Belajar Munafik

Suatu hari saya dianggap keterlaluan ketika mengatakan anak-anak kita dibimbing jadi munafik oleh sekolah dan masyarakat. Saat itu saya memberikan salah satu contoh kasus dimana anak-anak diajari oleh gurunya tentang taat aturan lalulintas, namun ketika diantar dan dijemput orangtuanya, mereka tak pernah pakai helm. Bahkan bapak atau ibunya yang mengantar pun kerap tak kenakan pelindung kepala itu.

Lantas apa yang dicerna oleh anak-anak TK atas kejadian itu? Ya, mereka sejak dini sudah dicekoki oleh kemunafikan. Kata-kata yang didengar di sekolahan sama sekali tak sesuai dengan apa yang dilihatnya di luar sana. Kata-kata punya jarak sedemikian jauh dengan fakta, bahkan bisa bertolak belakang satu sama lainnya.

Apa yang bisa diharapkan pada situasi ini?

Ini tidak hanya di dunia pendidikan. Sederet peristiwa serupa bisa kita perhatikan di berbagai wilayah kehidupan sehari-hari. Silahkan tengok perpolitikan negeri ini, simak bagaimana elite partai politik bersuara, cermati bagaimana petinggi ormas-ormas itu dalam mengeluarkan pernyataan dan lain sebagainya.

Congor mereka dengan ringan mengucap sesuatu yang masyarakat, rakyat dan umat sangat paham jika faktanya tidak seperti yang diutarakan. Berbagai pernyataan manis di media begitu mudah keluar, padahal sudah jadi rahasia umum jika itu sangat berbeda kenyataanya. Hipokrit.

Bahkan, kini kita sudah tidak melihat itu semua sebagai ketidakjujuran atau bahkan kemunafikan. Masyarakat, rakyat dan umat begitu menikmati segala ketidakbenaran tersebut. Saking nikmatnya, mereka bersedia mengorbankan intelektualitasnya dengan mencarikan pembenaran-pembenaran.

Wabah kemunafikan tersebut menjalar ke lapisan paling bawah, tidak hanya para elite. Segala ketidakbenaran itu kemudian mendapatkan pemakluman, dianggap lazim. Dengan catatan jika yang melakukan adalah kelompoknya, organisasinya, parpol yang didukungnya dan seterusanya. Namun jika yang melakukan adalah pihak rival politik, maka dengan gegap gempita mereka berceramah soal kemunafikan, disertakan juga cacian dan makian.

Namun tidak semua, saya masih mendapati beberapa orang yang gelisah dengan itu semua. Misalnya teman saya ini, ia jengah dengan organisasi yang ia ikuti sejak turun temurun itu di lapangan terlibat aktif dalam pegerakan politik. Padahal, ia mendapati elite-elite organisasi di media terus menguar bahwa mereka dan organisasi yang dipimpin tak telibat dalam politik praktis.

Lebih sial lagi, organisasi yang ia cintai itu ternyata elitenya punya kecenderungan politik yang berseberangan dengan apa yang ia pilih. Dilema sekaligus sedih harus berhadapan dengan fenomena semacam itu.

Bagi mereka yang masih waras tentu akan gundah hatinya, berontak akalnya jika terus menerus mendapati ketidaksesuaian kata-kata dan fakta.

Kegundahan dan berontaknya akal sebagai tanda kewarasan. Jagalah itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here