Ibu Muda yang Marah dan Spiderman yang Jahat

“Kamu jangan pernah lagi bersentuhan dengan mainan-mainan itu. Berbahaya,” kata wanita muda kepada anaknya yang masih berusia belasan tahun.

“Apa bahayanya bermain Spiderman, bu?” sang anak kebingungan.

“Itu karakter jahat, kejam. Jangan sampai nanti kamu tertular dan terpengaruh menjadi anak yang bengal,” jelasnya.

“Spiderman jahat?” anak itu semakin puyeng.

“Iya! jangan kira ibumu tidak tahu ya. Tadi ibu lihat penggalan film, Spiderman jadi hitam bajunya dan bertaring. Ia berbuat jahat.”

“Oh, itu bukan Spiderman, bu. Itu Venom,” sang anak mulai memahami kesalahpahaman yang terjadi.

“Ah! Ibu gak mau tau, pokoknya kamu jangan main-main Spiderman lagi. Dia keji, Ibu tak ingin punya anak terpengaruh dengan tokoh kejam.”

“Tapi kan kedua tokoh itu berbeda, bu. Bentuknya saja yang mirip.”

“Ibu tak percaya omonganmu, pokoknya kamu ibu larang untuk menyentuh atau memainkannya. Titik.”

“Bu, mainan ini sangat aku sukai semenjak bertahun-tahun lalu. Spiderman sudah seperti menjadi bagian dari kehidupan sehari-hariku. Lemari penuh posternya, Kamar juga demikian. Kaos-kaosku banyak yang bergambar Spiderman, tas sekolah juga,” Anak tersebut mencoba mempertahankan haknya.

Bocah itu merasa punya hak, lantaran hampir semua mainan dan pernak pernik Spiderman koleksinya dibeli dari tabungannya sendiri. Rela menyimpan uang jajannya demi bisa mendapatkan apapun saja yang berkaitan dengan Spiderman. Ia sudah jatuh cinta.

“Bagaimana mungkin ibu tega menyuruhku membuang ini semua. Ini adalah milikku, aku mencintainya dan aku telah banyak berkorban untuk mendapatkannya.”

“Anak kecil tahu apa kamu?” Sang ibu tetap tak pedulikan argumen anaknya. “Pokoknya, buang. Bakar!”

Bocah tersebut lunglai, ia mengangis sedih. Bukan saja karena apa yang dicintainya harus disingkirkan, harus dibakar. Ia bersedih sangat dalam karena harus melihat ibu kandungnya terjerembab dalam kesalahpahaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here