Bukalapak, Buka Otak

Achmad Zaky, CEO dari Bukalapak jadi bulan-bulanan sejak kemarin. Bahkan sampai muncul tagar #unistallbukalapak di Twitter. Jadi trending.

Gelombang protes itu bermula dari twit Zaky soal alokasi dana riset di Indonesia. Ia membandingkan dengan negara lain. Dia mengakhiri twitnya itu dengan pernyataan yang bikin gempar. “Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin,” tulisnya.

Frasa “presiden baru” tersebut lantas dimaknai sebagai bentuk dukungan Zaky kepada calon presiden penantang petahana, Prabowo Subianto.

Padahal, “Presiden baru” bisa saja bermakna presiden periode berikutnya Presiden RI 2019-2024. Itu bisa petahana, Joko Widodo (Jokowi) atau bisa juga Prabowo.

Tapi sudahlah, bukan itu yang ingin saya bahas. Saya berusaha menyoroti perihal respon masyarakat tentang twit Zaky tersebut.

Meski Zaky telah minta maaf, namun sudah banyak yang ikut gerakan menghapus aplikasi Bukalapak di telepon cerdas mereka.

Sedemikian bapernya masyatakat kita di tahun politik, dengan cuaca Pilpres. Suhu demokrasi berfluktuasi secara ekstrim hingga gampang membuat orang terkena demam otak.

Diskusi politik di ruang publik didominasi oleh hal-hal receh. Pertengkaran hanya pada soal-soal permukaan. Aksi boikot Bukalapak lantas dilawan dengan dengan aksi mempopulerkan tagar #DukungBukaLapak.

Sedikit, hampir tidak ada yang kemudian membahas sustansi masalah yang tengah dipertanyakan oleh Zaky. Dana Riset.

Cara memprotes Zaky bukannya dengan memaparkan rencana capres yang didukungnya soal dana riset. Lebih menikmati dengan cara emosional dan dangkal, boikot produk milik Zaky.

Pun begitu dengan mereka yang pro oposisi. Membela Zaky harusnya dengan menjelaskan bahwa Prabowo punya alokasi dana riset yang besar jika jadi Presiden. Bukan cuma perang tagar, membuat paling trending.

Rasanya kita tak akan benar-benar bisa berpolitik secara rasional. Menjawab atau mendukung kritik hanya mengandalkan emosional dan hal-hal absurd.

Populernya aksi uninstall Bukalapak memberikan gambaran bahwa kita memang perlu buka otak. Darurat.

Sedemikian rendahnya kah cara kita menunjukan sikap politik?

Pendukung Prabowo jangan bangga dulu, sebagian dari kalian juga pernah sekonyol itu. Ingat boikot Sari Roti?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here