Tentang Kafir dan Larangan Buang Sampah

Di sebuah kompleks perumahan tak jauh dari rumah saya, ada beberapa tanah yang masih kosong. Kompleks perumahan itu tidak besar, tak lebih dari 50 rumah dan cenderung tertutup.

Jalan yang ada di perumahan itu bisa dipastikan yang lalu lalang 90 persen adalah penghuni kompleks tersebut. Jalannya bukan jalan umum, bahkan selepas maghrib salah satu gerbangnya dikunci. Orang luar praktis tak bisa masuk.

Di salah satu tanah kosong, di tengah kompleks tersebut ada semacam banner peringatan. Tertulis sebuah imbauan, bunyinya: “Dilarang buang sampah di sini”.

Mungkin bagi sebagian orang, memasang imbauan semacam itu sudah jamak terjadi. Sering kita melihat di beberapa tempat yang menuliskan imbauan-imbauan seperti itu. Tidak hanya soal sampah, kadang ada tulisan peringatan di pagar rumah seseorang: “Dilarang parkir di depan pagar”. Bahkan pernah saya lihat di sebuah pojok deretan ruko, di temboknya ada tulisan “Jangan kencing di sini”.

Cuma mari kita merenung sejenak, kenapa ada imbauan sejenis itu? Apakah pemilik properti itu tanpa dasar apapun kemudian bikin pengumuman berupa tulisan? Atau mereka punya pengalaman buruk di lokasi tersebut sehingga merasa perlu membuat imbauan terbuka.

Saya berani bilang bahwa hampir bisa dipastikan orang yang menempel tulisan larangan parkir di depan pagarnya itu lantaran sangat sering terganggu dengan orang lain yang parkir mobil di depan rumahnya.

Saya berani pastikan bahwa orang yang menuliskan larangan kencing itu, sebelumnya sudah sangat jengkel atau terganggu dengan orang-orang yang buang air sembarangan di ruko yang ditempatinya.

Saya punya dugaan bahwa orang yang memasang banner larangan buang sampah di tanah kosong miliknya, sebelumnya mendapati lahan kosong miliknya itu banyak sampah. Ia ingin tidak ada lagi orang sekitar situ membuang sampah di properti yang dimilikinya.

Tidak buang sampah atau buang air di sembarang tempat itu sesuatu yang alamiah dilakukan oleh orang berpikiran sehat. Jika sampai sebuah keluar larangan, diterbitkan aturan tertulis, maka itu kemungkinan besar dikarenakan ada ketidakmampuan orang sekitar menjaga norma sosial, etika standar sebagai manusia. Masak untuk tidak kencing di sembarang tempat kamu perlu aturan tertulis? bukannya cukup hanya dengan berfikir waras tidak akan melakukannya?

Jika saya ketua RT kompleks perumahan yang saya sebutkan di atas, maka akan saya panggil pemilik tanah. Menggali informasi, apakah sebelumnya ada yang buang sampah di tanah kosongnya itu, sehingga dia perlu memuliskan imbauan?

Sebab, sebagai Ketua RT atau mungkin warga kompleks, saya akan malu jika ada orang luar masuk perumahan tersebut kemudian meliat ada banner dari sebuah lahan kosong tentang larangan buang sampah. Pengumuman itu secara langsung atau tidak telah memberikan gambaran bahwa warga komplek perumahan itu suka buang sampah sembarangan.

Nah, kita kemudian coba merenung kembali. Apa urgensinya sampai perlu terbit larangan menyebut kafir ke orang yang tidak memeluk Islam?

Apakah di negerimu ini, di pergaulan sehari-hari, sangat banyak muslim yang menyapa orang lain yang tak seiman dengannya dengan sebutan “Hei, Kafir”?

Apakah ada (banyak) perda atau aturan resmi di negara ini yang di dalamnya menggunakan kata “kafir” untuk menunjuk orang-orang non-muslim?

Jika memang sudah sedemikian parahnya, maka cukup wajar ada imbauan pelarangan penyebutan kafir bagi warga non-muslim.

Tetapi jika ternyata tidak begitu signifikan, maka wajar pula kalau ada yang merasa tak nyaman. Karena ada larangan itu menggambarkan seolah-olah sangat banyak yang gak ngerti sopan santun, tak paham etika sehingga memanggil orang yang berbeda agama dengan sebutan kafir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here