Debat Televisi

80 views

Sejak era reformasi, demokrasi di Indonesia sepertinya bangkit dari tidur panjang. Banyak hal yang berubah dalam wajah demokrasi di negeri ini sejak tergulingnya Orde Baru. Salah satu hal yang menunjukkan perubahan besar adalah media massa, mereka seakan-akan terbebas dari kekangan selama beberapa dekade. Suara media sepertinya lebih lantang, bahkan dalam kondisi tertentu bisa sangat berani.

Program-program televisi yang mengangkat semangat demokrasi hadir di ruang keluarga masyarakat setiap hari. Salah satunya adalah acara diskusi atau debat. Hasrat rakyat untuk berpesta dalam kebebasan berpendapat ditangkap oleh industri pertelevisian. Kegemaran masyarakat tentang diskusi dan perbedatan disambut oleh pelaku bisnis media televisi dengan menyajikan program yang bertajuk diskusi atau bahkan lebih sering tentang perdebatan.

Semangat yang menggelora akan kebebasan berekspresi bertemu dengan media massa, terutama televisi, di mana televisi saat ini sangat sulit untuk dilepaskan dari dominasi akan unsur industri. Maka, mau tidak mau, suka ataupun tidak, pertemuan dua hal ini lantas akan memasukkan unsur pertunjukan dalam setiap acara-acara yang disajikan.

Konsep yang ditawarkan ke masyarakat oleh media televisi sering sangat atraktif. Peserta diskusi atau debat di televisi di belakang panggung menyiapkan materi, belajar menyusun kata dan lain sebagainya, sementara tuan rumahnya sibuk mempersiapkan konsep yang bisa menarik penonton sebanyak-banyaknya.

Maka tidak perlu heran saat beberapa tahun yang lalu, ada sebuah acara televisi swasta yang bertajuk debat, di mana dalam acara tersebut dua kubu yang saling berdebat dimulai atau diakhiri oleh sebuah tanda berupa bel yang bunyi dan cara membunyikan sama dengan bunyi bel yang ada di sisi ring tinju. Debat atau diskusi yang disajikan lantas bukan lagi dikesankan sebagai sebuah adu pendapat, namun sudah seperti sebuah pertandingan, sebuah tontonan.

Belakangan juga sangat marak muncul di layar kaca sebuah acara debat yang diikuti para calon kepala daerah. Fenomena ini sepertinya menjadi sebuah tren dalam dunia perpolitikan kita, hal ini terjadi sejak adanya debat calon Presiden Republik Indonesia beberapa tahun lalu.

Jika disimak, acara perdebatan para calon kepala daerah bahkan calon presiden tersebut sudah mengalami degradasi pada tujuannya. Pendukung yang hadir di depan panggung bersorak-sorai dengan segala atributnya. Para pendukung kandidat yang hadir dalam perdebatan tersebut sepertinya sama sekali dihadirkan tidak untuk mendengarkan esensi diskusi, mereka seperti sebagian dari penyemarak sebuah tontonan.

Penonton di rumah kemudian juga sebagian besar terjebak pada situasi ini. Debat calon kepala daerah ataupun debat-debat dengan teman lainnya kerap kali hadir dengan tujuan untuk siapa yang menang. Perdebatan ataupun diskusi lebih cenderung unsur kebisingannya dibanding dengan kekuatan argumentasi. Penonton menunggu jagoannya bisa menjatuhkan lawan diskusinya dan akan bertepuk tangan gembira jika lawan kalah atau bahkan mereka menginginkan lawan jatuh pada titik keterhinaan.

Dalam situasi yang sudah semacam ini, lantas yang sering menjadi muncul adalah sebuah pertanyaan mendasar: apakah tujuan dari perdebatan di televisi-televisi itu? Apakah harus ada yang menang dan yang kalah? Lantas bagaimana penilaiannya?

Jika melihat kualitas perdebatan dan diskusi yang sering muncul di televisi kita saat ini, maka sepertinya kita sesegera mungkin menghapus optimisme tentang akan adanya konsesus setelah sebuah diskusi selesai. Diskusi yang pada akhirnya bisa bertujuan untuk mempertemukan dua pendapat yang berbeda, lantas menghasilkan sebuah kesepakatan, namun yang sering terjadi malah sebaliknya.

