Pemenang Pilpres dan Neraka yang Mengerikan

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan Calon Presiden nomer urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan KH. Ma’ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019.

Seperti diwartakan cnnindonesia.com, Jokowi-Ma’ruf memperoleh raihan suara sebanyak 85.607.362 suara atau 55,50 persen dari total suara sah 154.257.601 suara.

Sementara pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 68.650.239 suara sah atau 44,50 persen dari total suara sah. Hasil itu berdasarkan rekapitulasi nasional penghitungan suara Pemilu 2019 di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Saya sebenarnya ingin bernafas lega dan kemudian mengucapkan selamat, tetapi entah kenapa ada rasa yang sedemikian mengganjal dalam hati. Bukan soal tidak setuju siapa yang menang. Saya sendiri telah menulis ucapan selamat kepada Jokowi di status medsos beberapa jam setelah Pilpres. Ketika itu saya mengucapkan selamat dengan dasar perhitungan QC di televisi.

Tatkala sudah pengumuman resmi dari KPU, saya malam merasa punya beban untuk memberikan selamat. Rasa kemanusiaan saya terusik dan itu menghantui setiap kali ingin senang dengan berakhirnya proses demokrasi yang melelahkan ini.

Masak iya kita bisa bergembira dengan demokrasi yang menyisakan sebuah kepedihan atas meninggalnya lebih dari 500 petugas KPPS usai Pemilu?

Masak iya saya bisa merasa lega dengan perdebatan mengenai ratusan petugas KPPS yang meninggal itu? Sementara segala perdebatan itu bukan berangkat dari rasa kemanusiaan, namun berangkat dari ego pilihan politiknya.

Ada yang enggan mengungkapkan rasa hatinya, hasil analisis akal sehatnya mengenai tragedi tersebut, lantaran dirinya takut bisa berpengaruh pada kemenangan pihak yang dipilihnya.

Ada yang berapi-api mengungkit melayangnya ratusan nyawa itu, namun jika ditelisik dalam hatinya, apa yang ia kumandangkan itu bukan berakar dari rasa kemanusiaan, tetapi ingin memakai isu tersebut untuk menyerang kelompok politik yang tak ia dukung.

Ratusan orang harus kehilangan hidupnya, sementara saya harus bersuka atas pesta demokrasi ini? Maaf, saya berat untuk bisa sampai tahap itu.

Bahkan semenjak ada banyak berita kematian patugas KPPS dalam jumlah yang tak sedikit, saya mengurangi bicara politik di medsos.

Saya takut Tuhan menyediakan neraka paling mengerikan jika ternyata saya lebih mementingkan ego politik dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Saya sangat percaya Tuhan bisa saja menyiapkan karma pedih dikehidupan saya di hari-hari berikutnya jika ternyata tak bisa mempertahankan naluri kemanusiaan hanya karena ingin membela pilihan politik saya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here