Percayalah, Polisi Baik Itu Ada

124 views

Jum’at (25/1/2019), sekitar pukul 13:00, istriku kehilangan dompet dan ponselnya saat naik motor. Dia tidak bisa memastikan, dompet itu terjatuh atau sengaja dipindah oleh orang lain.

Meski demikian, saya punya asumsi kuat jika barang-barang itu terjatuh dan penemunya ada kemungkinan mau memgembalikan. Salah satu hal yang menguatkan dugaan saya tersebut adalah masih aktifnya ponsel.

Namun pukul 14:00, ponsel tersebut sudah tidak aktif lagi. Kontan saya mengubah asumsi saya mengenai niat baik pembawa ponsel istriku. Segera saya pulang untuk memblokir kartu-kartu yang ada di dompet. Mulai rekening, semua kartu kredit hingga akun-akun seperti gojek dan sejenisnya.

Sore harinya saya dan istri ke Polsek Blimbing untuk minta surak keterangan kehilangan. Semua itu kita maksudkan untuk keperluan administrasi dalam mengurus pergantian kartu-kartu penting. KTP, STNK, ATM dan lain sebagainya.

Saya sebenarnya telah cek melalui fasilitas google find. Saya menemukan satu titik lokasi di mana akun istri saya tersebut terakhir aktif, itu menjukkan posisi terakhir ponsel tersebut. Namun saya menyadari bahwa itu tidak bisa menjadi bukti untuk pelaporan ke Polisi. Salah satu hal yang pasti adalah, titik tersebut tidak 100% akurat.

Kami mencoba untuk merelakan itu semua. Meski sempet saya bilang ke istri untuk menyiapkan sejumlah uang, siapa tahu penemunya berkeinginan untuk mengembalikannya. Sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan kepada siapapun yang berbuat baik, meskipun belum tentu yang berniat baik tersebut punya pamrih untuk medapatkan imbalan.

Sekitar pukul 19:00 saya iseng untuk menelpon nomer ponsel istri saya yang hilang. Ternyata aktif dan diangkat oleh seseorang. Pria dengan intonasi suara yang memurut prediksi saya bukan lagi muda.

Saya pelan-pelan berbicara dengannya, ingin mengetahui seperti apa maunya dia. Pria di ujung telpon ini mengaku sebagai perantara. Temannya yang di Probolinggo menemukan dompet dan ponsel dan dia adalah orang yang ingin mengembalikan barang-barang saya tersebut.

Tanpa basa basi, dia menyebutkan ingin mendapatkan sejumlah uang dari saya sebagai tebusan. Angkanya cukup tak masuk akal bagi saya. Karena sudah jauh dari harga ponsel itu sendiri. Sepertinya dia paham bahwa isi dompet yang ditemukannya banyak barang-barang penting dan itu menjadi nilai tawar lebih baginya.

Saya yang sebelumnya sudah menata hati untuk rela itu semua hilang dan juga menyiapkan sejumlah uang kalau-kalau ada yang berniat mengembalikan, tiba-tiba marah. Saya memang tidak suka dipermainkan seperti itu.

Bingung juga saya dengan pembawa dompet dan ponsel itu. Misalkan ingin berbuat baik, kembalikan saja dan pansti saya bukan orang gila yang tak mengerti rasa terima kasih. Jika memang mau memiliki, tinggal jual saja ponselnya, buang isi dompetnya. Kalau mau sedikit berniat baik, kembalikan dompetnya dan miliki ponselnya.

Kenapa harus minta tebusan? Entah benar atau salah, saya merasa ada unsur pemerasan.

Segera saya ke Polsek Blimbing, malam itu juga. Berniat untuk berkonsultasi sekaligus melaporkan apa yang saya alami.

Bertemu saya dengan Bripka Teguh. Kita bicara banyak malam itu. Bahkan sampai tengah malam. Bripka Teguh menyatakan jika besok paginya saya akan dihubungi petugas dari Polres Malang Raya untuk kelanjutannya.

Esok paginya, Sabtu (26/1/2019), saya ditelpon oleh Pak Aji (beliau tak bersedia disebut nama lengkap dan pangkatnya, takut riya’ katanya). Beliau menyatakan bahwa nanti ada tim yang akan menangani kasus saya. Sekaligus meminta maaf tidak bisa langsung dia sendiri menyelesaiakan karena sedang di luar kota untuk urusan keluarga. Sampai di sini saya langsung salut. Ketika cuti masih bersedia sibuk tangai kasus. Bukan kasus besar pula.

Sekitar pukul 09:00, saya kembali menelpon pembawa ponsel dan dompet istri saya. Pada telepon kedua ini, pelaku sempat sedikit menaikan lagi nilai tawarnya, dia menyatakan dompetnya sudah tidak ada karena dibawa oleh temannya. Saya jengkel saat itu, tetapi tetap terkontrol, saya tak ingin dia berubah pikiran. Sebab, dengan kepolisian, saya telah merencanakan penjebakan.

Saya deal dengan nilai tebusan yang disebut pelaku dan kemudian membuat janji ketemu. Jam 16:00 di suatu tempat.

Pukul 15:00, dua orang polisi datangi rumah saya. Mereka adalah Brigadir Sutomo dan Briptu Nindi Asatullah. Kita lantas bicara tekhnis penjebakan.

10 menit sebelum waktu yang dijanjikan, saya sudah di lokasi. Sementara dua polisi yang tak pakai baju dinas tadi sudah siaga di titik tertentu untuk mengawasi saya. Sebelum pelaku datang, ada lagi polisi datang ikut mengawasi (belakangan saya ketahui beliau bernama Aiptu Imam Subekti).

Pelaku datang menggunakan motor matic. Tanpa membuka helm dan maskernya, dia menyerahkan dompet dan ponsel saya. Ketika saya memastikan semua barang masih lengkap, tiga polisi tersebut langsung merapat.

Terus terang saya sempat kaget, waktu pelaku buka maskernya. Ternyata pelaku sudah cukup berumur, mungkin hampir 50 tahun, atau mungkin sudah lebih.

Setelah dicecar pertanyaan oleh polisi, akhirnya dia mengaku bahwa bukan orang Probolinggo dan dia bukan perantara seperti yang dikatakan kepada saya.

Agar tak menarik perhatian masyarakat, kita bawa pelaku ke pos polisi terdekat untuk interogasi lebih lanjut.

Sejam kemudian, setelah dikorek keterangan dan saling bernegosiasi, kami memutuskan untuk memaafkan pelaku. Sejujurnya saya kasihan dengan pelaku. Sudah tua dan mengaku hanya tukang ojek.

Saya sempat berpesan pada pelaku, “Bapak mungkin berniat baik, tapi agak serakah.” Sebelum meninggalkannya, sempat saya sisipkan uang sewajarnya sebagai bentuk simpati saya.

Dengan tulisan ini saya bersaksi bahwa dalam penanganan kasus ini, saya tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk polisi. Malah yang ada, saya dibelikan kopi dan diajak ngobrol santai penuh keakraban. Padahal mereka semua adalah orang yang baru saya kenal hari itu juga.

Sekali lagi, terima kasih buat Pak Bripka Teguh, Aiptu Imam Subekti, Brigadir Sutomo, Briptu Nindi Asatullah dan Pak Aji (yang tak bersedia disebut nama dan pangkatnya). Bapak-bapak sekalian kembali menguatkan kepercayaan saya, bahwa polisi baik itu ada, dan banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here