Membakar Simbol, Menakar Nalar

190 views

Hari Minggu malam yang lalu, saya ngopi bareng dengan Cak Dil, Kang Yudi dan Cak Tofa di Landungsari. Tak banyak yang datang karena memang janjiannya mendadak dan masih banyak teman lain yang ternyata berada di luar kota.

Dalam obrolan santai itu, salah satu topik yang saya sampaikan adalah mengenai banyaknya kata-kata yang kehilangan makna, kata-kata asli dari nusantara namun makin tak dikenali warganya, serta banyaknya kata-kata yang semestinya punya kesakralan tetapi lantas tergerus lantaran banyak dipakai secara serampangan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Belum tentu anak-anak jaman kini mengenal kata “gendewa”. Oke, jika ingin contoh kata yang lebih banyak bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, generasi sekarang sangat jarang menggunakan atau mengenal kata “binatu”, mereka lebih akrab dengan “laundry”.

Saat digelar Pekan Olahraga Nasional (PON) atau yang paling hangat adalah ajang Asian Games beberapa waktu lalu, mulai dari pejabat hingga awak media sangat gemar menggunakan kata “venue“. Padahal bahasa Indonesia punya banyak padanan katanya, kita bisa pakai arena, gelanggang, lapangan dan lain sebagainya.

Jika lihat sepabola nasional di televisi, maka ketika ada wajah pelatih muncul di layar kaca, keterangan tertulis dibawahnya adalah “coach“. Apa masalahnya dengan kata “pelatih”?

Lebih detil lagi, di Malang ada papan reklame besar banget dari sebuah produk rokok. Pada iklan tersebut ada kalimat yang terdapat kata “lu” dan “gue“. Ini iklan berada di Malang, yang disasar adalah warga Malang, lantas kenapa ada idiom Jakarta yang dipakai? Kenapa bisa sedemikian percaya diri bahwa itu lebih bisa diterima? Karena jika ingin lebih menyentuh ke warga lokal, iklan itu bisa pakai “umak” dan “ayas“.

Hal lainya mengenai kata-kata yang semestinya punya tingkat kesakralan tersendiri, menjadi tergerus nilainya karena dengan mudah dipakai untuk sebuah merek dagang, slogan sebuah kelompok, bahkan menjadi semacam ciri khas dari sebuah golongan politik tertentu.

Jika dulu kita mendengar kata Wali, maka yang terbesit di benak adalah tokoh-tokoh yang dicintai Allah yang memiliki keistimewaan tertentu, hidupnya penuh kewaskitaan dan lain-lain. Namun kata itu kini tereduksi nilainya, karena kini saat mendengar kata Wali, yang terpikirkan adalah grup musik yang musiknya asik dipakai joget.

Kalau sekarang kita mengatakan kata “khilafah” maka hal terbesit pertama di kepala adalah HTI. Padahal kata khilafah bisa beragam pemahamannya, tafsirnya. Akan tetapi karena telah menjadi sebuah brand atau merek sebuah organisasi tertentu, Lantas definisi khilafah diseragamkan seperti definisi HTI. Segala yang berhubungan dengan kata khilafah akan dicurigai punya kecenderungan politik seperti HTI, dituding memiliki pemahaman politik yang sejalan dengan apa yang didorong oleh HTI.

Kemarin, selang beberapa hari setelah obrolan itu, ada kabar yang bikin punyeng. Bendera berlafal kalimat tauhid dibakar oleh beberapa orang berseragam Banser, alasannya itu bendera HTI, organisasi yang sudah dinyatakan dilarang di Indonesia.

Jika kalian bikin organisasi, hindari penggunaan idiom-idiom yang punya nilai kesakralan tertentu, terutama jika berkaikan dengan agama. Sebab kalian adalah manusia yang sangat mungkin bisa berbuat salah. Saat kalian berbuat salah dan ada idiom sakral yang kita kenakan, maka idiom tersebut harus menanggung beban atas kecerobohan kalian itu.

Jika kalian menolak, membenci sebuah kekuatan politik tertentu, organisiasi tertentu, maka tolaklah secara elegan. Anti-lah dengan cara tetap waras dan selalu mempergunakan anugerah Allah berupa otak. Jika ingin menunjukan perlawanan terhadap kelompok yang ditentang itu dengan jalan memberangus idiom-idiomnya, simbol-simbolnya, atribut-atributnya, maka pakai kewarasanmu untuk menilai apakah idiom, simbol atau atribut tersebut otentik miliknya atau sebenarnya itu milik umum yang kebetulan dipakai oleh kelompok yang kalian benci?

Kalau ternyata simbol itu, idiom itu, punya nilai istimewa di masyatakat umum yang jumlahnya pasti lebih banyak dibandingkan anggota kelompok yang kalian tentang. Lantas cara berpikir model apa, cara bernalar seperti apa yang membuat kalian tega secara demontratif membakar simbol itu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here