Zonasi, Keadilan Dengkulmu Anjlok

Kuletakkan gelas kopi itu ke meja selepas kuseruput seteguk. Tutup gelas terbuat dari plastik yang sudah kusam aku letakkan di bibir gelas. Biar kopi itu tetap hangat, aku berencana ngobrol lama dengan mereka di warung kopi ini.

Sulam, sudah hampir setengah jam aku biarkan mengomel soal penerimaan siswa baru di sekolah yang memakai aturan zonasi. Ia menceritakan bagaimana ponakannya kesulitan masuk ke sekolah negeri, kakaknya sudah pontang panting, bahkan sampai ikut demonstrasi.

“Sistem yang tidak adil, ponakanku itu pinter sebenarnya,” gerutunya.

Aku menahan diri untuk sementara, tak ingin memotong pembicaraan sahabatku itu. Biarkan saja dia meluapkan kekecewaanya. Tiba saatnya nanti aku akan memberikan penjelasan kepadanya tentang apa itu keadilan.

“Aku juga dengar banyak cerita mengenai orang tua yang mulai panik lantaran anaknya tak bisa sekolah negeri hanya karena rumahnya jauh dari sekolah negeri,” timpal Agus, salah satu temanku juga.

“Iya benar, kakakku juga tak bisa sekolahkan anakknya di sekolah negeri karena domisilinya jauh dari sekolah negeri manapun,” kata Sulam.

“Begini ya, teman,” aku mulai bicara. “Ini adalah sistem yang sudah dirancang oleh pemerintah. Orang-orang terpilih sudah memikirkan program ini secara baik. Tujuannya adalah pemerataan pendidikan nasional. Kalian jangan memikirkan diri sendiri, pikirkan kepentingan orang banyak, kepentingan nasional,” ocehku dengan nada menggebu.

Sulam dan Agus terdiam, kaget dengan ketidaksetujuanku pada mereka. Mungkin mereka mengira aku bakal mengiyakan apapun yang mereka keluhkan.

“Ini soal keadilan,” aku melanjutkan. “Keadilan itu tidak selalu identik dengan semua dapat yang sesuatu yang sama,” aku terus mengoceh dengan suara agak meninggi.

“Plak!” tiba-tiba ada telapak tangan dengan lima jari ukuran besar-besar menghantam mulutku. Sebuah tangan dengan kulit sedikit keriput itu datang dari arah belakangku.

Meneng’o cocotmu, mingkem’o cangkemu,” kata pemilik tangan itu. Sementara mulutku terasa sakit. Kuperiksa dengan jariku apakah bibirku berdarah atau tidak.

“Keadilan matamu sobek! Keadilan apa yang membuat anak satu desa ketutup kemungkinan masuk sekolah negeri hanya karena tak ada satupun sekolah negeri yang terjangkau dari desanya?” Ia melotot kepadaku.

Aku semakin bingung, sebab tak kenal dengan dia sebelumnya. Aku menoleh ke Sulam dan Agus, mereka pun sepertinya tak mengenal. Namun dari air wajahnya, aku melihat mereka senang ada yang menampar mulutku.

“Kau boleh lulusan sarjana, S2 atau doktor sekalipun. Namun jika cara berpikirmu seperti tadi, maka sudah membuat saya yakin jika hatimu busuk. Otak pintarmu itu terlalu tinggi hingga tak mampu menyentuh problem-problem orang bawahan. Sombongmu sundul langit! Bangsat, kamu!” bentaknya dengan jari telunjuk kanan menuding-nuding ke mukaku.

Aku berusaha tenang, namun harus aku akui jika cukup takut juga. Siapa dan apa maksud bapak ini?

“Anak-anak desa ini, tiap hari belajar dengan faslisitas seadanya, tak seperti fasilitas yang dimiliki anak-anak kota. Anak desa mengejar cita-citanya untuk bisa sekolah di tempat terbaik, salah satu cara yang mereka yakini selama ini adalah dengan memperoleh nilai ujian yang baik. Tetapi proses yang mereka jalani bertahun-tahun dihempaskan begitu saja dengan sebuah keputusan zonasi tai kucing itu,” kali ini, lelaki tua itu memandangi semua yang ada di warung.

“Keadilan dengkulmu anjlok! Anak-anak desa ini tak begitu pintar, lantas dipaksa bersaing dengan banyak orang untuk berebut kuota jalur prestasi yang kuotanya begitu kecil.” Matanya menyala.

“Orang-orang yang tinggal jauh dari sekolah negeri kandas cita-citanya hanya karena negara selama ini tak pernah bikin sekolah negeri di wilayah mereka tinggal. Keadilan matamu picek!”

“Orang tua dengan penghasilan seadanya, selama bertahun-tahun merencanakan anaknya bersekolah di negeri agar bisa menghemat biaya pendidikan, sekarang terpaksa memasukan anaknya ke swasta. Alasanya, dia tidak tinggal dekat dengan sekolah negeri. Keadilan opo, cuk?”

Orang tua ini terengah-engah setelah memaki-maki dengan suara terus meninggi. Aku hanya mampu tertunduk. Sulam, Agus dan hampir seluruh orang diwarung itu hanya diam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here