dan lain sebagainya.

Saya jadi teringat ketika masih kecil, tinggal di kampung yang belum ada listriknya sehingga penerangan rumah menggunakan lampu petromax. Suatu hari bapak pulang kemalaman, sudah gelap dan waktu maghrib hampir habis. Bapak memutuskan sholat dulu, usai salam bergegas menyalakan lampu.

Bapak berzikir sambil menghidupkan lampu yang cara menyalakannya meski dipompa itu.

la ilaha illallah, la ilaha illallah, la ilaha illallah….,” ucap bapak lirih yang iramanya selaras dengan irama memompa lampu petromax.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here