Ham

Perempuan muda cantik itu bernama Hamidah. Ham, begitu dia biasa dipanggil oleh orang-orang di desanya. Anak petani ini sejak belia sudah punya pertanda akan jadi kembang desa, wanita yang bakal jadi sorotan pemuda-pemuda kampung.

“Siapa yang menganiaya kamu, Ham?” tanya Royat, ayah Ham. Nampak petani tua itu gelisah melihat anaknya pulang dengan lebam di wajah, luka di tangan, dan baju yang sobek di beberapa bagian.

Ham tak menjawab. Ia hanya menangis, meronta. Momen seperti ini membuat Ham merindukan almarhum ibunya. Pasti dia bisa lebih bisa lebih tenang jika dibelai ibunya. Royat lelaki desa yang tak begitu luwes dalam menghadapi anak perempuan yang lembut itu.

“Cepat! Kamu bilang saja! Akan aku habisi orang itu,” Royat mulai membentak. Tak sabar dengan Ham yang hanya diam, bercampur amarah karena anak satu-satunya itu diperlakukan orang secara tak layak.

Teriakan-teriakan Royat membuat para tetangga datang. Ingin tahu. Beberapa tetangga mencoba menenangkan Royat dan mengorek keterangan dari Ham. Hingga akhirnya salah satu diantara tetangga itu memanggil pak RT.

“Kang Royat, tenang dulu. Duduk dulu,” kata Pak RT.

Kang Royat lantas duduk di kursi di depan Pak RT. Di antara mereka ada meja kecil kusam dengan sabit tajam ada di atasnya

Sementara itu, Ham duduk di dipan yang terletak di sudut lain, di ruangan yang sama. Ia tetap menangis, dipeluk Bu Suci, guru ngajinya dulu waktu masih kecil. Para tetangga sudah keluar, diminta Pak RT.

“Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti itu. Ham juga keterlaluan, tidak mau mengaku siapa yang menganiayanya,” suara Royat gemetar. Sedih dan marah bergumal menjadi satu, menyesakkan dadanya.

“Saya paham, Kang Royat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan Ham. Agar dia bisa tenang terlebih dulu. Semakin kita desak, dia malah tak mau bicara. Sepertinya dia ketakutan,” Pak RT coba menenangkan.

“Setelah ini saya akan lapor ke Kepala Dusun dan Kepala Desa,” lanjut Pak RT.

“Nduk, kamu ini kenapa? Siapa yang melakukannya?” Bu Suci coba merayu Ham sembari terus memeluk dan mengusap-usap kepalanya. Lukanya sudah dibersihkan, baju pun telah diganti.

“Saya takut, Bu Suci,” ucap Ham dengan suara lirih yang langsung disusul isak tangis yang semakin padat.

“Tenangkan dulu dirimu, jangan takut. Kami semua akan membantumu. Kamu tak harus ceritakan sekarang, nduk,” Bu Suci merayunya dengan sangat tenang.

“Begini saja, Kang Royat. Kita sama-sama ke Pak Kasun dan Pak Kades untuk melaporkan ini. Ham biar ditemani Bu Suci,” usul Pak RT yang disetujui Royat.

Sekitar sepuluh menit setelah Royat dan Pak RT keluar rumah, Ham melepaskan pelukan dari Bu Suci secara perlahan. “Siwo,” kata Ham lirih.

“Siwo? Siwo ponakan Pak Kades?” Bu Suci terkejut. Ham menjawabnya dengan anggukan pelan namun meyakinkan.

Bu Suci menarik nafas sangat dalam. Matanya tak fokus, memandang kiri kanan secara acak. Nampak benar dia sangat terkejut. Siwo juga murid ngajinya dulu waktu kecil. Sekarang gagah dan dianggap pria terpandang di desa itu. Selain memang masih punya hubungan keluarga dengan Pak Kades, Siwo perangainya selama ini tak menunjukan punya sikap buruk.

“Kamu, tidak salah orang, nduk?” Bu Suci bukan tak percaya Ham, hatinya masih kaget dengan apa yang didengarnya.

“Tidak salah,” kata Ham lirih. Ia kemudian menceritakan tentang bagaimana Siwo mencoba menggagahinya dan kemudian menyiksanya di sebuah gubuk.

“Tidak mungkin Siwo melakukan itu, Royat!” bentak Pak Kades. Ini kedua kalinya Royat dan Pak RT menghadap Pak Kades. Sebelumnya mereka datang untuk melaporkan Ham yang dianiaya dan kemudian datang lagi selepas Ham buka suara.

“Namun Ham mengatakan itu, Pak Kades,” bantah Royat.

“Ada saksi? Mana buktinya?” Pak Kades gusar. “Jika kamu tak bisa memberikan bukti, itu namanya fitnah. Saya bisa laporkan kamu ke polisi karena telah menfitnah ponakan saya. Siwo lelaki baik, kamu jangan ngarang cerita yang tidak-tidak!”

“Tapi…” Pak RT bersuara, tetapi sudah dipotong Pak Kades.

“Kamu jangan ikut-ikutan menebar fitnah,” kata Pak Kades sembari menuding Pak RT. “Sudahi masalah ini, jika terus-terusan kalian sebarkan berita ini maka saya tak segan-segan lapor polisi. Camkan itu!”

