Pak Nuchin, Pria Jombang yang Hampir jadi Juara MotoGP

201 views

Ketika dia datang, suasana jadi semakin sumringah. Canda-candanya kerap membuat kami tertawa, bahkan sampai terbahak.

Pria yang tak lagi muda itu menceritakan jika namanya aslinya Nuchin. Punya banyak nama lain, tetapi yang paling populer adalah yang sekarang saya tahu.

Teman saya dari Banyuwangi, Mas Husein bertanya mengenai siapa yang memberikan nama yang saat ini dikenal orang banyak itu. Sembari menyalakan rokoknya ia mengatakan jika nama itu dibikin sendiri.

“Kalo saja dulu saya bikin tanpa ada ‘OT’ di belakang, sekarang sudah jadi juara balap MotoGP,” katanya.

Saya butuh waktu sepersekian detik untuk memahami bahwa kalimat itu adalah sebuah joke.

“Yang juara MotoGP itu Marquez,” kataku setengah berteriak sambil tertawa puas karena bisa paham dengan candaan yang dilempar oleh Cak Markesot. Tawa kami yang mengikuti obrolan itupun akhirnya meledak.

Belum reda tawa kami, Cak Markesot kembali lempar guyonan.

“Kalo Marquez itu dari mana?” tanyanya yang dijawab oleh salah satu dari kami bahwa itu pembalap itu berasal dari Spanyol. “Saya dulu waktu pake nama asli dikira dari Cina,” lanjutnya.

“Karena pakai ejaan lama dan sedikit salah tulis, ada yang mengira saya keturunan Cina. Mereka menulis namaku jadi Nu Chen,”

“Iya, saya Cina kobong,” lanjutnya sembari tertawa terkekeh.

Pria yang saya kenal namanya ketika masih SMP ini memang luar biasa. Tampilan sederhana dan berbicara kesana-kemari yang kemudian menawarkan keceriaan kepada siapa saja yang menjadi lawan bicaranya.

Markesot cukup terkenal bagi teman-teman yang mengikuti tulisan-tulisan Mbah Nun, Emha Ainun Nadjib. Tahun 90an, Cak Markesot menjadi tokoh ditulisan Mbah Nun di Surabaya Post dan kemudian diterbitkan menjadi dua buku, ‘Markesot Bertutur’ dan ‘Markesot Bertutur Lagi’.

Meski berpenampilan biasa, Cak Markesot adalah orang yang ahli dalam urusan mesin. Walau tak memiliki latar belakang pendidikan resmi, ia pernah didaulat menjadi pengajar di SMK Global di Mentoro, Jombang.

Setahun mengajar, Markesot memilih untuk mundur. Menurut Cak Fuad, kakak Mbah Nun, Markesot memilih mundur karena takut gak sabar dengan anak didiknya. “Suwe-suwe tak kaplok mereka,” kata Cak Fuad menirukan ucapan Cak Markesot saat minta ijin mengundurkan diri.

Di Maiyah, Mbah Nun selalu mengingatkan agar semua belajar untuk menjadi ruang yang bisa menampung siapa saja dan apa saja.

Cak Markesot salah satu sosok yang secara tampilan sangat biasa dan sering kali ditaruh di pingir di wilayah pergaulan masyarakar modern. Namun jika kita bisa mengelaborasi lebih dalam, maka akan menemukan banyak pelajaran. Semoga bisa sinau banyak dari Markesot-Markesot lain di luar sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here