Suara Seharga Sejuta Pabrik Permen Karet

Beberapa hari lalu berseliweran sebuah foto menarik di linimasa halaman Facebook saya. Pada foto itu ada sebuah baliho sangat besar yang berjudul “Harga Diri & Harga Suara”.

Baliho tersebut semacam imbauan kepada masyarakat tentang Pemilu yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat ini. Mencoba memberi gambaran bahwa jika ada yang mencoblos seseorang karena telah diberi uang Rp. 100.000, itu sama saja menjual suara Rp. 55,5 per hari. Lebih murah dibanding harga sebiji permen karet.

Tujuannya mungkin memberikan kesadaran kepada rakyat agar tidak terlibat pada politik uang.

Imbauan itu benar dan baik sebenarnya. Akan tetapi, itu rasanya tidak signifikan hasilnya. Sebab tidak ada solusi yang ditawarkan.

Rakyat yang mau “menjual” suaranya tentu punya alasan. Pragmatis. Bagi mereka, itulah jalan paling praktis untuk bisa mendapatkan sesuatu dari calon pemimpin atau calon legislatif.

Bahkan bukan sekedar praktis, tetapi memang jalan satu-satunya bagi mereka untuk bisa merasakan fungsi pemimpin atau legislatif.

Selepas pemilu, rakyat ini tidak pernah merasa punya kesempatan secara langsung mendapatkan faedah dari yang namanya wakil rakyat atau kepala daerah.

Jadi, menurut saya, sebelum berkampanye untuk tidak menerima uang dari caleg, alangkah baiknya ciptakan dulu saluran-saluran komunikasi yang bisa menghubungkan antara rakyat dan wakil rakyat. Tentu saja bukan sekedar saluran, namun yang jelas dan nyata terbukti bisa menyelesaikan problem-problem yang ada.

Jika cuma menyindir orang yang menerima uang Rp. 100.000 sebagai orang yang menjual suaranya lebih murah dibandingkan harga sebutir permen karet, maka orang tersebut akan membalas dengan mudah: “Daripada kamu, ngasih suara gratisan. Jadi siapa yang lebih pinter?”

Tentu saja tulisan ini bukan membenarkan politik uang. Akan tetapi ini adalah refleksi kepada siapa saja yang peduli dengan wajah demokrasi kita. Bahwa menyalahkan mereka yang menerima uang tanpa mampu menciptakan dulu iklim demokrasi yang sehat, maka hasilnya tidak akan maksimal.

Saya juga kerap mendengar keluhan dari caleg-caleg tentang fenomena masyarakat yang enggan memberikan kepercayaan padanya jika tidak dikasih amplop. Maka saya sarankan untuk membangun kepercayaan dulu (ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan secara instan), ciptakan perangkat yang membuat rakyat bisa setiap saat mengkomunikasikan problem-problemnya. Bikin sejenis mesin pantau, agar rakyat bisa mengamati secara rinci perkembangan masalah yang dikeluhkannya.

Dengan itu rakyat lantas mempunya pilihan lain yang lebih logis. Bukan sekedar menerima uang atau tidak menerima apa-apa (termasuk mendapat manfaat adanya seorang pemimpin)

Jika sudah tercipta perangkat komunikasi dan mesin pantau tersebut, maka suara rakyat tak sekedar seharga sebiji permen karet, namun bisa saja senilai dengan sejuta pabrik permen karet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here