Monyet Pun Belum Tentu Melakukannya

123 views

2016 silam saya harus berhadapan dengan gempa besar di Kumamoto, Jepang. 7,3 SR mengguncang saat tengah malam.

Saya, istri dan anak hanya membawa ponsel saat tunggang langgang ke tempat aman. Bahkan saya tak sempat memakai jaket dan alas kaki. Gempa besar, panik dan ditambah tak pakai jaket dan alas kaki di tengah malam yang dingin. Seingat saya suhu kurang dari 10 derajat celsius.

Malam itu, kami berhasil mengamankan diri di sebuah selter pengungsian. Besok paginya saya kembali ke rumah, mencari barang-barang yg diperlukan dì pengungsian. Termasuk diantaranya saya bawa handycam dan kamera.

Namun entah apa gerangan yang membuat saya tak punya keberanian untuk mengambil foto atau video ketika itu. Padahal, saat berjalan ke pengungsian, saya membawa ponsel yang batrainya full, dua Iphone malahan. Esoknya saya juga membawa handycam dan kamera lain.

Tetapi itu semua tak membuat saya punya semacam keberanian untuk mengabadikan momen yang mungkin sulit kami lupakan.

Saya hanya sempat mengambil satu dua foto dan video yang durasinya tak lebih dari 20 detik saat di selter pengungsian. Itu pun saya lakukan sebagai bahan “laporan” ke KBRI yang kemudian dipakai oleh sebuah stasiun televisi. Foto lainnya saya ambil di Masjid yang saat itu dijadikan gudang logistik bantuan dari saudara-saudara muslim dari kota lain, lagi-lagi itu saya maksudkan sebagai bahan laporan kegiatan.

Entah ini apa namanya yang terjadi dalam batin saya. Hal yang paling saya rasakan adalah ada semacam pergulatan perasaan tentang betapa tidak eloknya saya untuk jepret sana sini disituasi orang-orang tengah panik. Ketika semua orang berkecamuk perasaanya karena sebuah tragedi, maka saya seperti dibebani sebuah kewajiban agar melakukan segala sesuatu secara hati-hati dan penuh presisi.

Tentu saja saya tidak menyalahkan teman-teman lain yang mengabadikan kondisi itu. Tindakan dan cara pikir seperti yang saya jelaskan di atas hanya saya berlakukan kepada diriku sendiri.

Setiap orang punya pertimbangan masing-masing. Selama ia melakukan semua itu bukan untuk bersenang-senang. Tapi mana mungkin ada manusia bisa memanfaatkan situasi perih semacam itu untuk sebuah kesenangan? Karena monyet pun belum tentu melakukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here