Jokowi, Kalajengking dan Rakyatnya yang Saling Sengat

195 views

Jengah juga melihat seliweran postingan dan berita soal racun kalajengking belakangan ini. Semula ini berasal dari pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden bicara mengenai kalajengking ini saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas), di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (30/4/2018).

Video potongan pidatonya bertebaran di Facebook, Twitter, group Whatsapp dan berbagai medsos lainnya. Pertama kali melihatnya, saya sudah merasa penasaran dengan pidato lengkapnya. Rasanya memang ada yang tak beres jika seorang presiden bicara mengenai kalajengking.

Awalnya saya menduga bahwa itu adalah adalah bagian dari cara Jokowi berkelakar. Kadang berpidato perlu bagian-bagian lucu agar audiens tetap fokus ke pidato, bukannya tidur.

Rasa penasaran itu mendorong saya untuk mencari video penuh dari pidato tersebut. Ternyata tidak terlalu sulit untuk medapatkannya, di Youtube ada beberapa video lengkapnya. Meskipun jumlah video potongannya puluhan atau mungkin ratusan kali lebih banyak.

Pembahasan mengenai racun kalajengking ini ternyata menjadi bagian awal dari pidato presiden. Setelah memberikan salam dan menyampaikan penghormatan kepada pihak-pihak yang hadir, Jokowi langsung membuka pidato mengenai kalajengking.

“Apa komoditas yang paling mahal di dunia? Pasti banyak yang menjawab emas,” kata Jokowi pada pidato tersebut.

Jokowi lantas menjelaskan bahwa bukan emas komuditas yang paling mahal. “Ada fakta yang menarik yang saya dapat dari informasi yang saya baca. Komoditas yang paling mahal di dunia saat ini adalah racun dari scorpion, racun dari kalajengking. Harganya 10,5 juta US Dollar per liter. Artinya berapa? 145 milliar per liter,” lanjutnya.

Selepas menggiring hadirin berfikir mengenai komuditas paling mahal, Jokowi kemudian memberikan -sesuatu yang mungkin kalau di standup comedy adalah- punk line.

“Tapi bapak ibu sekalian, meskipun ada komuditas-komudias yang paling mahal tadi yang saya sampaikan. Tetapi yang paling mahal adalah waktu,” katanya.

Selanjutnya, Jokowi menjelaskan mengenai waktu itu sendiri. Ia memberikan gambaran mengenai irama waktu pada 30 tahun lalu yang terkesan lebih lambat dibandingkan era saat ini yang sudah ada ponsel dan media sosial.

Menurut Jokowi, di era tekhnologi seperti ini, irama waktu berjalan sangat cepat. Pasalnya, setiap menit kita bisa bersetuhan langsung dengan tekhologi. Jika ingin menelpon atau ditelpon tidak lagi harus menunggu sampai di kantor atau di rumah, akan tetapi bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Jokowi lantas memberikan banyak contoh lainnya.

“Potensi produktivitas yang bisa mengisi waktu itu semakin tinggi,” tegas Jokowi.

Jokowi melanjutkan, bahwa waktu yang lewat begitu cepat dengan hadirnya teknologi, artinya itu waktu adalah komuditas yang sangat mahal. Jika waktu sudah menjadi komuditas paling mahal, Jokowi mengatakan jika musuh paling utama adalah buang-buang waktu.

“Apa itu yang namanya buang-buang waktu? Ya, cara kerja kita yang bertele-tele, itu buang-buang waktu. Gaya kita yang sering njelimet, muter-muter, itu juga buang waktu,” jelas Jokowi.

—-

Sampai pada bagian ini, sebenarnya kita bisa tahu arah pidato jokowi sendiri sebenarnya ke mana. Apa yang sebenarnya ingin dipesankan oleh presiden kepada para pejabat yang hadir itu sudah bisa tangkap. Tetapi kenapa kemudian kita malah sibuk bicara racun kalajengking?

Kelompok yang kontra dengan Jokowi langsung merespon pidato itu dengan berbagai nyinyiran. Tidak hanya politikus dari partai oposisi, bahkan seorang Rocky Gerung pun ikutan bicara mengenai racun kalajengking.

“Kalajengking kan hidup beradaptasi langsung dengan alam. Jadi, dia enggak cocok buat diternakin,” kata Rocky Gerung usai menghadiri acara seminar yang diselenggarakan oleh PKS di Hotel Aston, Jakarta, Rabu (2/5/2018), dikutip dari jawapos.com.

“Kenapa tidak dari awal aja kemudian suruh orang beternak kalajengking? Kenapa juga presiden enggak melakukan itu duluan supaya memberi contoh dan teladan berternak kalajengking?” kata politikus Gerindra Fadli Zon, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (3/5/2018), dikutip dari cnnindonesia.com.

“Bukannya menjelaskan pikiran yang anak SD pun mempertanyakan berapa banyak kalajengking harus didapatkan untuk mendapatkan 1 liter racunnya,” kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Kamis (3/5/2018), dikutip dari detik.com.

Bukan hanya pihak yang kontra Jokowi saja yang merespon pidato presiden, tetapi mereka yang sekubu dengan Jokowi juga turut berkomentar. Konyolnya, ternyata materi pembelaan mereka atas nyinyiran racun kalajengking ini juga tak kalah absurdnya. Seperti tak ingin menjelaskan maksud pidato sebenarnya soal waktu atau berbelit-belitnya birokrasi, malah terjebak pada racun kalajengking.

“Jokowi hanya ingin membuka pemikiran banyak orang untuk melihat banyak sisi jika ingin sukses. Jokowi sudah membuktikan bagaimana ia sukses dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia seperti kayu. Jadilah wiraswasta, jangan hanya berfikir jadi pekerja,” kata Denny Siregar di salah satu postingannya di medsos.

“Artinya Presiden kita ini memahami persoalan rakyat, sehingga yang disampaikan adalah persoalan-persoalan yang mendasar terhadap apa yang bisa dilakukan oleh rakyat Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto , di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (3/5/2018), dikutip dari cnnindoensia.com.

Hasto bahkan mengatakan pemerintah bakal melakukan penelitian soal itu. “Tentunya yang disampaikan pak Jokowi juga disertai komitmen pemerintah untuk mengembangkan penelitian dari situ,” katanya.

Saya merasa kasihan pada presiden Jokowi. Inti pidatonya sama sekali tidak jadi isu utama, bukan jadi bahan diskusi oleh rakyatnya. Oposisi sibuk nyinyir pada sesuatu yang tak substantif. Ironisnya, orang-orang yang seharusnya membela Jokowi juga ikut-ikutan ribut pada sesuatu yang absurd.

Yakinkah kita bahwa mereka-mereka itu kini sedang memperjuangkan hal-hal penting? Rasanya tidak, mereka hanya bertarung memperjuangkan egonya masing-masing. Presiden berpesan jangan ada lagi birokrasi yang bertele-tele, tetapi elitnya lebih suka berkelahi saling sengat satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here