Suksesnya Iklan PSI

Lupa tepatnya tahun berapa, yang pasti sudah bertahun-tahun yang lalu, saya merasa takut dengan selera humor saya. Waktu itu saya tidak menemukan kelucuan dari iklan minuman yang bintang iklannya Raditya Dika.

“Apa cuma saya yang tak bisa tertawa dengan iklan ini?” tanyaku saat itu.

Gelisah, jangan sampai ada yang tak beres dengan selera saya. Raditya adalah komedian cukup terkenal. Bukunya sangat laris dan saat itu dia bikin film yang meledak, “Kambing Jantan”. Tetapi kenapa saya tak bisa menikmati joke dia?

Komedian dengan jumlah follower fantastis di medsos, populer dan bahkan, katanya, komedian muda paling kaya, tetapi tak bisa buat saya tertawa. Kayaknya saya perlu berobat.

Hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa selera seseorang akan sebuah komedi itu beragam. Banyak hal yang mempengaruhinya. Lingkungan, usia, ras dan lain sebagainya.

Pemahaman itu yang membuat saya kembali percaya diri bahwa saya baik-baik saja. Raditya punya “pasar” tersendiri, di mana orang macam saya tidak berada dalam target market dia. Seperti halnya saat ini, Atta Halilintar dengan video-video seperti itu bisa dapat 10 juta lebih subscriber.

“Cuma bikin begituan”, Atta punya banyak penggemar. Kata “cuma” itu dipengaruhi oleh selera saya. Bukan penghinaan. Tetapi apa yang saya anggap sebagai “cuma” itu punya pasar tersendiri. Sesuatu yang spesial bagi orang lain, yang sialnya orang lain itu ternyata jumlahnya lebih dari 10 juta. heheheā€¦

Salah satu hal yang mempengaruhi selera adalah bias generasi. Setiap era punya keunikan masing-masing yang membuat orang-orang yang hidup di waktu tersebut terpengaruhi seleranya. Misalnya soal musik. Orang diusia saya tentu punya kecenderungan menyukai musik 90an dan awal 2000an.

Kecenderungan tersebut tentu tidak serta merta menganggap musik era sekarang jelek. Tidak. Namun tak bisa dipungkiri bahwa perjalanan sejarah saya di era tersebut, dengan segala macam yang saya alami, akan membuat lagu era 90an atau awal 2000an adalah musik yang lebih nyaman di telinga dan hati.

Hal itu yang saya sebut bias generasi. Walau di setiap generasi pun sebenarnya bisa terbagi-bagi seleranya. Akan tetapi, dari semuanya itu jika ditarik garis resultan hingga secara general bisa disimpulkan di satu titik, “kebanyakan generasi A suka dengan yang seperti ini”.

Raditya tidak masuk selera humor saya kala itu, tetapi ada orang-orang di luar ada yang sefrekuensi dengan leluconnya. Bukan dia buruk, tetapi hanya karena tidak selaras saja dengan kecenderungan pribadi saya.


Belakangan banyak yang heboh dengan iklan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Grace Natalie dalam iklan tersebut mengeluarkan joke-joke tertentu. Materi guyonan ini lah yang akhirnya menghasilkan banyak perdebatan.

Saya sendiri mengatakan materi komedianya tidak membuat pecah tawa saya. Bahkan beberapa diantaranya saya anggap kurang gregetnya. Saya juga menebak, anak-anak milenial pun tidak menemukan gelegarnya dalam iklan tersebut.

Aneh. PSI yang selalu menggaungkan dirinya sebagai partainya anak milenial tetapi menggunakan iklan dengan materi yang menurut saya sama sekali bukan selera anak milenial.

Ingat, saya tidak mengatakan iklan tersebut tidak lucu. Masih punya potensi membuat orang tertawa, tetapi saya bisa cukup yakin yang tertawa bukan dari generasi muda usia 20an.

Jadi, rasanya kurang pas materi iklan tersebut dengan tagline PSI selama ini sebagai partainya anak milenial. Bahkan yang ada malah jadi bahan gunjingan mereka.

Barusan saya mampir ke youtube dan kemudian ketik keyword “reaction iklan PSI”, maka langsung muncul berderet video para Youtuber yang mencoba review iklan tersebut.

Saya coba tonton beberapa, saya memilih Youtuber yang usianya sekitar 20an. Hasilnya? Mereka kebanyakan merespon iklan tersebut dengan peniliain minus.

Saya bisa menarik asumsi bahwa iklan tersebut kurang tepat sasaran jika yang disasar adalah anak-anak milenial. Guyonannya tak sesuai selera mereka.

Akan tetapi jika ternyata tujuan iklan tersebut agar dibicarakan oleh milenial. Maka saya anggap iklan tersebut lebih dari sukses. Sebab banyak orang membahasnya, mereviewnya. Itu secara tidak langsung menggaungkan iklan tersebut. Meskipun gaungnya dalam aura negatif.

Ini hanya dari segi materi guyonan, belum lagi kita memandang komedi tersebut dari sudut kesenian. Melawak sebenarnya tidak sekedar materi lucu.

Saya pernah nulis materi lucu, yang saat membawakannya secara verbal tak ada yang tertawa, gagal. Tetapi ketika materi itu diomongkan oleh teman saya, banyak yang tertawa.

Kesimpulannya: perlu keseriusan untuk belajar, agar lucu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here