Susu Pilpres, Chiki Demokrasi

Saat kita memperhatikan bungkus makanan ringan (chiki) yang kita beli di swalayan-swalayan, di sana tertera informasi mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam memproduksi makanan tersebut. Selain bahan utama, disebutkan juga bahan-bahan tambahan misalnya pewarna makanan, pengawet dan lain sebagainya.

Penggunaan bahan-bahan tambahan tersebut oleh negara diijinkan selama tidak melebihi batas yang telah ditentukan. Seberapa banyaknya kita mendengar bahaya mengkonsumsi MSG, maka tetap diperkenankan oleh negara melalui undang-undangnya untuk memproduksi pangan dengan bahan tambahan itu. Selama tidak melebihi batas yang telah diatur.

“Nila setitik rusak susu sebelanga”. Sebuah peribahasa yang sudah begitu familiar di masyarakat Indonesia. Tafsirnya bisa beragam, namun secara umum memberi gambaran bahwa ada hal kecil yang mampu merusak kemuliaan sesuatu yang besar.

***

Makanan ringan dan susu. Dua hal ini kerap saya pakai untuk menakar segala sesuatu yang tengah saya hadapi. Bisa saya seret ke pekerjaan sehari-hari, bisa tentang cara mendidik anak dan lain sebagainya.

Ketika akan memutuskan sesuatu, maka saya mengidentifikasi apakah sesuatu itu levelnya makanan ringan atau susu yang menyehatkan dan diperlukan? Saat menemui ada masalah, saya mencoba menakar problem-problem yang masuk ke makanan itu sifatnya adalah racun (nila) atau sekedar pewarna makanan? Termasuk diantaranya mengukur kadarnya seberapa banyak, masih dalam takaran yang bisa ditolelir atau sudah pada level berlebihan?

Banyak hal yang bisa tarik ke formula ini. Misalnya soal Pilpres atau Demokrasi. Saya mencoba mengidentifikasi, apakah Pipres saya perlu padang pandang sebagai susu? Apakah demokrasi ini dikategorikan chiki?

Setelah itu melangkah ke level selanjutnya. Apakah politik uang itu sekedar pewarna makanan? Apakah manipulasi data itu ibarat pemanis buatan saja? Apakah kecurangan itu nila?

Akan sangat lebar dan luas kemungkinan jawaban serta penjelasannya. Paling tidak, dengan identifikasi-identifikasi seperti itu bisa membantu saya tidak terlepas dalam tata nilai kehidupan. Tidak abai pada yang sebenarnya penting dan tidak lebay pada sesuatu yang tak genting.

Negara, keluarga, Pilpres, demokrasi, parpol dan lain sebagianya bisa diletakkan secara presisi di sistem nilai diri kita masing-masing. Salah satu cara yang saya pakai adalah memakai analogi makanan ringan atau susu tadi.

Bahkan setelah kita bisa mengidentifikasi soal Pilpres itu chiki atau susu, Demokrasi itu cemilan atau makanan pokok, saya masih memaksa mengidentifikasi diri sendiri. Jangan sampai saya bukan manusia? Jangan-jangan saya seekor babi yang tak pernah peduli apakah itu makanan ringan atau susu, semua dilahap dan dianggap penting. Jangan sampai saya adalah makhluk yang sedemikian bodoh hingga tak mampu mengendus ada racun dalam setiap tegukan susu yang kita minum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here