Dildo, Karena Ada yang Impoten

76 views

Teman saya khawatir dengan kata “dildo” yang belakangan ini populer, selaras dengan mencuatnya tokoh Nurhadi-Aldo di media sosial. Sebab, menurutnya, kata tersebut punya arti yang tak baik.

Saya pribadi tidak terlampau khawatir. Jangankan kata dildo, pada suatu forum yang berisis sekitar 30-40 orang yang kebanyakan anak muda, mereka banyak yang menggeleng saat saya tanya apakah tahu arti dari binatu? Binatu saja mereka tak paham, apalagi dildo.

Teman saya tersebut, menurut saya, malah berpotensi menjadi bagian dari pihak yang mempopulerkan kata yang dia sendiri anggap tabu tersebut. Hehehe…

Pikiran saya perihal munculnya sosok Nurhadi-Aldo (Dildo) bukan tentang arti dari kata itu. Saya menangkap bahwa populernya Dildo adalah salah satu sinyalemen bahwa ada yang bermasalah dalam politik di negeri kita.

Dunia perpolitikan kita belakangan ini menjadi begitu dangkal, sempit, dikotomis. Para elite politik yang juga diikuti oleh para pendukungnya lantas menyodorkan pilihan dilematis ke rakyat, pilih kubu A atau kubu B.

Jika memilih A maka ada semacam keharusan untuk menolak, membenci, mencaci dan meniadakan apapun saja yang berkaitan dengan kubu B. Begitu pula sebaliknya. Seolah tidak diberikan ruang kepada siapapun saja yang jenuh dengan pertikaian kelas receh itu.

Maka muncul Dildo sebagai bentuk ungkapan keresahan bahwa Indonesia ini tidak cuma dua ruang sempit. Ada pula kelompok lain yang jengah, jijik dengan apa yang ada.

Mereka yang tengah berkompetisi, baik kandidat ataupun tim horenya terkesan jumawa, seperti Indonesia ini hanya mereka saja. Memaksa siapapun saja untuk turut berkelahi di medan pertemuran yang kotor tersebut.

Dildo atau mungkin akan muncul yang lainnya adalah gambaran betapa rakyat butuh alternatif lain untuk memuaskan dirinya. Sebab, elite politik yang ada selama ini dianggap impoten, lemah, sehingga tidak pernah bisa membuat rakyat merasa sampai dipuncak kenikmatannya sebagai manusia yang bebas, tak terjajah, terlindungi hartanya, aman nyawanya, terjamin pendidikannya, tak perlu khawatir biaya kesehatannya dan lain sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here