Mereka Tak Beradab ke Ulama, Kita Punya Hak Moral Mengingatkan?

Waktu Ust Basalamah sempat “ditolak” ceramahnya di Jatim beberapa tahun lalu, saya termasuk yang menentang penolakan itu. Meski demikian, saya memahami nuansa batin orang yang menginginkan beliau tak ceramah.

Memahami nuansa batin bukan berarti setuju penolakan yang dilakukan.

Setiap peristiwa anggap sebagai akibat, hingga kita bisa punya keleluasaan hati untuk kemudian menemukan berbagai sebab di belakang peristiwa itu sendiri.

Secara kasat, anggaplah mereka layak disebut tak menghargai ulama. Namun, sila pelajari lebih lanjut apa sih yang melatarbelakanginya? Karena manusia secara normal tidak akan punya kemampuan diri untuk memperhinakan orang lain. Mereka juga pasti tak iseng berbuat itu, terlebih melakukan sesuatu yang sangat besar potensinya dianggap memperhinakan ulama.

Ini masa di mana polarisasi politik sedemikian kuat. Harus berani mengakui bahwa sebagian ulama masuk (atau dianggap masuk) dalam pergolakan politik yang makin dikotomis.

Masyarakat juga telah terbagi oleh polarisasi politik itu. Ketika mendapati ada ulama yang berada di kubu yang berseberangan dengan pilihan politik seseorang, maka orang tersebut besar kemungkinan akan terpengaruh pandanganya mengenai ulama itu.

Ketika seseorang tersebut berperilaku yang menurut takaran kita tak beradab terhadap ulama, maka kita harus membuka dada, memahaminya sebagai efek samping dari betapa kuatnya pengaruh pergolakan politik saat ini.

Faktanya malah banyak elite yang mempertontonkan tindakan yang bisa dikategorikan tak beradab terhadap ulama. Ulama disindir secara terbuka, kamar ulama dimasukin dan bikin video lantas disebarkan, ulama ceramah dibully dan dituding terafiliasi dengan kelompok tertentu. Banyak!

Itu semua dilakukan oleh tokoh, elite politik. Masyarakat yang notabene sudah dipecah secara tegas pilihan politiknya kemudian mau tidak mau melihatnya. Menyaksikan bagaimana aura ulama terkikis oleh kelakuan para elite tersebut.

Jadi, kalo ada masyarakat kelas kroco berperilaku yang kita terjemahkan tak beradab terhadap ulama (yg penting bukan caci maki, fitnah dan sejenisnya) maka usahakan santai sedikit, lah. Bukan setuju atas tidakan mereka, namun pahami saja bahwa sikap itu hanya akibat.

Catatan lain, beranilah menunjukkan sikap tegas terhadap perilaku elite yang tak beradab ke ulama. Ulama yang manapun, yang jadi panutan kita ataupun yang jadi panutan orang lain. Sikap tegas itu akan menjadi legitimasi kita untuk memiliki hak moral untuk mengingatkan orang lain yang yang kita anggap berperilaku tak sopan ke ulama.

Kalo untuk perilaku tak beradab ke ulama yang dilakukan elite saja kita sungkan untuk menunjukan sikap. Lantas, atas dasar apa orang lain bisa percaya dengan kita saat mengingatkan untuk menjaga adab ke ulama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here