Naifnya Saya Saat Hadapi Pendidikan Indonesia. Maafkan Bapakmu, Nak

461 views

Oktober tahun lalu, ketika balik ke Indonesia, hal yang paling mengganggu pikiran adalah tentang sekolah anak. Nahla usianya masuk 6 tahun pada 2018, artinya ia harus masuk SD hanya jarak beberapa bulan setelah kembali ke tanah air. Siapkah dia?

Di Jepang dia memang sudah masuk taman kanak-kanak, sampai kelas terakhir sebelum ke tingkat SD. Ia sudah di sekolah tersebut sejak usia 3 tahun, jadi cukup lama juga dia merasakan bersekolah di Jepang.

Meskipun terhitung cukup lama sekolah, akan tetapi tetap membuat saya gelisah. Pasalnya, saya mendapatkan kabar dari teman-teman atau juga beberapa informasi di media sosial mengenai keharusan anak bisa baca, tulis dan hitung (calistung) ketika mendaftar ke SD.

Ini persoalan besar bagi Nahla, karena selama belajar di Jepang ia tak pernah diajari calistung. Kalaupun ada pengenalan huruf hanya dari berbagai buku cerita, itupun bukan huruf romawi. Di rumah pun tak pernah diajari calistung (kecuali mengaji). Saya begitu percaya bahwa anak seusia dia belum layak dipaksa calistung. Kalau dia menikmati akan belajar sendiri. Ia tanpa diajari siapapun (hanya sesekali bertanya sendiri) sudah bisa menulis dan membaca huruf Jepang.

Saya hanya punya waktu beberapa bulan untuk menyiapkan Nahla bisa calistung, jika benar masuk SD perlu tes soal itu. Melihat cara dia mempelajari sesuatu, saya merasa kemungkinan besar bisa. Tetapi tetap merasa kasihan, belum waktunya dia harus mempelajari itu. Apalagi digenjot, akselerasi.

Ingin berbaik sangka bahwa tidak ada tes saat masuk sekaligus cari kebenaran secara langsung, saya mendatangi sebuah SD. Sekolah ini telah menjadi incaran saya karena berbagai pertimbangan, mulai beberapa tokoh pengelola yang tidak asing di telinga saya hingga karena lokasinya yang tak jauh dari rumah.

November 2017 saya datangi sekolah tersebut, menggali beberapa informasi sekaligus meminta kepastian apakah ada tes calistung saat mendaftar nantinya. Saya ceritakan latarbelakang Nahla yang sebelumnya bersekolah di Jepang. Saya utarakan tujuan kedatangan itu ingin memastikan informasi yang berkembang, jika memang iya ada tes, maka Nahla akan saya kondisikan. Anggap saja itu bagian dari adaptasi dengan pendidikan Indonesia, meskipun tetap ada rasa kasihan juga.

Petugas yang menerima saat itu menjawab bahwa nantinya hanya ada semacam penilaian kesiapan belajar. Ketika saya kejar, apa yang dimaksud dengan kesiapan belajar itu, sang petugas tidak memberikan jawaban gamblang. Apakah ada tes calistung? Petugas itu lagi-lagi tidak mengiyakan.

Lega hati saat itu. Saya merasa hanya sebuah tes psikologi atau semacamnya. Saya yakin Nahla bisa kalau sekedar tes semacam itu.

Akhirnya Nahla tak saya paksakan untuk belajar menulis dan membaca, meskipun dia sudah bisa dengan sendirinya, walau belum sempurna. Ketika di rumah tak pernah diminta untuk latihan menulis atau membaca, apalagi berhitung. Saya lebih konsentrasi untuk mengajari dia ambil makan sendiri dan cuci piring setelah makan.

Jangan ditanya soal makan sendiri, ganti baju sendiri, mandi sendiri dan sejenisnya, itu sudah ia lakukan memenjak umur 3 tahun. Inilah yang membuat saya begitu optimis jika Nahla bakal baik-baik saja jika yang diuji adalah kepribadiannya, disiplinnya, kemandiriannya.

Minggu lalu saya mendatangi SD itu lagi karena pendaftaran gelombang pertama sudah dibuka. Ketika mengambil formulir pendaftaran saya diberi sebuah jadwal tes untuk anak serta wawancara dengan orang tua calon siswa. Kembali saya menegaskan dengan bertanya apakah tes tersebut calistung? Petugas tidak mengiyakan, ia hanya mengatakan jika tes tersebut akan menyenangkan buat anak-anak. Saya percaya.

Hingga tiba saatnya tes dan wawancara tersebut. Nahla dipisahkan dari kami, ia menuju ruang tersendiri. Saya dan istri menuju ruang lain, untuk wawancara.

Ketika wawancara, saya jelaskan mengenai Nahla. Bahwa dia dari Jepang dan baru beradaptasi dengan pendidikan di Indonesia. Saya jelaskan bahwa anak saya punya kelebihan diranah ini dan itu, namun punya kelemahan dalam hal ini dan itu.

Cukup panjang proses tes tersebut, terutama karena antrenya. Nahla menampakan wajah datar ketika selesai jalani tes. Saya pun bertanya mengenai apa yang diteskan kepadanya. Betapa terkejutnya saya ketika Nahla bilang dirinya diminta membaca, menulis dan juga berhitung. Ia mengakui jika ada beberapa yang tak bisa dijawabnya.

“Gak apa-apa,” kataku.

Empat hari kemudian hasil tes diumumkan, nilai Nahla bahkan tidak sampai setengah dari batas bawah nilai yang bisa diterima oleh sekolah tersebut. Wawancara orang tua calon siswa pun sama sekali tak dicantumkan dalam variabel penilaian.

Tidak kaget dengan hasilnya, kecewa pun tidak. Nahla memang belum diajari hal itu. Tapi kalau mau ditantang soal kemandirian atau sejenisnya, maka Nahla meski bukan juaranya, saya percaya sanggup melewati tantangan itu.

Saya tertawa. Mentertawakan diri sendiri. Betapa naifnya saya ini ketika percaya begitu saja dengan perkataan petugas yang saya tanya apakah ada calistung atau tidak dalam tes.

Tentu saja mereka tak bisa mengiyakan pertanyaan saya tersebut. Karena aturannya memang tidak boleh ada tes calistung. Peraturan Pemerintah (PP) No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Pasal 69 Ayat 5 menyebut bahwa penerimaan siswa baru kelas I SD atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan calistung atau bentuk tes lain.

Tetapi itukan secara aturan, fakta di lapangan ternyata tak bisa seperti itu. Saya lupa bahwa apa yang di atas kertas, sangat mungkin berbalik 180 derajad saat di lapangan.

Saya tidak marah kepada SD tersebut, hanya merasa malu saja atas keluguan saya yang tak bisa menterjemahakan jawaban diplomatis sang petugas.

Maafkan bapakmu, nak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here