Jokowi, Bukalapak dan Kita yang Harus Maklum

Pria tersebut menyalipku. Mengayuh sepedanya dengan cukup kencang, sepertinya terburu-buru. Namun belum sampai sepuluh meter setelah mendahuluiku, tiba-tiba dia mengerem secara mendadak. Suara rem dan ban yang terseret, membuat banyak orang di sekitar menoleh.

Ia yang bersepeda itu terhuyung menahan diri agar tak jatuh. Sementara itu, seorang wanita agak tua yang muncul secara tiba-tiba juga mundur selangkah, terkaget. Hampir saja mereka bertabrakan.

Serentak tanpa komando, dua orang yang nyaris celaka itu beradu pandang. Sama-sama sedikit merundukan kepala dan kemudian keduanya bererbut minta maaf.

Kaget saya dalam sekejap berubah menjadi kagum. Sebuah pemandangan yang menegangkan dalam hitungan beberapa detik berganti jadi pertunjukan mengharukan. Pola interaksi yang sosial yang sedemikian indah, penuh kemesraan.

Peristiwa yang sangat mungkin berpotensi konflik, begitu mudah terselesaikan. Kesediaan untuk meminta maaf lantas membatalkan upaya untuk mencari siapa yang salah. Kerelaan hati untuk mengakui kekeliruan yang kemudian dibalas dengan sesuatu yang sama oleh pihak lain, serta merta mengecilkan urusan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Sudah tidak penting lagi siapa benar dan pihak mana yang salah. Tidak ada lagi analisis berlebihan tentang siapa sebenarnya yang keliru. Gerak kepala sedikit merunduk, ucapan maaf dan tampilan mimik muka bersalah menjadikan ketegangan itu sirna secepat kilat.


Achmad Zaky, CEO BukaLapak segera meminta maaf tatkala cuitannya di Twitter menuai gelombang protes. Bahkan tagar #UninstallBukalapak sempat trending.

Zaky tidak banyak melakukan pembelaan atas komentarnya yang diterjemahkan oleh sebagain orang sebagai bentuk dukungan kepada kelompok oposisi. Meski tetap ada peluang untuk menjelaskan bahwa cuitannya tersebut tidak bermaksud masuk dalam polemik kontestasi Pilpres, tetap saja Zaky mengambil jalan bijak, langsung minta maaf. Tidak banyak berceloteh.

Esoknya, Zaky lantas diundang oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait gonjang ganjing tagar itu.

Usai pertemuan tersebut, Zaky menyatakan bahwa dirinya telah menyampaikan secara langsung permintaan maaf kepada Jokowi.

Di sisi lain, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung di Twitter memposting foto pertemuan Presiden dan Zaky dengan menuliskan sesuatu yang terasa oleh saya kurang nuansa cintanya.

“Presiden @jokowi menerima CEO BukaLapak sdr A Zaki, menyampaikan permohonan maafnya. Presiden meminta untuk Uninstalls BukaLapak dihentikan, krn Presiden mendorong Treveloka, Tokopedia, Gojek dan BukaLapak menjadi lbh besar #JokowiOrangnyaBaik,” tulisnya.

Tiba-tiba saya berandai-andai jika saja kalimat Pak Pramono tersebut dihilangkan kata-kata “menyampaikan permohonan maafnya”. Tentu jadi sebuah dialog yang indah seperti apa yang saya saksikan antara pesepeda dan pejalan kaki yang hampir bertabrakan itu.

Kerelaan dan pemilihan sikap antara pengendara sepeda dan pejalan kaki menunjukan tidak ada yang merasa dominan. Keduanya saling merendahkan posisinya dengan jalan meminta maaf. Indah, sangat indah.

Saya tidak pernah tahu apa yang ada dalam hati mereka, pesepeda dan wanita tersebut. Akan tetapi apa yang dinampakan di luar bermakna bahwa keduanya rela untuk tidak menjadi pihak yang benar.

Pak Pramono pasti tidak salah, karena yang dikatakannya memang fakta. Namun apakah itu indah dalam pola komunikasi? Setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri, tetapi bagi saya akan lebih sejuk jika menahan diri untuk tampil dominan.

Gundah saya sebenarnya berlanjut ketika membaca berita yang berisi pernyataan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki. Ia menyatakan bahwa Jokowi telah menasehati Zaky agar berhati-hati.

“Jadi Beliau (Presiden) menasehati Zaky supaya lebih hati-hati,” kata Teten Masduki usai mendampingi Jokowi bertemu Zaky, dikutip dari kompas.com.

Lagi-lagi yang saya rasakan bukan upaya menyetarakan posisi seperti kisah hampir tabrakan di atas. Apa yang disampaikan oleh Teten malah saya anggap kurang mampu membawa kejadian itu menjadi sebuah peristiwa yang indah. Sebab tercium aroma keinginan untuk menunjukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

Saya sebelumnya membayangkan, selepas bertemu Zaky, orang-orang Istana memberikan keterangan kepada wartawan dengan bahasa yang cantik. “Presiden menganggap Zaky tidak bersalah, jadi tidak perlu meminta maaf. Presiden memahami maksud baik Zaky dan pemerintah telah memberikan penjelasan secara baik.”

Namun apa daya, di kasus Bukalapak ini sejujurnya saya kurang puas karena tidak bisa lagi menyaksikan pemandangan penuh kemesraan seperti insiden hampir tabrakan itu. Dan sepertinya, saya, kita, yang harus memulai kemesraan itu dengan memakluminya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here