Melihat Erdogan dan Bersyukurnya Orang Indonesia

Pada Juli 2016 silam, mata dunia terfokus pada gejolak politik di Turki. Dikabarkan ada upaya menggulingkan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Upaya makar yang gagal tersebut memicu tindakan tegas dari Erdogan.

Sejak saat itu, Erdogan menghantam siapapun saja yang dianggapnya Makar, terutama yang dituding punya afiliasi dengan rival politiknya, Fethullah Gulen.

Berdasarkan laporan yang diturunkan tirto.id, sedikitnya ada 150.000 pegawai negeri yang dipecat serta ada sekitar 100 jurnalis yang ditangkap. Bahkan ada puluhan ribu warga sipil yang juga diringkus. Kesemuanya dituding sebagai pihak yang membahayakan pemerintahan Erdogan.

Sikap Erdogan yang memburu kelompok Gulen sudah dilakukan sejak sebelum kudeta tahun 2016 tersebut. Pemerintah pusat di Ankara menyita ribuan paspor, menangkapi, mendeportasi, dan menjalankan sistem interogasi keras terhadap ribuan warga Turki yang sedang berada di luar negeri—termasuk mereka yang berstatus sebagai pencari suaka dan dalam perlindungan PBB.

Tindakan Erdogan tersebut menuai banyak komentar negatif. Pria kelahiran 26 Februari 1954 tersebut dianggap sebagai pemimpin yang diktator.

Beberapa aktivis demokrasi di Indonesia pun juga mengeluarkan komentar yang nyinyir. Erdogan dilabeli sebagai sosok yang tidak demokratis dan arogan.

Pemburuan terhadap siapapu yang menentang Erdogan tidak berhenti sampai saat itu saja. Sila googling dengan kata kunci “Erdogan tangkap oposisi”, pasti akan menemukan banyak berita mengenai pemerintahan Turki yang berusaha menghantam siapapun saja yang dituduh berseberangan dengan Erdogan.

Pada Agustus 2017, Dogan Akhanli, seorang penulis Jerman keturunan Turki yang dikenal kritis terhadap Presiden Recep Tayyip Erdogan telah ditangkap di Spanyol.

Juli 2018, empat lulusan universitas di Turki ditangkap karena dianggap menghina Presiden Erdogan saat acara wisuda mereka. Keempat orang tersebut membawa spanduk panjang bergambar kartun binatang yang wajahnya mirip Erdogan.

Agustus 2018, pemerintah Turki mengatakan jika 346 akun media sosial sudah berada dalam pengawasan pemerintah sejak 7 Agustus lalu. Ratusan akun tersebut dinilai telah mengunggah komentar soal lemahnya nilai mata uang lira terhadap dolar Amerika “dengan cara yang provokatif.”

Yang paling baru, Februari 2019, dilaporkan cnnindonesia.com, pemerintah Turki melakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang diduga terhubung dengan Gulen. Kegiatan itu tidak cuma terpusat di Ibu Kota Ankara, tetapi juga di 76 provinsi lainnya.

Sampai saat ini pemerintah Turki diperkirakan sudah menangkap 150 ribu warga sipil dan tentara yang disebut terlibat dalam jejaring Gulen. Mereka dianggap sebagai bagian dari upaya kudeta yang gagal.

Ada puluhan dan mungkin ratusan berita serupa itu di media-media dalam negeri maupun luar negeri. Memberikan gambaran betapa mengerikannya kehidupan demokrasi di Turki.

Seketika itu saya langsung bersyukur hidup di Indonesia yang iklim demokrasinya sedemikian sehat. Negara besar ini dipimpin oleh presiden yang hatinya lembut, tatapan wajahnya teduh, tindakannya menggambarkan betapa mulianya dirinya.

Jika dibandingkan apa yang menimpa rakyat Turki, maka warga negara Indonesia harus bersyukur punya presiden sehebat Haji Joko Widodo.

Di bawah kepemimpinan pria yang pernah menjadi imam sholat di Afganistan ini, Indonesia menjadi negara yang sangat terjaga nilai-nilai demokrasinya. Rakyat begitu mencintainya hingga kepelosok negeri. Berhasil menyelenggarakan pemilu terbaik sepanjang sejarah negeri ini berdiri.

Ir. Haji Joko Widodo, sosok yang pantas diberi gelar pahlawan toleransi. Ketegasannya membuat kelompok intoleran tak bisa berkutik.

Saya bisa membayangkan betapa bangganya warga negara Indonesia yang saat Pilpres kemarin memilih Haji Joko Widodo. Mereka pasti bisa menepuk dada secara bangga, bahwa karena merekalah Indonesia memiliki presiden yang terbuka terhadap kritik, tidak seperti Turki. Mereka pasti merasa berjasa telah ikut andil dalam menciptakan Indonesia yang damai dan sejahtera di bawah kepemimpinan pria religius yang menurut Idrus Marham punya suara yang merdu saat menjadi imam sholat.

Ya Allah, saya berdo’a agar orang semulia Haji Joko Widodo ini segera Engkau bebaskan dari beban-beban berat yang menimpanya dan berikanlah ia ganjaran atas amal perbuatannya selama ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here