Masih Butuh Jalan Tol?

92 views

Kembali saya meski menceritakan tentang pengalaman saya menghadapi gempa hebat di Kumamoto, Jepang, pada 2016 silam.

Ketika itu sekitar pukul 01.00 dini hari, saya dan keluarga baru saja tidur karena baru saya bertamu ke tetangga.

Kami terbangun karena guncangan begitu keras, 7,3 SR. Respon saya hanya menelungkupi tubuh anak saya, yang kemudian terasa ada yang menimpa punggung. Beruntung hanya cermin.

Listrik padam, satu-satunya sumber cahaya berasal dari dua ponsel kami. Ya, dua Iphone kami menyala sekaligus berbunyi alarm menandakan ada bahaya. Di Jepang memang peringatan dini kepada warga saat ada bencana bisa lewat ponsel.

Berasal dari dua ponsel tersebut kami dapat cahaya yang membantu kami keluar ruang apato yang sudah porak poranda.

Sesampai di lantai bawah, kami menuju tempat parkir mobil yang sudah cukup aman. Gempa susulan terus bergemuruh.

Karena panik, saya lupa membawa alas kaki. Sempat berfikiran untuk kembali ke apato untuk ambil sandal atau sepatu. Namun tiba-tiba saya dihadang oleh seorang anak muda. Ia menyatakan bahwa itu berbahaya.

Anak muda ini ternyata cukup cekatan. Tanpa pakai kesepakatan, dia seperti menjadi pemimpin kami berjalan menuju tempat pengungsian.

Perjalanan yang cukup menegangkan, karena harus jalan kaki sementara gempa terus bergemuruh. Suara gedung-gedung bergetar, tiang-tiang listrik yang bergesakan menambah rasa khawatir.

Sesampainya di lapangan, saya bersama ribuan orang lain. Lapangan tersebut cukup besar, mungkin selebar 3 lapangan sepakbola. Di situ ternyata sudah berdiri sebuah tenda portable yang menyediakan pinjaman jaket dan sepatu. Saya langsung pinjam beberapa, untuk saya pakai sendiri dan beberapa WNI yang saat itu bernasib sama, kedinginan karena tak sempat bawa sepatu dan jaket.

Di lain waktu, ponsel saya muncul peringatan mengenai kemungkinan akan ada bencana banjir. Kebetulan saya tinggalnya hanya berjarak kurang dari 100 meter dari sungai besar.

Pada peringatan tersebut muncul kapan perkiraan banjir akan datang, sekaligus memberikan arahan kemana sekiranya akan mengungsi jika benar-benar air bah itu menyerang.

Meskipun banjir tersebut akhirnya tidak terjadi, namun paling tidak malam itu kita menjadi waspada sekaligus sudah tahu bagaimana bertidak jika ternyata benar-benar ada banjir.

Saya ingin menulis ini sejak lama, namun sengaja ambil jarak dengan Tsunami Banten yang terjadi beberapa hari yang lalu.

Kenapa saya ambil jarak? Karena ingin mengendapkan suasana. Saya tak pernah punya ketegaan untuk menguar kritik saat bencana belum mengeringkan air mata mereka yang tengah berduka.

Alasan lainya, sekarang lagi musim orang-orang gampang baper. Karena memuja tokoh, menjadi pengikut kelompok politik tertentu, tak bisa menangkap keluh kesah rakyat, kritik dan sejenisnya. Semua hal dianggap politis, bahkan akan mudah meluncur tuduhan “politisasi bencana”.

Beberapa hari lalu, Ifan Seventeen mengeluhkan mengenai peringatan dini atau informasi soal sebuah bencana dari institusi resmi yang tak presisi. Saya melihat sendiri di Twitter ada yang merespon keluhan Ifan tersebut dengan menulis: “Sedang berkabung atau bahas politik sebenarnya ya?”

Seseorang kehilangan istrinya, kawan-kawanya dan sempat harus berjuang menyelamatkan nyawanya, ketika berkeluh kesah pun masih direweli.

Harus kita akui jika kita memang punya masalah serius soal peringatan dini bencana.

Di Palu, peringatan Tsunami sempat dicabut, namun ternyata betulan terjadi Tsunami. Ini jelas masalah, bukan?

Saat di Banten, sesaat setelah kejadian malah sempat bilang itu bukan Tsunami, tetapi hanya air pasang. Ini bukan masalah?

Indonesia konon berada di wilayah yang punya potensi bencana yang cukup besar, sehingga wajar rakyatnya punya konsen untuk menuntut langkah pemerintah dalam memberikan perlindungan.

Apa setiap yang sambat dianggap menyerang pemerintah, dan kemudian dilabeli sebagai kelompok oposisi.

Saya sempat dongkol saat di Facebook ada yang mengeluhkan macet panjang di jalan Malang-Surabaya. Tetiba ada yang berkomentar dengan nuansa politik: “Nih, masih bilang tidak butuh tol?”

Jujur, Terkadang jika mangkel saya punya pikiran tak baik juga. Misal orang yang bilang itu ketika menjadi pihak yang terdampak Tsunami akan saya bisikin pelan-pelan: “Alat deteksi Tsunami sudah tidak beroperasi sejak 2012 karena hilang dan kurang biaya operasional. Masih butuh jalan tol?, Su!”

Ini memang tahun politik, namun apakah karena tahun politik maka rakyat ditutup juga pintu untuk bersuara mengkritisi pemerintah? Hati dan otakmu sudah tidak punya kepekaan untuk membuat garis agar bisa memberakan mana dan kapan seseorang jadi Presiden dan Calon Presiden?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here