Sanggring, Tradisi Unik di Lamongan Berusia Ratusan Tahun

64 views
Sumber: timesindonesia.co.id
Sumber: timesindonesia.co.id

LazNews! – Di salah satu wilayah di Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, ada sebuah tradisi yang cukup unik. Tradisi tersebut dinamai Sanggring, yakni memasak jamuan yang sama sekali tidak melibatkan perempuan. Semua makanan yang akan disantap dalam jamuan tersebut dimasak oleh lelaki di kampung tersebut.

Salah satu alasannya adalah kaum pria dianggap tidak terganggu dengan hadas, seperti halnya perempuan.

Seperti diwartakan detik.com, tradisi ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Sanggring sendiri merupakan masakan berbahan dasar ayam yang dibumbui rempah-rempah. Dan tradisi jamuan ini untuk para tamu dan sedekah bumi dengan jumlah piring yang sudah ditentukan yakni 44 buah.

Sanggring merupakan tradisi yang diwariskan oleh sesepuh desa setempat, yakin Ki Buyut Terik sejak ratusan tahun lalu.

“Ceritanya Sanggring ini untuk menjamu. Dulu kan ada seperti prajurit, mengundang teman-teman untuk jamuan makan, mengerahkan anak buahnya atau murid-muridnya untuk memasak Sanggring ini,” tutur Aris Pramono, Kepala Desa Tlemang, Senin, (4/2/2019), dikutip dari timesindonesia.co.id.

Makanan yang disajikan juga dipercaya sebagai obat. Menurut Aris, Sanggring juga merupakan ritual pensucian. “Karena orang laki-laki kan nggak punya hadas,” katanya.

Mengenai cara masak dan jenis masakan, Aris menuturkan jika tidak ada ritual khsusu selama masak. Meski demikian, meski ada sesepuh yang mendampingi. “Sanggring adalah masakan berbahan dasar ayam yang dibumbui sedemikian rupa,” kata Aris

Ia juga menjelaskan bahwa Sanggring merupakan perjamuan makan dari prajurit-prajurit pada zaman dahulu. Kala itu, ada seorang prajurit yang mengundang teman-temannya makan bersama. Dia kemudian mengerahkan anak buah dan murid-muridnya untuk memasak Sanggring.

Sementara itu, Yanto, salah satu warga menjelaskan bahwa semua bahan sudah disediakan oleh warga. Bahkan tahun ini, mereka memotong 124 ekor ayam. “Semuanya sudah diberi oleh warga, ayam lengkap dengan bumbu jangkep dan kayu bakar. Terserah warga mau memberi ayam apa, jantan atau betina terserah. Tapi kalau dulu harus berwarna hitam, kalau sekarang tidak,” ujar Yatono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here