Setiap perdebatan memang tidak selalunya harus berakhir pada sebuah titik dimana kedua kubu menjadi menyakini sebuah pendapat yang sama. Sebuah diskusi harusnya minimal bisa menelurkan sebuah pemahaman pada diri: “Oh, karena itu dia berbeda dengan saya”. Teramat sulit jika harus dipaksakan untuk bisa sepaham dalam durasi diskusi yang sedemikian pendek, namun menamkan di hati sebuah tujuan sebelum memulai diskusi bahwa tujuannya tidak harus tentang lawan dipaksa satu pendapat dengan kita.

Melangkah masuk ke sebuah perdebatan sering kali tidak harus tentang penguasaan kita tentang materi, akan tetapi juga menekankan pada diri sendiri bahwa ada hal yang jauh lebih tinggi nilainya dibanding hanya sebuah ekspresikan pendapat yang diyakini.

“Jika ingin benar-benar ingin tau rasa teh yang dimiliki orang lain, maka kosongkan cangkir Anda”. Itu sebuah wejangan yang sangat patut untuk kita pertimbangkan untuk kita bawa sebelum hadir atau mengikuti sebuah diskusi atau debat. Perdebatan tidak selalu tentang orang lain harus mengerti pendapat kita, namun juga tentang kita yang bisa memahami pendapat orang lain.

Kembali tentang televisi, jika diskusi dan perdebatan dikemas secara “konservatif”, bahwa debat adalah tentang memahami pendapat orang lain dan jauh dari unsur “pertempuran” maka hal itu tidaklah sejalan dengan semangat media televisi yang belum bisa terlepas dari dominasi akan komersialisasi.

Televisi mungkin tidak serta-merta menolak tujuan mulia akan sebuah diskusi. Akan tetapi jika kemasannya terlalu biasa, maka kesan atraktif yang diinginkan dan ditekankan dalam industri ini tidak akan hadir. Televisi sepertinya sangat enggan jika kehilangan unsur tontonannya, harus ada yang bersifat sensasional sehingga penonton rela untuk berlama-lama berada di channel mereka.

Tujuan murni akan dialog dan diskusi akan tersandera oleh kekuatan komersialisasi yang dituntut oleh media televisi, maka suka ataupun tidak yang terjadi saat ini adalah sebuah pendangkalan makna akan sebuah diskusi.

Maka jangan terlalu heran ketika “quality control” mereka kurang maksimal terhadap materi diskusi atau orang-orang yang diundang untuk hadir dalam diskusi. Mereka tidak boleh kehilangan unsur sensasional dan atraktif dalam mengkonsep sebuah acara diskusi. Tema yang dihadirkan harus menggelegar, orang-orang yang diundang juga harus punya kekuatan sensasionalitas.

Berdasar hal tersebut, maka akan sering kita jumpai diskusi dengan tema yang dangkal dan yang diundang adalah mereka yang kurang kompeten. Bisa juga sering dijumpai, televisi sering menghadirkan mereka yang punya track record yang kurang baik dalam kesantunan ataupun kesopanan. Tetapi, kembali masalah sensasional tadi, maka orang-orang semacam ini yang malah sering diberi panggung.

Kejadian beberapa bulan lalu, di sebuah acara siaran langsung di sebuah televisi swasta di mana dalam diskusi tersebut terjadi peristiwa yang memalukan. Sosiolog Tamrin Tomagola di siram segelas air minum oleh juru bicara Fron Pembela Islam (FPI), Munarman.

Dalam semangat demokrasi, memang semua orang punya hak untuk berpendapat. Akan tetapi, televisi sebaiknya juga tanggung jawab moral terhadap kualitas tontonannya. Televisi sebaiknya sudah mengetahui track record orang yang akan diundang dalam acaranya dan di sini lah tanggung jawab moral itu dituntut, bahwa mereka sepatutnya mempertimbangkan dengan matang tentang siapa saja yang pantas untuk diberi panggung.

Namun, apakah benar-benar televisi kita mampu mengedepankan tanggung jawab moral tersebut, atau masih saja terbelenggu oleh tekanan dari kekuatan politik dan komersialisasi?

Desember 2013

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here