Jokowi Bakal Menang Lagi, Asal Didukung dengan Cara Cerdas

198 views

Mencuatnya sebuah karikatur karya senima Jepang Onan Hiroshi belakangan ini mengingatkan saya pada sebuah momen ketika saya “dikeroyok” ibu-ibu orang tua dari teman sekolah anaku. Saat itu ada kegiatan di Sekidai Yochien, TK tempat anaku sekolah.

Salah satu dari mereka tiba-tiba bertanya, mengenai proyek kereta cepat yang dibangun oleh Indonesia.

“Kenapa Indonesia tidak memilih Jepang?” tanyanya. Ini berkaitan dengan keputusan pemerintah Indonesia yang lebih memilih Cina untuk mengerjakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Saya agak terkejut sebenarnya dengan pertanyaan tersebut. Kaget saja, ibu-ibu Jepang ini ternyata mengikuti perkembangan informasi juga. Saya teramat yakin itu pasti mereka dapatkan dari televisi atau koran setempat.

Hal lain yang membuat saya sedikit grogi adalah bagaimana bisa menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan tersebut. Sepengetahuan saya, orang Jepang memang cukup sensitif kalo soal nasionalisme. Saya membaca mereka merasa kecewa, sebagai pelopor kereta cepat, mereka tidak dipercaya untuk mengerjakan sebuah proyek besar di Indonesia.

Tidak mungkin saya menjekan presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan mereka. Biar bagaimanapun, Jokowi adalah representasi dari Indonesia di mata ibu-ibu Jepang ini. Saya cinta Indonesia.

Akhirnya saya hanya bisa berkelit sekenanya, sembari berusaha mengubah topik pembicaraan.

Munculnya kembali karikatur karya Onan Hiroshi sebenarnya tidak mengejutkan saya. Menganggapnya wajar sebagai ungkapan kekecewaan warga Jepang karena “kalah tender” dengan Cina. Terlebih mereka cenderung menganggap diri sebagai yang paling memahami soal kereta cepat, sebab mereka sudah terbukti punya Shinkansen.

Namun ternyata karikatur itu ditanggapin secara luar biasa di negeri kita ini. Bahkan ada kabar jika politikus PDIP mendesak pemerintah untuk menyampaikan nota protes ke Pemerintah Jepang atas karikatur tersebut.

“Sesuatu yang tidak menyenangkan. Artinya Presiden kita ditampilkan dalam komik yang sebenarnya tidak terlalu wajar juga dalam etika ketimuran. Karena itu saya kira pemerintah perlu menyampaikan nota protes kepada pemerintah Jepang supaya menyampaikan itu kepada pers di sana,” kata Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira di Hotel Grand Inna Bali Beach, Denpasar, Bali, Minggu (25/2/2018), dikutip dari detik.com.

Menurut saya tak perlu diperpanjang persoalan itu, sebab pada dasarnya hanya sebuah kekecewaan saja. Toh, presiden Jokowi juga pernah mengungkapkan kekecewaanya saat mengetahui Arab Saudi mengucurkan investasi ke Cina berkali-kali lipat lebih banyak dibandingkan ke Indonesia.

“Investasi Saudi ke Indonesia Rp 89 triliun. Tapi ya saya lebih kaget saat beliau ke Tiongkok, ke China yang beliau tanda tangani Rp 870 triliun,” ujar Jokowi, di sela sambutannya di Pondok Pesantren Buntet, Desa Buntet, Kecamatan Astanaja Pura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (13/4/2017), dikutip dari kompas.com.

“Wah, padahal saya itu sudah mayungi pas hujan. Saya juga sudah nyupiri keliling Istana. Itulah rasa kecewa saya, meski sedikit saja. Sangat sedikit, ya,” sambung Jokowi.

Artinya, ungkapan-ungkapan kekecewaan seperti ini masih dalam tahap wajar. Mending Jepang, yang menyatakan hanya seniman atau rakyat biasa. Sedangkan kita presiden langsung yang harus menguar rasa kecewa.

Di Twitter, malam ini saya didebat oleh pendukung presiden Jokowi saat menyatakan untuk tidak terlalu berlebihan merespon pujian atau kritikan dari media Jepang. Setelah beberapa kali saling lemparkan pendapat, saya disodori olehnya sebuah pernyataan seseorang yang tinggal di Jepang.

Orang yang mendebat saya ini tidak tahu saya pernah tinggal di Jepang, karena memang saya tak pernah mengatakannya. Sebab counter dia menggunakan pendapat orang yang tinggal di Jepang, maka saya akhirnya mengungkapkan jika saya juga pernah bermukim di Jepang beberapa tahun.

Lucunya, setelah saya bilang pernah tinggal di Jepang, saya dituduh pamer pernah tinggal di Jepang.

Ya Allah, saya baru mendapati ada pendukung Pak Jokowi yang sedemikian lucu. Hingga membuat saya menutup perbincangan itu dengan menuliskan: “Pak Jokowi bakal menang lagi, asal didukung dengan cara cerdas”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here