Ego Kreativitas dan Kepekaan Sosial

Pada suatu ketika ada seorang teman yang bertanya mengenai cerpen yang saya tulis. Dia bertanya mengenai tokoh yang adalah dalam cerita tersebut. “Kenapa menggambarkan tokoh itu berjubah dan berjenggot?” tanyanya.

Pernah juga seorang teman mempertanyakan coretan-coretan saya di kanvas, yang orang lain menyebutnya lukisan. “Kenapa ada huruf itu? Saya tak paham,” pesan yang ia kirim melalui whatsapp.

Saya bukan seniman, namun sejak dulu, ketika ada karya saya yang berkaitan dengan seni (meskipun saya agak sungkan menyebutnya sebagai karya seni), maka saya enggan menjelaskan apapun yang berkaitan dengan karya tersebut.

Sesuatu yang sudah saya sajikan ke publik, sepenuhnya tafsir saya serahkan kepada publik. Mau disalahpahami pun saya bakal terima. Jika ada pesan yang saya selipkan dalam karya tersebut dan kemudian tidak dipahami orang lain atau malah disalahartikan, itu saya anggap sebagai bagian dari karya itu sendiri. Ujung-ujungnya saya akan menyalahkan diri sendiri lantaran tak sanggup menyampaikan pesan dengan baik.

Namun kadang sebagai orang berkarya, interpretasi orang lain juga mengejutkan orang yang membuat karya itu sendiri. Tak bisa ditampik jika cara orang lain menterjemahkan sebuah karya terkadang malah tidak terpikirkan sebelumnya oleh yang membuatnya.

Orang bebas untuk mengitepretasikan sebuah karya. Entah dia punya disiplin ilmu atau wawasan mengenai karya tersebut atau dia hanya sebagai orang awam. Karya tersebut dilepas ke ruang publik, tentu saja semuanya boleh punya opini yang berbeda-beda.

Seniman punya kebebasan berkarya, publik pun punya kemerdekaan untuk menilai. Namun sebebas apa? Semerdeka apa?

Ketika sebuah karya itu dimaksudkan untuk menjadi milik orang banyak, maka perlu sensitifitas. Kepekaan sosial. Mau tidak mau, hasil karya tersebut nantinya akan dipakai oleh khalayak, bahkan pada suatu sudut pandang tertentu, karya itu dimiliki oleh mereka.

Opini publik perlu disaring, pandangan-pandangan mereka mestinya direkam, kultur dan kebudayaannya perlu dipelajari lebih dalam. Tujuannya, ketika menelurkan sebuah karya, tidak terjadi polemik berlebihan dari publik.

Saya ambil contoh Masjid Agung Demak. Sila pelajari lebih lanjut kenapa desain Masjid tersebut bisa sedemikian rupa? Saya teramat percaya bahwa bentuknya yang berbeda dengan desain Masjid pada umumnya itu dipengaruhi oleh kultur masyarakat setempat.

Entah itu bagian dari upaya syiar, toleransi atau apapun itu, namun saya yakin jika desan Masjid Agung Demak itu sebagai bentuk respon terhadap masyarakat sekitar yang waktu itu mayoritas beragama Hindu.

Masjid adalah sebuah bangunan yang pada akhirnya akan menjadi milik masyarakat. Sehingga desainya perlu kepekaan terhadap nilai-nilai kebudayaan masyarakat juga. Pada titik ini perancang atau arsiteknya ditantang untuk meramu ego kebebasan kreativitasnya dengan sensitifitasnya terhadap kondisi masyarakat.

JIka ada persepsi tidak baik terhadap karya yang saya buat, biasanya saya bakal menakar seberapa jauh “kesalahan” itu menyentuh isu-isu sensitif. Tetap saya tidak akan memberikan pembelaan terbuka, namun saya akan menurunkan ego untuk menyadari bahwa saya salah. Perbaiki jika mungkin, minta maaf jika memang sudah melewati batas.

Masjid As-Shafar yang dirancang oleh Ridwan Kamil belakangan menjadi polemik karena desainnya dinilai beberapa orang menyerupai simbol iluminati. Bagi saya itu bagian dari kebebasan publik dalam menginterpretasikan sesuatu yang akan mereka “miliki” nantinya. Masjid itu milik publik, bukan?

Ridwan Kamil kemudian berhadapan dengan ego kreativitasnya yang bergelut dengan kepekaannya terhadap kondisi publik yang nantinya bakal menjadi “pemilik” atas apa yang dirancangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here