Ngabalin dan Umat yang Nyebelin

87 views

Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin, menyebut aksi dan deklarasi #2019GantiPresiden adalah makar. Unsur makar, kata dia, sudah terlihat secara harafiah dari slogan tersebut.

“2019 itu artinya tanggal 1 Januari pukul 00.00. Artinya apa, saat itu juga ganti presiden, artinya tindakan makar,” katanya saat dihubungi Tempo, Senin, 27 Agustus 2018.

Ali menjelaskan Indonesia baru melaksanakan pemilihan presiden pada 17 April 2019. Sebabnya jika tidak ingin aksi #2019GantiPresiden disebut makar, harus mengubah kata-katanya. “Iya, dong. Kasih #17April2019GantiPresiden,” kata Ali.

Tiga paragraf di atas saya kutip dari berita yang dipublish tempo.com dengan judul Ali Mochtar Ngabalin: Gerakan #2019GantiPresiden Makar.

Sebelum meneruskan membaca, saya beri peringatan dulu bahwa saya sama sekali tidak memposisikan diri sebagai pendukung atau penolak gerakan #2019GantiPresiden. Jika ternyata sulit untuk menghilangkan prasangka mengenai apakah saya mendukung atau menolak, maka sebaiknya jangan diteruskan membacanya.

Saya sekedar ingin mengulik tentang cara berfikir para elite politik yang ternyata cukup menular ke masyarakat. Ketidaktelitian serta kesembronoan yang dilakukan oleh politikus begitu gampang diamini oleh pendukungnya tanpa pernah punya keberanian atau bahkan kemampuan untuk kritis.

Ngabalin melabeli gerakan #2019GantiPresiden sebagai makar. Logika yang dibangun adalah soal 2019 yang dia artikan 1 januari 2019. Menurutnya, tanggal 1 Januari 2019 bukan waktunya ganti presiden, karena pemilu baru digelar 17 April 2019.

Kalo kita pakai logika yang disusun oleh Ngabalin, maka media, politisi dan bahkan pejabat pemerintahan juga bisa dianggap telah menyerukan makar. Sebab, mereka semua pernah menggunakan frasa “Pilpres 2019” di setiap pernyataan yang mereka keluarkan.

Jika pakai kamus Ngabalin, frasa “Pilpres 2019” itu artinya Pilpres 1 Januari 2019. Itu jelas melanggar konstitusi, karena tidak sesuai dengan ketentuan KPU yang baru menyelenggarakan Pilpres pada April 2019.

Lebih lanjut, Ngabalin ini mengoreksi gerakan #2019GantiPresiden dengan cara berfikir yang seolah-olah detil, menganalisis kata per kata. Hingga 2019 pun dia artikan sedemikian rupa. Ia lantas menyarankan agar gerakan itu diganti #17April2019GantiPresiden jika tidak ingin dituding makar. 17 April 2019 ini mengacu pada jadwal pelaksanaan pemungutan suara.

Betapa cara berfikir yang sangat semrawut menurut saya. Ia ingin kelihatan detil namun juga ternyata ceroboh dalam memilih kata, atau bisa juga karena tak paham. Sejak kapan pergantian presiden itu saat pemungutan suara?

Sesuai jadwal yang dikeluarkan KPU, pelantikan Presiden terpilih itu baru Oktober 2019, maka saat itulah yang disebut pergantian presiden. Jika 17 April 2019 ganti presiden, itu yang malah makar.

Pernyataan Ngabalin yang cukup nyebelin dalam konteks bangunan logikanya ini, ironisnya banyak diamini oleh para penolak gerakan #2019GantiPresiden. Apa yang dikatakan oleh orang Istana itu dijadikan dasar untuk menghakimi pihak rival.

Jangan hanya karena satu kubu lantas semua pernyataanya diamini dan dipakai sebagai dasar menguatkan argumen. Hal itu sama saja dengan kufur nikmat, sebab telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan berupa otak. Gunakan nalar yang jernih jika ingin mendukung atau menolak sesuatu. Pelihara sikap kritis terhadap apapun saja, termasuk yang sekubu, agar tidak menjelma jadi umat yang nyebelin.

Jika sampai di paragraf ini ternyata kalian menganggap saya pro terhadap gerakan #2019GantiPresiden, maka layak saya sematkan julukan umat yang makin nyebelin kepada kalian. Sudah diperingatin dari awal jangan diteruskan membaca jika masih ada prasangka saya ini menolak atau mendukung gerakan tersebut, masih saja dibaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here