Siang yang terik itu memaksa Royat ke tepi sawah. Berteduh di bawah pohon jambu monyet sembari meminum air. Usianya tak lagi muda, Royat sudah terlihat payah menggarap sepetak sawah miliknya itu.

“Assalamualaikum, Kang Royat,” uluk salam itu membuyarkan kantuk Royat.

“Waalaikumsalam,” balasnya sembari menoleh ke belakang, arah sumber suara salam.

“Loh, Mas Jon?” Royat terkejut.

“Iya, kang. Saya baru balik. Bapak dan Ibu minta saya pulang ke desa.” kata pemuda yang bernama Jono itu.

Jono anak Pak Sukran, salah satu orang terkaya di desa. Royat dulu bekerja di Pak Sukran sebagai buruh. Saat Royat bekerja di situ, Jono masih kecil dan sering diajak main bersama. Oleh sebab itu, Royat cukup akrab dengan pemuda yang sudah beberapa tahun terakhir tinggal di kota tersebut.

Mereka berdua lantas bicara banyak tentang masa lalu. Saat Jono diajari menanam padi oleh Royat hingga ketika untuk pertama kalinya Jono dibantu Royat naik ke punggung sapi.

“Sebenarnya tujuan saya bertemu Kang Royat ini karena ada beberapa hal yang penting. Pertama, bapak ingin saya bisa dekat dengan anak Kang Royat, Ham,” kata Jono yang disambut senyum sumringah dari wajah Royat. Lelaki mana yang tak gembira anak gadisnya akan didekati pria kaya dan berpendidikan.

“Kedua, saya telah mendengar apa yang dialami oleh Ham dua tahun lalu. Oleh sebab itu saya ingin membantu mengungkap kembali kasus tersebut. Salah satu caranya adalah saya akan mencalonkan diri jadi kepala desa,” sambung Jono.

Royat tiba-tiba murung. Ia lantas mengingat tragedi yang menimpa anaknya itu. Dalam dadanya juga bergolak, seakan dendam lama itu mendidih kembali. Ia merasa ingin segera menghabisi Siwo, penjahat yang telah melukai anaknya.

Royat menggangguk. Ia memahami maksud Jono serta menyetujui rencananya. Dua hal yang menguntungkan dirinya. Anaknya dipacari anak orang kaya sekaligus bisa melampiaskan amarahnya yang terpendam selama dua tahun.

Sejak itu, Ham dan Jono beberapa kali jalan bersama. Tak jarang mereka berdua ke kota untuk jalan-jalan atau belanja keperluan toko yang dikelola Jono.

Jono menjanjikan akan menikahi Ham setelah terpilih jadi Kades. Ham mempercayainya hingga dia rela saja menyerahkan tubuhnya dinikmati Jono. Setiap ke kota, mereka berdua pasti menginap di hotel untuk melampiaskan hasrat.

“Aku akan melindungimu. Aku akan jadi lelaki yang akan menghabisi orang-orang yang pernah melukaimu,” kata Jono yang disambut senyum Ham. Mereka pun kembali berpelukan di atas ranjang hotel.

Royat pun dengan sukarela mempengaruhi tetangga dan warga kampung untuk memilih Jono di Pilkades nanti. Angannya melayang, dia akan jadi mertua seorang Kades. Ia pun akan melihat orang yang menganiaya anaknya dihukum.

Tetangga juga merasa perlu untuk mendukung Jono. Mereka selama ini juga merasa kesal karena penganiaya Ham masih berkeliaran karena dilindungi Pak Kades. Harapan mereka, nanti Siwo bisa dihukum atas tindakan kejinya dua tahun silam.

“Maaf, Pak Kades Jono sedang ke kota,” kata Suyat, pembatu Jono yang kini sudah menjadi Kades.

Air muka Royat langsung muram. Ini sudah lebih dari lima kali dia mencoba menemui Jono, namun selalu tak berhasil. Setahun sudah Jono menjadi Kades, selama itu pula Ruyat tak bisa lagi berkomunikasi dengan mantan kekasih anaknya itu.

Ruyat pulang dengan langkah gontai. Hatinya berkecamuk. Ingin marah namun tak mengerti bagaimana cara untuk murka. Ia hanya rakyat kecil yang telah didzalimi oleh orang-orang besar, mereka yang berkuasa.

Ruyat menangisi dirinya dan anaknya yang mesti menerima kenyataan pahit dua kali. Usianya yang masih sedemikian muda harus dihantam dua peritiwa pilu. Sekarang Ham pun harus menghadapi deraan lain, dicibir masyarakat.

Ham setelah dicampakan Jono pun kini hilang daya tariknya. Pemuda kampung enggan mendekat karena menganggap Ham tak lagi suci. Perempuan itu telah ditiduri Jono berkali-kali.

Ruyat duduk bersandar di pohon jambu mente di pinggir sawahnya. Pikirnya melayang, melamunkan hal-hal aneh.

“Misalnya aku diberi kuasa dan ijin untuk membunuh satu orang di dunia ini, siapa yang bakal aku tebas lehernya dengan sabitku ini?” tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak Ruyat.

“Siwo atau Jono? Aku akan memilih siapa?”

“Siwo yang telah menganiaya Ham dan kemudian sembunyi dibalik kekuasaan pamannya? ataukah Jono yang pura-pura akan melindungi Ham, berjanji ini itu, berkata manis, berjanji setinggi lagit, tetapi akhirnya berkhiatat?”

“Aaaah, bangsat kau Jonoooo…”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here