Baju Gue Lo Urusin

210 views

Sudah sangat lama saya selalu mengungkapkan ketidaksetujuan atau bahkan sampai pada ketersinggungan jika ada yang menempatkan wanita korban pelecehan secara seksual sebagai pihak yang bersalah lantaran dia memakai pakaian minim.

Dalam hal ini, saya tidak bicara pada landasan aturan keagamaan bahwa berpakaian minin itu menyalahi syariat agama atau tidak. Ketersinggungan itu karena saya melihat dari sisi kelelakian saya sendiri. Sebagai lelaki yang percaya agama, maka tidak akan berlaku seperti kambing. Memangnya saya kambing? Lihat lawan jenis langsung greng. Sebagai manusia, saya punya filter kapan greng itu dihidupkan dan kapan segera dimatikan.

Ini bagian dari perjalanan saya sebagai manusia yang memang akan mengalami beragam puasa. Selama menjalankan ibadah puasa, kita terlatih tak memakan hidangan di meja makan sebelum adzan maghrib. Artinya, meski lapar, sebagai manusia beragama, tidak begitu saja menyergap makanan yang ada didepannya. Ada mekanisme, ada syarat administratif dan lain sebagainya yang kemudian membuat seorang menentukan kapan dan bagaimana melampiaskan keinginannya. Meski keinginannya itu bisa saja tergolong sesuatu yang alamiah, orang lapar ingin makan.

Begitu juga dengan wanita berpakaian minimalis dengan terumbarnya aurat, maka tugas utama saya adalah meredam segala macam hal buruk dalam pikiran, minimal tidak sampai berwujud menjadi tindakan. Saya menyadarinya sebagai puasa kaum lelaki.

Oleh karena itu selama ini saya tidak berani menyibukan diri untuk mengurusi pakaian orang lain, terutama wanita. Saya lebih banyak menghabiskan energi untuk menunaikan dan menaikan kualitas puasaku.

Sebenarnya saya tidak sendirian, banyak sekali orang-orang dan bahkan tergolong tokoh-tokoh hebat yang punya pandangan seperti yang saya ungkapkan di atas. Bahwa tidak perlu mengurusi baju wanita, tetapi lelaki yang mestinya mengurus birahinya. Bahkan ada foto yang belakangan cukup populer, di situ ada wanita memegang poster bertuliskan: Baju Gue Lo Urusin, Birahi Lo Biarin.

Akan tetapi, saya tetap prihatin, banyak orang dan tokoh yang saya tahu punya pendapat bahwa tak perlu urusi pakaian wanita minim, dilain kesempatan malah banyak menyoal mengenai wanita yang mengenakan cadar atau jilbab lebar.

Pada wanita berpakaian minimalis mereka mampu menemukan sisi baik dan bahkan menyalahkan pria yang memang tak mampu menahan nafsu hingga berpikiran jorok. Akan tetapi pada soalan muslimah yang memilih bercadar mereka tak mampu menahan prasangka-prasangkanya sendiri, mengumbar asumsi-asumsi buruk, energinya dihabiskan untuk memelihara stigma-stigma negatif.

Ini sebenarnya juga berlaku sebaliknya. Jika mampu tak mengumbar aurat diri, mestinya mampu juga dong mengendalikan syahwat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here