Jokowi, Wajib atau Haram?

197 views

Mbah Guru pernah berpesan tentang salah satu cara mempertimbangkan posisi sesuatu bisa melalui pendekatan 5 matriks, yakni: Wajib, Sunah, Halal, Makruh dan Haram.

Ketika ingin menilai posisi seseorang dalam kehidupan masyarakat misalnya, bisa kita bisa menggolongkan dia di matriks yang mana. Manusia wajib, sunnah atau malah haram?

Jika kehadirannya itu dianggap harus ada dalam lingkungan, jika tidak maka kacau kehidupan bermasyarakat, dia termasuk manusia wajib. Saat keberadaanya diharapkan oleh komunitas, cukup dibutuhkan oleh lingkungan namun tidak sampai pada sebuah titik keharusan, maka dia bisa dikategorikan manusia sunah. Sedangkan seseorang akan dipandang sebagai manusia halal ketika ada, baik untuk masyarakat, ketika tak ada, sebenarnya tak bermasalah.

Ketika seseorang itu kehadirannya terkadang bikin masalah, menyusahkan tetangga, akan tetapi kekurangan-kekurangannya itu masih bisa diterima oleh masyarakat maka dia berposisi sebagai manusia makruh. Orang seperti ini inginnya tak ada, akan tetapi jika terpaksa ada maka masih bisa dimaklumi.

Sedangkan manusia haram adalah seseorang yang bikin resah lingkungan, jadi biang kerok, keberadaanya adalah ancaman yang absolut untuk masyarakat, munculnya dirinya pasti bersamaan dengan hadirnya malapetaka. Manusia jenis ini di hati masyarakat berposisi haram, harus segera dibuang jauh-jauh, dilempar keluar dari komunitas agar tak lagi bencana.

Wejangan mengenai 5 matriks itu teringat ketika belakangan di media sosial dan pemberitaan muncul dua tagar yang sangat populer, yakni #Jokowi2Periode dan #2019GantiPresiden.

Pada posisi dimana hanya Joko Widodo (Jokowi) yang resmi dideklarasikan akan menjadi capres dan belum ada kepastian akan melawan siapa di Pilpres 2019, maka perlu hati-hati dalam memilih mendukung tagar yang mana.

Ketika Jokowi masih sendirian sebagai petarung, namun sudah muncul dua tagar, itu adalah sebuah fenomena yang cukup menggelikan bagi saya pribadi. Bahkan tidak sekedar menggelikan, jika mau lebih dramatis lagi maka saya menyebutkan sebagai mengerikan.

Masyarakat tiba-tiba disodori hanya dua ide dengan judul pokoknya. “Pokoknya harus Jokowi” dan “Pokoknya jangan Jokowi”.

Kembali ke soal matriks tadi, dengan adanya dua tagar tadi maka seolah-olah menempatkan Jokowi pada dua posisi yang kontradiksi. Bagi sebagian orang dianggap wajib, namun bagi sebagian lainya dinilai sebagai haram. Pada kaca pandang demokrasi mungkin hal tersebut wajar, akan tetapi jika dinilai dari kebenaran sejati, mungkinkah ada manusia wajib sekaligus haram?

Ketika terjadi pertarungan dua tagar di media sosial, saya selalu berusaha keras untuk menjaga diri saya berimbang dan berfikir sehat.

#Jokowi2Periode, memangnya lawanya siapa? Jika ternyata muncul lawan yang lebih baik, bagaimana?

#2019GantiPresiden, memangnya diganti oleh siapa? Jika ternyata tak lebih baik dari Jokowi?

Saya akan menjaga kesehatan hati saya dengan memelihara ketakutan untuk menempatkan Jokowi sebagai manusia wajib, orang paling baik di negeri ini, seolah-olah tak ada lagi yang lebih baik lagi.

Saya juga tak pernah punya rasa tega untuk meletakan Jokowi sebagai manusia haram, seseorang yang pasti paling buruk di negeri ini. Seolah-olah jika dihadapkan pada sandal jepit pun kita tetap tak memilih Jokowi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here