Atta Halilintar Masuk Soal Ujian Pelajar SD, Kenapa Kaget?

Ketika masih duduk dibangku SD dan SMP, salah satu buku yang cukup popular di kalangan pelajar adalah buku RPAL dan RPUL. Ringkasan Pengetahuan Alam Lengkap (RPAL) dan Ringkasan Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL).

Buku tersebut cukup membantu pelajar dalam menghadapi ujian. Lebih umum lagi, buku itu seperti sebuah kitab yang bisa membuat seseorang menjadi terlihat pintar jika banyak menghafal isinya.

Waktu itu, strata kepintaran seseorang ditakar dari seberapa banyak hal yang dia ketahui. Seseorang dianggap punya level kepintaran tinggi jika mampu memiliki jawaban atas banyak pertanyaan umum. Nama danau terluas di dunia? Siapa presiden pertama Amerika Serikat? Nama pakaian adat suku Bugis? Serta banyak pertanyaan lainnya.

Bisa hafal semua itu, maka layak anak tersebut dikategorikan sebagai anak pintar.

Namun, seiring berjalananya zaman, timbul pergeseran. Jika dulu orang dianggap punya kelebihan jika bisa mengetahui banyak hal. Maka di era internet saat ini, di mana segala jawaban pertanyaan tersebut bisa dijawab secara cepat hanya dengan googling, keunggulan seseorang ditakar tidak tentang seberapa banyak dia tahu.

Era smartphone, seseorang bukan berlomba untuk mengetahui banyak hal, akan tetapi berlomba untuk bisa tahu lebih cepat. Orang-orang di masa internet menjadi kebutuhan primer ini, mereka berkompetisi untuk menjadi siapa yang paling dulu menginformasikan sesuatu.

Ada kecelakaan, yang dilakukan pertama adalah merekam dan share. Merasa menjadi unggul jika memiliki rekaman eksklusif sebuah kejadian yang baru saja terjadi.

Ada berita heboh, dengan cekatan jemarinya menekan tombol share. Dibagi-bagikan ke semua media sosialnya. Ingin menjadi yang pertama posting berita tersebut di group whatsapp.

Ini ada pergeseran. Saya tidak akan menilai pergeseran ini baik atau tidak. Saya sekedar memberikan gambaran bahwa memang ada perubahan perilaku sosial. Memang bisa ditampik dengan mengatakan tidak semua orang berubah, akan tetapi fakta secara umum tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini memang demikian keadaanya.

Selera publik secara umum pun mengalami perubahan. Pastinya banyak faktor yang mempengaruhi hal itu. Salah satunya tentang ingin selalu menjadi yang terupdate, maka pasar pun menyediakan sesuatu yang instan. Sesuatu yang diproduksi secara cepat, sehingga publik bisa menikmatinya sesegera mungkin.

Serial sinetron saat ini sudah hampir tak ada yang tanyang seminggu sekali. Semua kejar tayang, hampir tiap hari sinetron tersebut muncul di layar kaca. Bagaimana kualitas sinetron yang produksinya dikejar-kejar seperti itu? Sila bayangkan sendiri.

Ketika terjadi mutase selera, maka tidak perlu heran juga ketika melihat konten-konten internet yang populer adalah sesuatu yang jika dibandingkan dengan apa yang ditawarkan ke masyarakat pada jaman dulu maka hasilnya sangat signifikan.

Masih ingat kuis Tak Tik Boom? Bagaimana kualitas pertanyaanya? Lantas bandingkan dengan kuis-kuis jaman sekarang.

Belum lupa dengan Amir, Cici dan Ito dalam serial ACI Aku Cinta Indonesia? Serial yang disukai banyak orang ketika itu. Lantas, sila bandingkan dengan Atta Halilintar yang menjadi jawara di Youtube.

Maksud saya dengan membandingkan bukan fokus pada mana yang lebih baik. Namun untuk memberikan gambaran betapa memang ada perubahan selera masyarakat yang saling terikat dengan supply konten yang ditawarkan ke publik.

Meskipun saya termasuk yang tidak suka melihat video Atta, namun saya tidak menampik bahwa konten yang menurut saya buruk itu banyak disukai orang. Lebih dari 10 juta subscriber dimilikinya. Menjadi orang pertama di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara yang mampu memiliki lebih dari 10 juta subscriber di Youtube.

Ketika Atta sedemikian pupuler, ada fenomena lain yang muncul, yakni semacam ada resistensi terhadap apapun saya yang berkaitan dengan Atta dari segolongan masyarakat.

Orang-orang heboh lantaran muncul informasi yang menyebutkan bahwa ada soal ujian untuk siswa SD kelas V di Kota Serang yang menyebut-nyebut Atta Halilintar. Pertanyaan tersebut dianggap tidak cocok diberikan disebuah institusi resmi Pendidikan.

 

Saya lantas mengerutkan dahi. Apa yang kalian gemparkan dengan pertanyaan itu? Bukan kah itu sesuatu yang sangat mungkin terjadi?

Keluhan masyarakat mengenai munculkan soal mengenai Atta pun saya anggap berlebihan. Mereka membiarkan anaknya ber-Youtube ria tiap hari dan menjadi subscibernya Atta, namun saat sekolah memberikan pertanyaan mengenai Atta, mereka protes. Hellow!

Atta adalah sebuah kenyataan yang hampir mustahil dibendung meskipun sebagian orang merasa hal terbut kurang patut. Saya sendiri juga tak pernah punya kemampuan berfikir mengenai cara menyangkal ini semua.

Kesadaran itulah yang membuat saya telah menyiapkan mental jika ternyata anak-anakku seleranya sejenis Atta. Kesadaran tidak bisa membendung itu pula yang kemudian membuat saya berupaya sekuat tenaga menyiapkan formula pendidikan di rumah agar anak-anakku tetap bisa dalam koordinat yang tepat dalam menghadapi dunianya nanti.

Sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu saya pernah menulis bahwa anak-anak sekarang tidak seperti saat saya masih kecil. Dulu, saya dan teman-teman ditanya oleh orang tua mengenai cita-cita, maka seperti ada jawaban default dari anak Indonesia, hampir semua menjawab ingin menjadi seperti Habibie atau ingin bisa jadi dokter. Namun anak-anak sekarang jika ditanya cita-cita, saya curiga mereka akan menjawab ingin jadi Ariel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here