Kegalauan Soal Zonasi yang Tak Perlu Solusimu

sumber: pexels.com

Saya selalu punya pemahaman bahwa tidak semua orang yang berkeluh kesah kepada kita itu sedang menunggu solusi. Dan jikapun sebenarnya dia sedang mencari solusi di mana secara keadaan kita tak mungkin memberikannya, maka hal paling bijak yang bisa kita berikan adalah empati.

Seorang teman datang ke rumah, bercerita ini dan itu tentang kesusahan yang selama ini dialaminya. Hal pertama yang saya lakukan adalah memberikan dia kesempatan untuk bicara sebanyak-banyaknya. Saya menempatkan diri sebagai ruang untuknya dalam mengeluarkan apapun saja yang menggalaukannya.

Sebisa mungkin saya menahan diri untuk menyela pembicaraanya, meskipun saya tahu ada yang tidak tepat dalam cara berfikir dan bersikapnya. Sembari saya terus menerka, apakah dia sebenarnya butuh jalan keluar atau sekedar ingin melampiaskan hasartnya untuk bercerita. Sebab, jika salah menerka, saya pun bakal keliru juga dalam bersikap, maka hasilnya bisa tidak baik.

Jika dia curhat hanya untuk curhat, maka saya menghidari kasih dia solusi atau menceramahinya dengan berbagai teori. Pasalnya, orang seperti ini, sementara hanya butuh ditemani.

Dengarkan dan selalu saya iyakan apapun saja yang dia katakana. Saya akan bercerita segala sesuatu yang selaras dengan apa yang dialaminya. Mencoba memahani bahwa dia saat ini dalam kondisi yang sulit.

Saya bisa bercerita mengenai apap yang pernah saya alami yang satu sudut dengan yang dialaminya saat ini. Kadang berkisah tentang orang lain, dan bahkan pernah saya harus mengarang cerita fiktif. Iya, Fiktif. Dia tidak akan protes, karena dia senang saat itu bisa dipahami atas apa yang menimpanya.

Belakangan banyak orang tua yang gelisah anak-anaknya menjadi punya kesulitan untuk bisa masuk sekolah negeri yang dicita-citakannya. Kebijakan mengenai zonasi pemenerimaan siswa baru di sekolah negeri ini membuat banyak orang kalang kabut.

Kebijakan zonasi ini secara pribadi saya anggap tujuannya baik. Namun tidak bisa dipungkiri jika teknisnya sedemikan mentah hingga membuat banyak orang gundah gulana.

Saya tidak akan memberikan pandangan saya soal baik buruknya kebijakan tersebut. Namun satu hal yang pasti adalah saya akan berusaha untuk mengeluarkan argumen yang proporsional agar orang tua yang tengah gelisah ini merasa dibela.

Mereka yang tengah bingung ini butuh ditemani, ceritanya perlu didengarkan sebagai upaya kita dalam berempati atas apa yang mereka alami saat ini.

Saya akan mengeluarkan pendapat yang paling tidak selaras dengan segala problem mereka. Saya bakal bercerita kisah-kisah yang paling tidak bisa satu frekuensi dengan apapun yang mereka tengah kesali.

Rasanya mereka tidak butuh solusi dari saya. Posisi saya hanya orang awam, dimana tidak ada pejabat manapun yang mau mendengar segala analisis saya mengenai kacaunya kebijakan zonasi tersebut.

Mereka tahu posisi saya, oleh sebab itu mereka tidak bakal minta yang ndakik-ndakik kepada saya. Paling jauh mereka bisa “terhibur” jika ada yang memahami apa yang mereka gundahkan. Posisi itu yang coba saya kejar, menemani.

Saya tak pernah khawatir soal solusi. Tidak ada orang tua yang tak mencari jalan keluar atas problem pendidikan anaknya. Mereka teriak bukan karena tak punya rencana berikutnya saat rencana awalnya digagalkan oleh kebijakan pemerintah. Segala teriakan mereka bisa saja hanya karena merasa diperlakukan tak adil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here