Aku Mau Jadi Tukang Ojek

Hampir saja bibir cangkir kopi menyentuh bibirku, namun terhenti karena ada yang beruluk salam. Kuletakkan kembali ke meja cangkir kopi itu untuk membalas salam dan menyambut dua tamu yang berjaket hijau.

Rudi, sang tuang rumah lantas mengenalkan dua sahabatnya itu kepadaku. Saya lantas mengetahui jika kedua orang tersebut adalah rekan-rekan Rudi sesama pengemudi ojek online.

“Habis narik?” tanyaku untuk basa-basi kepada mereka.

“Iya, mas. Kita kalau hari minggu siang begini kita sering berkumpul di rumah Rudi untuk istirahat sekaligus silaturahmi,” jawab pria yang bernama Jono. Sementara Han, pria satunya, hanya melempar senyum menyetujui apa yang disampaikan temannya.

Keduanya lantas mencopot jaketnya sembelum duduk di kursi plastik. Mereka tepat duduk mengitari meja kecil bundar yang di atasnya ada sepiring gorengan dan dua cangkir kopi.

Rudi, Jono dan Han. Ada tiga orang pengemudi ojek online di hadapanku saat ini. Terbesit juga dalam benakku untuk banyak bertanya soal pekerjaan mereka ini. Sebuah pekerjaan yang sangat populer dalam beberapa tahun belakangan.

Kalau Rudi, temanku sejak lama, sehingga saya tahu kenapa dia memilih menjadi pekerjaan yang identik dengan seragam jaket hijau itu. Setelah usahanya punya masalah dan bangkrut, Rudi lantas memutuskan untuk menjadi tukang ojek. Suatu hari ia pernah bilang, ingin menabung untuk memulai bisnis lagi.

“Mas Jono sudah lama ngojek?” tanyaku, sengaja aku memilih bertanya kepadanya, sebab Han terlihat pendiam dan sepertinya dia pribadi yang pemalu.

“Sudah lama, saya dulu yang ngajak Rudi,” jawabnya penuh percaya diri.

“Enak?” tanyaku singkat. Aku tebak orang seperti Jono ini hanya perlu dipancing dengan sedikt pertanyaan saja akan banyak bercerita.

“Enak gak enak, mas. Namanya juga pekerjaan. Pokonya halal, dijalanin saja,” jawabnya sembari ia mengambil rokok dari tas kecil yang ia pangku.

“Cukup?

“Ya dicukup-cukupin. Cukup atau tidak kan tergantung bagaimana kita mengatur keinginan kita,” katanya dengan nada seperti menasehati.

Aku tersenyum. Senang benar dengan gayanya yang luwes itu. “Maaf, jika saya banyak bertanya, bahkan ke sesuatu yang sudah urusan pribadi.” Aku menyadari bahwa bertanya soal penghasilan seseorang itu tak etis.

“Gak apa-apa, mas. Santai saja. Sampeyan mau jadi ojek online juga?” tanyanya yang langsung disusulnya dengan tawa ringan. Aku cuma tersenyum, begitu juga Han yang sedari tadi hanya diam.

Rudi sambil tertawa ringan ia beranjak masuk ke dalam rumah. Sepertinya ingin memberi tahu istrinya jika ada tamu lagi yang perlu dibuatkan kopi.

“Kalau sampeyan, mas?” aku beralih ke Han. “Seneng jadi tukang ojek online?”

“Seneng,” jawabnya singkat.

Waduh, aku merasa kesulitan untuk banyak mendapat informasi dari orang seperti Han ini. Lebih banyak diam dan jika bicara hanya singkat-singkat saja. Ah, mungkin dia hanya masih belum akrab saja, sehingga kurang lepas dalam berkomunikasi.

“Sebelum ngojek, dulu jadi apa? lebih enak mana dibandingkan pekerjaan sebelumnya?”

“Dulu sopir di perusahan distribusi. Kalo ditanya enak mana, ya sama saja. Namanya juga kerja,”

“Kalo dari segi penghasilan?” sergahku.

“Dulu penghasilnya sudah pasti dapat, nilainya juga sudah tetap, UMR. Sekarang gak menentu dapatnya,” Han menjawabnya dengan laju kata yang pelan, begitu juga volume suara yang tak begitu keras.

“Gak menentu itu kan artinya kadang bisa lebih banyak dibandingkan dengan dulu sebagai sopir, kan?”

Han tersenyum, ia seperti mengiyakan apa yang saya katakan tadi.

“Jon, Han, dia ini wartawan kelahiran Boyolali,” Rudi mengagetkan kita semua karena mengatakan itu sembari muncul secara tiba-tiba dari dalam rumah. “Jadi jangan kaget kalo dia banyak tanya. Hidupnya memang dari bertanya”

“Tapi aku sekarang tidak sedang cari bahan berita, kok,” kataku sembari tertawa ringan. Jono dan Han juga melepaskan senyum.

“Berita apa juga yang bisa diambil dari kami yang hanya sebagai driver ojek online begini,” kata Han itu tiba-tiba membuatku tak nyaman.

“Hanya? Hanya sebagai driver ojek online? Kenapa ada kata hanya? Semua pekerjaan sama saja menurutku. Bukan soal kita jadi apa, namun seberapa bertanggungjawabnya kita dalam menjalani profesi yang sedang digeluti” kini giliranku seperti seorang ustad yang menasehati jamaahnya.

Baru Han akan menjawab tiba-tiba seorang bocah muncul dari dalam rumah. Anak yang masih kelas satu SD tersebut langsung menghampiri kami semua dan bersalaman.

“Udah besar sekarang ya?” sapaku, karena aku terakhir ketemu anak Rudi ini saat masih belum masuk TK. “Cita-citanya mau jadi apa?” tanyaku setelah dia bersalaman dan mencium tanganku.

Belum sempat menjawab tanyaku, bocah itu melengok ke belakang, ke arah ibunya yang juga baru keluar dari balik pintu. Wanita berjilbab yang dinikahi Rudi sekitar delapan tahun itu lantas melepaskan senyum kepada kami sebagai salam keramahan.

“Adek mau jadi apa nanti?” aku coba mengulang pertanyaanku.

“Aku mau jadi tukang ojek,” jawab anak lelaki berkulit putih itu dengan tegas. Sontak kami tersenyum, hampir tertawa mendengar jawaban itu.

Sang ibu itu lantas mendekati anaknya. Ia jongkok di hadapan anaknya agar matanya sejajar dengan mata sang anak. Memegang bahu sang bocah dengan lembut dan kemudian disusul lemparan senyum manis.

“Nak, kalo bercita-cita itu bisa setinggi mungkin. Kamu boleh, kok, bercita-cita menjadi dokter, astronot, pengusaha, guru atau yang lain,” katanya dengan nada yang sangat lembut.

Memang, semua pekerjaan halal itu sama mulianya. Hampir semua orang tua ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Apa yang dikatakan istri Rudi kepada anaknya adalah sesuatu yang lumrah. Bodoh benar diriku jika kemudian berkesimpulan kalimat itu artinya tengah merendahkan profesi tukang ojek, profesi suaminya sendiri.

Saya teramat yakin, Jono maupun Han, jika mereka punya anak, ingin anaknya punya pekerjaan lebih baik dibanding yang dilakoninya saat ini. Itu semua sadari tanpa harus kehilangan rasa bangga sebagai tukang ojek.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here