Tugas Berat Presiden Terpilih

Sedari awal saya kesulitan untuk menumbuhkan rasa penasaran tentang siapa yang bakal menang di Pilpres kali ini. Itu sebabnya ketika beberapa teman yang bertanya tentang hasil Pilpres, saya jawab sekenanya.

Bagi saya, yang penting bukan siapa yang menang, tetapi soal tugas beratnya untuk menetralisir polarisasi di masyatakat akibat pergolakan politik selama lima tahun terakhir. Butuh pemimpin yang punya keluasan hati sekaligus kecakapan untuk meredam gelegar perdebatan politik antar anggota masyatakat.

Presiden terpilih punya beban berat mengembalikan kedamaian, ketentraman serta setting ulang pemahaman demokrasi di setiap lapisan masyarakat.

Siapapun yang terpilih nantinya, saat masih belum mampu menempatkan dirinya mengayomi siapa saja, maka susah untuk berharap bangsa ini tak gaduh.

Siapapun yang terpilih nantinya, jika masih belum mampu menciptakan formula yang presisi agar terjadi rekonsiliasi antar elite, maka frasa “persatuan Indonesia” hanya akan menjauh dari kenyataan.

Kalau yang terpilih tak mampu mengendalikan pendukungnya agar tak mengumbar hinaan kepada yang kalah, tak bisa meminta simpatisannya untuk tak memperolok rival politinya yang kalah, maka susah untuk membebankan sebuah tugas besar kepadanya untuk mengendalikan Indonesia. Pendukungnya saja tak bisa diaturnya, bagaimana saya bisa percaya dia mengatur Indonesia yang jauh lebih kompleks?

Kalian yang masih gaduh, sengit dalam caci maki, maka sebaiknya jaga jarak dulu dengan istilah “Persatuan Indonesia”. Mana mungkin mulutmu menguar soal persatuan, namun dari mulut yang sama pula, kalian semburkan hinaan kepada pihak lain?

Jika masih sulit menanggalkan egomu untuk merendahkan kelompok lain, minimal jangan menambah level kejijikanmu dengan berceremah soal kendamaian.

Ketika hatimu masih menganggap bahwa ini adalah kemenangan kelompokmu, tanpa mampu membuat racikan yang presisi agar mengubahnya jadi kemenangan seluruh bangsa, maka sudahi dulu ocehanmu tentang nasionalisme. Sebab setiap kata-katamu soal nasionalisme itu membuatmu terkubur semakin dalam ke lubang kemunafikan.

Jika kalian pendukung yang menang, maka kewajibanmu adalah membantu dia yang terpilih untuk menjalankan tugas beratnya, menciptakan kedamaian.

Kalau kalian pendukung pihak yang kalah, maka kewajibanmu adalah menakar ulang hatimu. Apa yang lebih dulu kalian prioritaskan, kedamaian bersama ataukah yang lainnya.

Dan saya masih begitu ragu, siapapun yang terpilih akan bisa menjalankan tugas beratnya itu. Saya pun sangsi para pendukung yang menang atau yang kalah bisa menurunkan egonya. Oleh karena itu, saya sulit untuk membuat hati saya penasaran tentang siapa yang bakal menang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here